Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi menyebut bakal mengubah alokasi anggaran dalam APBD Perubahan 2026 untuk memaksimalkan pekerjaan perbaikan jalan.
Luthfi mengatakan, saat ini perbaikan jalan terus berlangsung, termasuk di Kabupaten Blora yang sebelumnya sempat viral. Sejumlah ruas jalan yang kondisinya belum maksimal juga akan menjadi prioritas dalam perubahan anggaran mendatang.
"(Perbaikan Jalan Cepu-Randublatung) Saat ini jalan, kita jalankan. Bahkan September nanti kita ubah terkait dengan anggaran perubahan. Jalan-jalan yang belum maksimal kita maksimalkan," kata Luthfi saat ditemui wartawan di Semarang, Kamis (4/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luthfi mengatakan, Pemprov Jateng telah mengalokasikan anggaran besar untuk penanganan jalan di Blora. Dia bilang, pada 2025, anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 75 miliar, terdiri atas Rp 45 miliar untuk jalan provinsi dan Rp 30 miliar untuk jalan kabupaten/kota.
"Kalau masih ada lubang-lubang harus kita rekonstruksi kembali," ucapnya.
Saat ditanya soal ruas jalan yang mendapat prioritas selain jalan Cepu-Randublatung, Blora, Luthfi mengatakan masih banyak jalan yang membutuhkan perhatian pemerintah provinsi.
"Banyak. Tapi prinsipnya itu menjadi prioritas kita," ujarnya.
Luthfi mengakui anggaran untuk perbaikan jalan mengalami penurunan. Karena itu, Pemprov Jateng akan melakukan penyesuaian sejumlah pos anggaran dalam APBD Perubahan.
"(Ada penurunan anggaran untuk perbaikan jalan?) Makanya itu nanti ada perubahan, nanti kita rubah pokir-pokir (pokok pikiran) dan lain sebagainya, kita revitalisasi," katanya.
Luthfi berujar, evaluasi kondisi jalan akan dilakukan kembali di musim kemarau ini. Hal itu karena kerusakan jalan bertambah setelah musim hujan yang berlangsung cukup lama.
"Musim penghujan kita itu panjang sekali. Hari ini sudah mulai musim kering, maka kita harus cek lagi," tuturnya.
"Kemarin sudah rapat, dinas kita rapatkan, kita cek lagi mana yang mempunyai jalan yang belum sampai mantap atau jalan yang rusaknya berat," imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pekerjaan Rumah (DPUPR) Jateng, Henggar Budi Anggoro mengakui terjadi penurunan signifikan dari sisi anggaran dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1 triliun.
"Anggarannya sekitar Rp 320 miliar, untuk penanganan jalan berlubang di seluruh balai. Jauh turunnya, sebelumnya Rp 1 triliun. Makanya sekarang rada bingung tapi ya pokoknya kita jalankan seoptimal mungkin," kata Henggar di Kantor DPU BMCK Jateng, Jumat (27/2/2026).
Anggaran tersebut, kata Henggar, masuk kategori mandatory spending yang bersumber dari pajak kendaraan bermotor (PKB) dan harus dialokasikan untuk perbaikan jalan.
"Pokoknya anggaran itu dari APBD. Menurun karena transfer ke daerah juga berkurang. Tapi ya pokoknya kita jalankan seoptimal mungkin," ujarnya.
Meski begitu, ia menyebut tingkat kemantapan jalan provinsi di Jawa Tengah sudah mencapai 94 persen dari total panjang 2.440,1 kilometer. Sehingga beban perbaikan jalan tidak seberat sebelumnya.
"Yang paling sering merusak itu (truk) ODOL (over dimension over loading). Tapi sekarang juga banyak drainase ditutup bangunan, akhirnya air lewat jalan dan bikin aspal cepat rusak," ungkapnya.
Menanggapi banyaknya ruas jalan yang aspalnya rusak akibat tergenang hujan, menurut Henggar, perbaikan jalan menggunakan beton menjadi solusi. Namun, beton bisa memakan anggaran tiga kali lebih banyak dibanding aspal.
"Kalau sering terendam, paling efektif pakai beton. Tapi anggarannya lebih tinggi, bisa tiga kali lipat dibanding aspal. Misa Rp 75 miliar awalnya bisa untuk 4 kilometer aspal. Tapi jadi cuma cukup sekitar 850 meter kau beton," tuturnya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, Henggar memastikan pihaknya tetap berupaya maksimal agar jalan provinsi aman dan nyaman dilalui pemudik.
"Prinsipnya pokoknya sing penting jalani. Sing penting nanti Lebaran lah mungkin. Insyaallah kalau saya punya pasang target 2 minggu sebelum lebaran tak suruh selesai," pungkasnya.
(dil/alg)
