PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 6 Yogyakarta resmi menutup perlintasan sebidang tanpa penjaga di Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Selasa (19/5). Warga setempat mendukung penutupan itu, meski nanti harus lewat perlintasan yang lebih jauh.
Deputi EVP Daop 6 Yogyakarta, Rahim Ramadani, mengatakan penutupan ini bagian dari program terpusat KAI untuk menertibkan perlintasan sebidang yang berisiko tinggi.
"Ini salah satu titik yang kita perbaiki keselamatannya dengan cara menutup perlintasan sebidang yang rutin dipakai warga. Di sini risikonya cukup tinggi karena enggak ada rambu, enggak ada penjaga, dan lalu lintas keretanya cukup padat," ujar Rahim di lokasi penutupan, Selasa (19/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rahim mengatakan jalur perlintasan liar di Plumbon ini dinilai sangat berbahaya, terutama bagi pengendara roda dua dan pesepeda. Kontur jalan yang menanjak dinilai rawan memicu kecelakaan.
"Gradiennya (tanjakan) cukup tinggi. Kalau naik sepeda atau motor, mereka lewat sisi pinggir dan itu bisa membuat jatuh. Di sisi lain, batu-batu kricak (batu balas) kereta api di sini juga terus berguguran, itu bisa mengganggu perjalanan KA," jelas Rahim.
Ia mengatakan bahwa perlintasan tersebut sering dilintasi oleh anak-anak sekolah serta para petani yang mengambil jalan pintas untuk ke sawah.
"Biasanya dilalui oleh anak sekolah SD dari kampung seberang yang mau ke SD Plumbon 1, sama petani yang lewat sini. Biasanya anak SD pakai sepeda ontel atau jalan kaki, kata pak lurah," terangnya.
Terpisah, salah satu petani, Suroso (55), mengatakan ada dampak positif dan negatif terkait penutupan perlintasan tersebut. Menurutnya kebijakan ini dinilai penting demi keselamatan warga, terutama anak-anak sekolah. Namun di sisi lain, para petani kini harus memutar lebih jauh untuk menuju ke sawah mereka.
"Kalau ditutup tuh anak-anak juga bisa selamat, anak-anak sekolah. Kan keretanya cepat (sekarang)," kata Suroso saat ditemui di lokasi.
Suroso mengatakan, sebelum ditutup, jalur tersebut merupakan jalan pintas yang sering dilewati sepeda motor, sepeda ontel, bahkan traktor untuk menuju ke sawah dan ke pintu air.
"Agak jauh ya, harus muter ke jalan raya gitu. Biasanya lewat sini bisa. Kalau dulu bawa pupuk, traktor bisa lewat sini," ujarnya.
Suroso menjelaskan, jika menggunakan jalur pintas tersebut, warga hanya perlu berjalan kaki dalam waktu singkat. Namun sejak ditutup, warga yang ingin menuju ke area pintu air harus memutar dan memakan waktu sekitar 5 menit dengan kendaraan.
"Ya kalau masyarakat itu mintanya ya masih lewat dibuatke sini, tapi kan ya tidak mungkin, kan situasinya seperti ini," pungkasnya.
(apu/dil)
