Eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mengaku dilarang menghadiri agenda diskusi di lingkungan kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES). Pihak kampus dan BEM pun buka suara.
Kabar itu viral usai diunggah akun Instagram pribadi Tiyo, @tiyoardianto_. Tiyo menyebut dirinya dicekal birokrat kampus untuk hadir sebagai pembicara dalam agenda diskusi yang telah direncanakan sejak lama gegara sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua BEM UGM.
"Di Universitas Negeri Semarang saya dilarang diskusi karena paranoia birokrasi. Terima kasih," tulis akun @tiyoardianto_, dilihat detikJateng Selasa (26/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alasan para birokrat kampus hanya karena saya sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua BEM UGM. Sebuah alasan yang rasanya tidak masuk akal bagi siapapun," lanjutnya.
Ia juga menyinggung kampus seharusnya menjadi ruang bebas bagi pertukaran gagasan dan bukan malah melakukan pembungkaman terhadap kebebasan berbicara.
"Saya percaya bahwa untuk bicara tentang penderitaan rakyat kita hanya butuh kebersihan hati dan kemauan belajar, bukan jabatan," ucapnya.
Menanggapi hal itu, Presiden BEM UNNES, Septia Linasari mengatakan, kegiatan yang dimaksud merupakan agenda dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNNES.
"Hima sudah mengajukan nama Kak Tiyo sebagai pembicaranya. Namun h-2 dicancel (dibatalkan). Dengan alasan terkait kepakaran Kak Tiyo," kata Septi saat dihubungi detikJateng.
"Dirasa bahwa tidak ada relevansi dengan acara yang diadakan Hima, di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik gitu," lanjutnya.
Tema besar diskusi itu berkaitan dengan kebebasan berbicara atau freedom of speech, dengan pembahasan lebih spesifik mengenai seni berbicara di media sosial.
BEM UNNES pun memilih melakukan konsolidasi dan propaganda secara daring untuk menyikapi persoalan tersebut. Sebab, mahasiswa banyak yang pulang kampung jelang libur Idul Adha, sehingga aksi secara langsung dinilai kurang efektif.
"Kita tetap berdiri di atas kebenaran dan keadilan. Bukan membela UNNES karena kampusku atau membela Kak Tiyo, tapi bagaimanapun kita membela kebenarannya," ujarnya.
Ia mengaku tak langsung percaya mendapatkan informasi dari Tiyo. Namun, usai melakukan pengecekan, ia membenarkan bahwa cerita Tiyo benar adanya.
"Di sini kita sepakat tidak ada narasi yang dipelintir dari Kak Tiyo, memang benar adanya, setelah dikonfirmasi," ucapnya.
Sementara itu, Wakil Dekan FISIP UNNES, Fadly Husain membantah adanya pelarangan terhadap Tiyo untuk berdiskusi di kampusnya.
"Untuk hal itu sama sekali kami tidak pernah melarang Mas Tiyo dalam kegiatan diskusi. Saya pikir miskomunikasi saja," kata Fadly melalui pesan singkat kepada detikJateng.
Fadly menyebut, Tiyo juga pernah hadir di FISIP UNNES pada 2025 atas undangan BEM FISIP dan tidak ada persoalan. Menurutnya, pihak fakultas hanya melakukan penyesuaian narasumber.
"Mungkin cara kami khususnya panitia menyampaikan ke Mas Tiyo yang kurang pas, sehingga Mas Tiyo mempersepsikan ini penolakan. Sama sekali tidak, mbak," ujarnya.
Ia menyebut UNNES selalu menjunjung kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik. Penyesuaian narasumber itu, dilakukan karena tema inti kegiatan berkaitan dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia pada 3 Mei.
"Untuk itu, kami menyesuaikan narasumber yang berasal dari sebuah lembaga pers yang kebetulan bekerja sama dengan FISIP," tuturnya.
(alg/apu)
