- Apa Itu Virus Ebola?
- Apakah Virus Ebola Bisa Menyebar Lewat Makanan?
- Cara Virus Ebola Menular 1. Penularan Melalui Manusia 2. Penularan Melalui Benda 3. Penularan Melalui Hewan
- Gejala Virus Ebola yang Perlu Diwaspadai
- Apakah Ebola Berbahaya?
- Apakah Ebola Bisa Disembuhkan?
- Cara Mencegah Penularan Virus Ebola
Virus Ebola kembali menjadi perhatian dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menetapkan wabah Ebola di Afrika sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional. Kekhawatiran publik pun meningkat seiring munculnya laporan penyebaran kasus yang menyebabkan puluhan korban jiwa.
Dilansir detikHealth, wabah yang kali ini terdeteksi disebut disebabkan oleh virus Bundibugyo, salah satu varian langka Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui secara luas. Kondisi tersebut membuat penyebaran virus ini menjadi perhatian serius berbagai negara.
"Anda pasti sudah melihat bahwa kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional," ujar juru bicara PBB Farhan Haq, dikutip dari detikHealth, Sabtu (17/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meningkatnya kasus Ebola di sejumlah negara juga memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, termasuk mengenai bagaimana virus ini menular dan apakah Ebola bisa menyebar lewat makanan. Pasalnya, virus ini diketahui dapat berpindah melalui cairan tubuh manusia maupun hewan yang terinfeksi.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami gejala, cara penularan, hingga langkah pencegahan Ebola agar dapat lebih waspada dan tidak mudah terpapar informasi keliru. Berikut penjelasan lengkap mengenai virus Ebola, termasuk risiko penularannya lewat makanan serta cara mencegah penyebarannya.
Apa Itu Virus Ebola?
Virus Ebola adalah salah satu penyakit berbahaya yang memiliki potensi menjadi wabah dan bisa menyebabkan kematian pada manusia apabila tidak segera diobati. Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatann, virus ini diperkirakan menular dari kelelawar buah yang berasal dari keluarga Pteropodidae dan inang alami virus Ebola. Masa inkubasi virus ini antara 2 sampai 21 hari dan paling sering antara 4 sampai 10 hari.
Virus ini menyerang manusia melalui kontak dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang telah terinfeksi virus Ebola. Kemudian, Ebola menyebar dari satu manusia ke manusia lainnya melalui kontak langsung.
Dirujuk dari artikel 'Ebola Virus Disease- Masalah Diagnosis dan Tatalaksana' tulisan Andi Putra Jayanegara, virus Ebola berasal dari genus Ebolavirus, familia Filoviridae. Virus ini mengandung molekul lurus dan RNA negatif. Genus Ebolavirus terdiri dari 5 spesies yang berbeda, yaitu:
- Bundibugyo ebolavirus (BDBV)
- Zaire ebolavirus (EBOV)
- Reston ebolavirus (RESTV)
- Sudan ebolavirus (SUDV)
- Tai Forest ebolavirus (TAFV)
Apakah Virus Ebola Bisa Menyebar Lewat Makanan?
Penyebaran virus Ebola melalui makanan memang dapat terjadi dalam kondisi tertentu, terutama apabila seseorang mengonsumsi hewan pembawa virus yang tidak diolah dengan baik atau masih mentah. Namun, penularan melalui makanan bukan jalur utama penyebaran Ebola.
Dalam artikel "Ebola Virus Disease- Masalah Diagnosis dan Tatalaksana" karya Andi Putra Jayanegara dijelaskan bahwa virus Ebola pertama kali ditemukan di Afrika bagian tengah dan selatan pada 1976. Kemunculan penyakit ini dikaitkan dengan kebiasaan konsumsi daging hewan liar (bushmeat) di sejumlah wilayah Afrika.
Daging hewan liar yang telah terkontaminasi virus Ebola dapat menjadi media penularan kepada manusia, terutama apabila proses pengolahan dan pemasakan tidak dilakukan secara higienis atau matang sempurna. Hewan yang diketahui dapat membawa virus ini antara lain kelelawar buah, monyet, dan beberapa satwa liar lainnya.
Selain itu, makanan juga berpotensi menjadi media penularan apabila telah terkontaminasi cairan tubuh penderita Ebola, seperti darah, muntah, atau cairan tubuh lainnya. Oleh sebab itu, kebersihan makanan dan proses penanganannya menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Meski demikian, detikers tidak perlu terlalu khawatir. Hingga saat ini, penularan Ebola yang paling umum dan telah dipastikan adalah melalui kontak langsung dengan penderita atau hewan yang terinfeksi. Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa penyebaran melalui makanan sehari-hari secara umum tidak menjadi jalur utama penularan, kecuali dalam kondisi tertentu seperti konsumsi hewan terinfeksi atau makanan yang sudah terkontaminasi cairan tubuh penderita.
Cara Virus Ebola Menular
Penularan virus Ebola bisa terjadi karena kontak antara manusia, melalui hewan, maupun benda yang terkontaminasi.
1. Penularan Melalui Manusia
Virus Ebola dapat menular melalui kontak langsung dengan darah, muntah, feses, maupun cairan tubuh penderita yang telah terinfeksi. Selain itu, virus Ebola juga dapat ditemukan dalam urin dan cairan sperma.
Penularan biasanya terjadi ketika cairan tubuh tersebut masuk melalui mulut, hidung, mata, atau luka terbuka pada tubuh orang sehat. Kemenkes juga menjelaskan bahwa pria yang telah sembuh dari Ebola masih berpotensi menularkan virus melalui cairan sperma selama hampir dua hingga tiga bulan setelah dinyatakan pulih.
2. Penularan Melalui Benda
Tidak hanya melalui kontak fisik langsung, penularan juga dapat terjadi lewat benda yang telah terkontaminasi cairan tubuh penderita, seperti kasur, pakaian, atau permukaan tertentu. Namun, infeksi umumnya terjadi apabila cairan yang terkontaminasi tersebut mengenai luka terbuka pada tubuh orang yang sehat.
3. Penularan Melalui Hewan
Selain menular antar manusia, virus Ebola juga dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Penularan ini terjadi melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi, terutama monyet dan kelelawar.
Salah satu hewan yang diketahui dapat membawa virus Ebola adalah kelelawar buah. Hewan ini dapat menyebarkan virus tanpa menunjukkan gejala sakit, kemudian menularkannya kepada manusia hingga akhirnya menyebar ke orang lain di sekitarnya.
Gejala Virus Ebola yang Perlu Diwaspadai
Gejala dari seseorang yang terpapar virus Ebola serupa dengan penyakit demam berdarah. Gejala dapat muncul secara tiba-tiba dan berkembang semakin parah dalam waktu singkat. Berikut sejumlah gejala virus Ebola yang perlu diwaspadai:
- Penderita mengalami gejala mirip influenza secara mendadak dan tubuh terasa sangat lemas
- Kehilangan nafsu makan (anoreksia)
- Sakit kepala
- Nyeri otot dan nyeri sendi
- Demam tinggi, biasanya di atas 38,3Β° Celsius
- Sakit tenggorokan
- Sering disertai muntah, diare, serta nyeri pada bagian perut atas maupun bawah
- Sekitar separuh penderita mengalami ruam pada kulit yang muncul 5-7 hari setelah gejala pertama timbul
- Napas menjadi pendek, dada terasa sakit, terjadi pembengkakan (edema), hingga penurunan kesadaran atau kebingungan (confusion)
- Terjadi perdarahan luar maupun dalam sekitar 5-7 hari setelah gejala awal muncul. Penderita Ebola mengalami gangguan pembekuan darah sehingga dapat mengalami perdarahan dari mulut, hidung, tenggorokan, maupun bekas suntikan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan muntah darah, batuk darah, hingga buang air besar berdarah.
- Mata tampak merah akibat perdarahan yang juga dapat terjadi pada bagian mata. Meski demikian, perdarahan berat tergolong jarang dan umumnya terjadi di saluran pencernaan.
Selain gejala-gejala tersebut, penderita Ebola juga berisiko mengalami kondisi yang mengancam nyawa. Risiko kematian dapat terjadi akibat beberapa komplikasi berikut:
- Syok atau tekanan darah turun drastis akibat kekurangan cairan tubuh
- Perdarahan hebat yang dapat berujung fatal
Apakah Ebola Berbahaya?
Virus Ebola termasuk penyakit yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kondisi serius hingga kematian. Merujuk informasi dari WHO, tingkat kematian rata-rata akibat penyakit ini mencapai sekitar 50%. Pada beberapa wabah tertentu, angka kematiannya bahkan dapat lebih tinggi tergantung kecepatan penanganan medis dan kondisi fasilitas kesehatan di wilayah terdampak.
Bahaya Ebola tidak hanya terletak pada tingkat kematiannya, tetapi juga karena virus ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Oleh sebab itu, penanganan pasien Ebola memerlukan prosedur kesehatan yang ketat agar penularan tidak meluas.
Apakah Ebola Bisa Disembuhkan?
Penyakit Ebola dapat disembuhkan apabila penderita mendapatkan penanganan medis yang cepat dan tepat. Perawatan intensif, pemberian cairan tubuh, menjaga kadar oksigen, hingga penanganan gejala lain dapat meningkatkan peluang pasien untuk sembuh.
Meski demikian, penyintas Ebola tetap perlu waspada setelah dinyatakan pulih. Hal ini karena virus Ebola masih dapat bertahan di beberapa cairan tubuh dalam jangka waktu tertentu. Unicef menyebutkan bahwa virus Ebola masih bisa ditemukan dalam cairan sperma penyintas selama kurang lebih tiga bulan setelah sembuh. Karena itu, penyintas dianjurkan tetap berhati-hati, terutama saat melakukan hubungan intim, guna mencegah risiko penularan kepada orang lain.
Cara Mencegah Penularan Virus Ebola
Pencegahan penularan virus Ebola dapat dilakukan dengan menghindari kontak langsung dengan penderita maupun jenazah yang terkontaminasi virus tersebut. Langkah pencegahan sangat penting dilakukan karena Ebola termasuk penyakit yang dapat menyebar melalui cairan tubuh dan memiliki tingkat kematian cukup tinggi.
Disadur dari laman Kemenkes, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan virus Ebola:
- Mengurangi risiko penyebaran penyakit dari hewan terinfeksi, seperti monyet dan babi, ke manusia. Upaya ini dapat dilakukan dengan memeriksa hewan terhadap infeksi serta membunuh dan membuang hewan yang terpapar virus Ebola sesuai prosedur yang aman.
- Memasak daging hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi untuk mengurangi risiko penularan dari hewan yang terinfeksi.
- Rajin mencuci tangan dengan benar, terutama setelah berada di sekitar orang yang menderita Ebola atau setelah menyentuh benda yang berpotensi terkontaminasi.
- Menangani sampel cairan dan jaringan tubuh penderita dengan sangat hati-hati serta mengikuti prosedur keamanan yang berlaku.
- Melakukan vaksinasi apabila hendak bepergian ke daerah atau negara yang sedang mengalami wabah Ebola.
- Menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap sesuai standar operasional prosedur (SOP), terutama bagi tenaga kesehatan yang menangani pasien Ebola.
Selain langkah-langkah tersebut, masyarakat juga dianjurkan menjaga kebersihan lingkungan dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi Ebola, terutama setelah melakukan perjalanan ke wilayah terjangkit.
Demikian pemaparan mengenai virus Ebola yang perlu detikers ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(num/dil)
