Pihak kepolisian kembali melakukan olah TKP di rumah siswi kelas 5 SD berinisial B (11), yang ditemukan tewas di Dukuh Bromoasri, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. Garis polisi masih terpasang di sekitar lokasi.
Pihak kepolisian masih memeriksa rumah korban. Nampak, sejumlah warga sekitar turut melihat proses olah TKP yang dilakukan pihak kepolisian.
Satu unit mobil Inafis disiagakan di depan rumah korban. Sejumlah personel kepolisian bersiaga mengamankan jalannya proses olah TKP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari, mengatakan olah TKP dilakukan tim Reskrim Polres Sragen bersama Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng.
"Kami dari tim Polres Sragen, gabungan juga dengan Ditreskrimum Polda Jateng saat ini tengah terus melakukan pendalaman. Pagi ini masih melakukan olah TKP kembali. Kami mohon doanya masyarakat semua, semoga kasus ini segera dapat terungkap," kata Dewiana kepada awak media di Mapolres Sragen, Sabtu (6/6/2026).
Korban sendiri sudah dimakamkan di makam Prayungan, Desa Dawung sekira jam 09.00 WIB. Karena rumah korban masih dalam proses penyelidikan, rumah duka berada di rumah kakek korban di Dukuh Prayungan.
Kapolres mengatakan, selain melakukan olah TKP, pihaknya juga memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap kasus ini.
"Tadi malam kami masih melakukan interogasi saksi-saksi di TKP, sekitar 3 orang, dan ini akan terus bertambah," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Warga Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Sragen digegerkan oleh penemuan jasad seorang bocah perempuan berusia 11 tahun di dalam rumahnya. Korban yang diketahui berinisial B (11), seorang siswi kelas 5 SD, ditemukan tewas mengenaskan dengan kondisi tubuh penuh luka.
Kepala Desa Dawung, Aris Sudaryanto, mengonfirmasi adanya peristiwa dugaan penganiayaan berat tersebut. Sepeda motor milik orang tua korban juga dilaporkan hilang dari lokasi kejadian.
"Ibunya pulang kerja sekitar jam 4 sore, lalu histeris (melihat kondisi anaknya). Mendengar itu, Mbah Wadi (warga sekitar) datang melihat, lalu langsung melapor ke RT dan diteruskan ke saya," ujar Aris saat ditemui di lokasi kejadian, Jumat (5/6/2026) malam.
Saat dirinya tiba di lokasi, kondisi rumah sudah ramai. Ia langsung bergegas masuk dan mendapati korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa dengan luka parah di beberapa bagian tubuhnya.
"Kondisi jenazah banyak bekas bacokan, di bagian tangan dan muka. Bahkan mukanya sudah tidak berbentuk. Di lantai juga banyak bekas telapak kaki, kondisinya (darah) sudah kering. Karena itu, langsung saya suruh warga keluar semua dan melarang ada yang memfoto," jelasnya.
Menurut Aris, saat kejadian korban berada di rumah seorang diri. Kedua orang tuanya diketahui sedang pergi bekerja sejak pagi hari. Lingkungan sekitar rumah korban juga cenderung sepi saat siang hari karena mayoritas tetangga bekerja sebagai petani tebu dan pedagang.
"Korban ini anak tunggal, anak bawaan dari ibunya. Ayah kandungnya sudah meninggal, lalu ibunya menikah lagi dengan Pak Sukardi. Mereka juga baru sekitar 3 bulan pindah dan menempati rumah baru ini," tambah Aris.
Saat ditemukan, korban bahkan dilaporkan masih mengenakan seragam sekolah pramuka.
"Masih mengenakan seragam saat ditemukan," ucapnya.
"Sepeda motor hilang," pungkasnya.
(ahr/ahr)
