Kisah Anak TKW Lulusan SMA CT Arsa Diterima di 5 Kampus Top Dunia

Kisah Anak TKW Lulusan SMA CT Arsa Diterima di 5 Kampus Top Dunia

Tara Wahyu NV - detikJateng
Jumat, 22 Mei 2026 07:01 WIB
Nazril Romijwa Cahyadi (17) ditemui di SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo, Kamis (21/5/2026)
Nazril Romijwa Cahyadi (17) ditemui di SMa Unggulan CT Arsa Sukoharjo, Kamis (21/5/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng
Sukoharjo -

Nazril Romijwa Cahyadi (17), remaja asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berhasil diterima di lima universitas bergengsi luar negeri sekaligus setelah lulus dari SMA CT Arsa Sukoharjo. Nazril sendiri merupakan anak seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang saat ini tengah berjuang mencari nafkah di Taiwan.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan jarak, hal itu tak menyurutkan langkah Nazril untuk meraih cita-citanya. Nazril sendiri berhasil diterima di lima kampus top meliputi Wageningen University Belanda, University of Toronto Kanada, Monash University Australia, Curtin University Australia, dan Adelaide University Australia.

Dari kelima pilihan tersebut, Nazril memantapkan hatinya untuk terbang ke Kanada. Ia memilih University of Toronto dengan fokus jurusan Neuroscience di bawah Fakultas Life Science.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau saya dipenginin banget itu di Toronto, sih. Karena kalau alasan secara teknis, di Beasiswa Garuda itu yang menyediakan jurusan neuroscience hanya ada di Toronto," ujarnya kepada detikJateng, Kamis (21/5/2026).

Alumni SMP Negeri 1 Banyubiru itu memilih kampus tersebut karena tertarik pada ilmu saraf atau neuroscience. Lebih lanjut, Nazril mengaku terinspirasi oleh salah satu musisi asal Kanada, Grimes, yang juga mempelajari ilmu tersebut dan menerapkannya dalam karya musik.

ADVERTISEMENT

"Dia (Grimes) kuliah di Kanada juga jurusan neuroscience. Dia menerapkan teori-teori dalam psikologi itu dalam lagu-lagunya, dan menurut saya lagunya bagus-bagus. Akhirnya pengen juga ke sana, penasaran tertarik dengan dunia psikologi juga. Dan karena saya juga suka pelajaran biologi-kimia," ujarnya.

Meski begitu, mimpinya untuk bersekolah di Kanada sempat terganjal restu sang ibu yang khawatir karena jarak Kanada yang terlampau jauh dari Indonesia.

"Mungkin awalnya pas saya ngomong mau ke Kanada, ibu saya tuh kayak 'Aduh jangan, kejauhan, nanti nggak bisa jenguk'. Sempat khawatir juga," kenang Nazril.

Namun, lewat komunikasi yang dijalin dan penjelasan yang logis, Nazril akhirnya berhasil meluluhkan hati ibundanya.

"Cara meyakinkan dengan komunikasinya dijaga lebih baik dan juga kalau ngasih alasan ke orang tua itu yang masuk akal dan bener-bener sesuai keinginan," tambahnya.

Keberhasilannya itu tidak datang begitu saja. Sejak tahun 2019, sang ibu sudah bekerja di Taiwan. Dirinya kemudian tinggal bersama budhenya di Semarang, sebelum akhirnya mendapat info beasiswa penuh di SMA CT Arsa Foundation dari kepala sekolah SMP-nya dulu.

"Pertama kali lihat tulisan beasiswa gratis penuh tuh saya langsung pengen masuk," kata remaja berusia 17 tahun ini.

Kehidupan di SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo mengubah hidupnya. Ia mengaku sempat mengalami culture shock karena ritme hidup asrama yang sangat disiplin.

"Ada (culture shock). Karena saya orangnya susah bangun tidur, jadi saya masih kesusahan dulu pas awal-awal. Harus bangun jam 3 pagi buat antre mandi, buat nyuci, dan persiapan sekolah," ungkapnya.

Beruntung, lingkungan asrama yang suportif membantunya beradaptasi dengan cepat.

"Untungnya dengan banyak dukungan di sini dari bapak-ibu guru, bapak-ibu wali asrama, dan teman-teman semuanya, saya alhamdulillah sudah bisa berubah menjadi lebih baik," pungkas Nazril.




(alg/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads