Mbah Suyati Pulang ke Batang Usai 31 Tahun Hilang di Malaysia

Terpopuler Sepekan

Mbah Suyati Pulang ke Batang Usai 31 Tahun Hilang di Malaysia

Tim detikJateng - detikJateng
Minggu, 17 Mei 2026 07:04 WIB
Gim Suyati saat tiba di Desa Adinuso, Reban, Batang, Kamis (14/5/2026). Selama 31 tahun, dia di Malaysia tanpa dokumen resmi.
Gim Suyati saat tiba di Desa Adinuso, Reban, Batang, Kamis (14/5/2026). Selama 31 tahun, dia di Malaysia tanpa dokumen resmi. Foto: dok. detikJateng
Solo -

Wajah haru begitu terpancar dari perempuan lanjut usia (lansia) bernama Gim Suyati (73). Sebab, setelah lebih dari 30 tahun "menghilang" di Malaysia, dia akhirnya berhasil kembali pulang ke kampung halamannya, Batang, Jawa Tengah.

Suyati disambut banyak orang begitu tiba di kampung halamannya di Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Kamis (14/5/2026). Ia tampak memeluk sejumlah orang.

Berawal Pamit untuk Kerja di Malaysia

Anto (52), anak kedua Suyati, mengungkap semuanya berawal saat sang ibu pamit kepada keluarganya untuk bekerja ke Negeri Jiran pada tahun 1995 silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama dua tahun pertama, komunikasi masih terjalin melalui telepon umum. Pada 1997, ibu sempat berpamitan hendak pulang ke Indonesia, tetapi tak pernah tiba di rumah. Sejak saat itu, keluarga kehilangan kontak dan tak pernah mengetahui keberadaannya," tutur Anto yang saat ini masih berada di Malaysia mengurus administrasi kepulangan ibunya saat dihubungi detikJateng, Rabu (13/5).

ADVERTISEMENT

Anto melanjutkan, pihak keluarganya menggunakan berbagai cara untuk mencari Suyati. Bahkan, Anto rela merantau ke Malaysia, dan bekerja di sebuah pabrik di Batu Pahat, Johor, pada 2002-2004, demi mendapat kabar sekecil apapun soal ibunya.

"Kalau libur, saya habiskan waktu di terminal, seharian, melihat orang lalu lalang. Barangkali ada ibu di sana. Tapi sampai empat tahun tidak ketemu," katanya.

Anto pun pulang ke Indonesia pada 2004 karena kontraknya habis. Setahun berselang, dia harus menerima kenyataan bahwa sang ayah meninggal dunia.

Sepeninggal ayahnya, pada 2005 dia kembali ke Malaysia untuk bekerja sembari mencari keberadaan ibunya. Namun, hingga kembali ke Indonesia pada 2008, Gim Suyati tetap tidak ditemukan.

"Kami berdoa, bahkan menggelar doa bersama tahlil untuk ibu, dari seminggu, 40 hari hingga seribu hari," ucapnya.

Warga Batang, Anto, bersama ibunya, Gim Suyati, yang berhasil dia temukan usai terpisah 31 tahun di Malaysia.Warga Batang, Anto, bersama ibunya, Gim Suyati, yang berhasil dia temukan usai terpisah 31 tahun di Malaysia. Foto: dok. Anto

Pertemuan dengan Warga Lokal yang Mengubah Hidup

Dikatakan Anto, momen titik balik Suyati terjadi tatkala dia berkenalan dengan warga setempat bernama Kamarudin Harun sekitar 10 bulan yang lalu. Dari pertemuan tersebut, mereka pun menjadi sahabat dan saling bercerita.

Ketika mendengar cerita Suyati yang sudah 31 tahun tidak bisa pulang itulah, Kamarudin berinisiatif mencari keluarganya di Indonesia.

"Cik Kamarudin Harun orang Malaysia asli, beliau usia sebaya dengan ibu saya. Setelah ketemu ngobrol akhirnya jadi sahabat, sering ketemu berbagi cerita. Akhirnya mereka akrab dan orang Malaysia sering pergi ke kontrakan ibu, sampai suatu ketika beliau memutuskan bulan April mencari keluarganya ibu ke indonesia," tuturnya.

Pada 14 April lalu, Kamarudin datang ke Indonesia dan langsung bertolak ke Desa Adinuso. Berbekal ingatan Suyati, dia berhasil menemukan keluarga Anto.

Di hari yang sama itulah, kali pertama Anto dan ibunya bertemu meskipun hanya melalui panggilan video. Meski sempat sulit mengenali karena perubahan fisik selama 31 tahun, keluarga akhirnya memastikan identitas Gim Suyati.

"Awalnya pangling, tapi setelah dikenali oleh saudara yang lebih tua, akhirnya yakin itu ibu saya," jelas Anto.

Terungkap Bekerja Tanpa Dokumen

Proses Anto memulangkan ibunya jelas tidak mudah. Sebab, terungkap bahwa saat datang ke Malaysia 31 tahun silam, statusnya adalah imigran gelap alias tanpa dokumen karena menjadi korban penipuan.

"Dulu ibu saya itu pergi ke Malaysia karena ditipu orang, cuman lewat agen tidak resmi, tidak dibekali dokumen apa-apa, ya diselundupkan. Sampai Malaysia tidak dibekali paspor atau apapun jadi status ibu saya betul-betul kosong blong," kaya Anto.

Kondisi itu membuatnya kesulitan untuk pulang ke Indonesia meski beberapa kali mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.

"Di Kuala Lumpur, ternyata ibu kerja apa saja untuk bertahan hidup. Saat itu ibu juga pengin pulang. Bahkan, beberapa kali ibu pergi ke KBRI, namun karena tidak ada dokumen identitas tidak ada hasilnya," jelas Anto.

Karena tidak mempunyai dokumen identitas, bahkan belum melakukan perekaman e-KTP, Anto harus mengajukan status kewarganegaraan Suyati di Kementerian Hukum di Jakarta.

"Saya dikejar waktu karena izin tinggal di Malaysia juga terbatas, proses administrasi memakan waktu lama. Sudah dua pekan belum ada hasilnya," kata dia.

Setelah melalui proses yang cukup panjang dokumen perjalanan sementara atau Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) akhirnya berhasil diterbitkan.

Selain itu, Gim Suyati juga harus membayar denda imigrasi Malaysia sebagai pendatang tanpa dokumen. Beruntung, saat itu sedang ada program pemutihan sehingga biaya yang harus dibayar jauh lebih ringan.

Anto mengaku sangat bersyukur akhirnya bisa bertemu kembali dengan ibunya setelah puluhan tahun berpisah. Ia juga mengapresiasi bantuan warga Malaysia yang telah membantu menemukan keluarganya.

"Kalau tidak bertemu orang baik itu, mungkin sampai sekarang kami tidak tahu keberadaan ibu," ungkapnya.

Gim Suyati Tak Menyangka Bisa Pulang

Gim Suyati tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Bahkan, ia sempat menangis karena tidak menyangka dapat kembali ke kampung halaman setelah 31 tahun hidup di Malaysia.

"Perasaannya senang sekali, gembira sekali. Ini tak tahu macam mana nak cakap (harus ngomong apa)," ungkap Gim Suyati dengan logat Melayu yang masih kental.

Meski telah lama tinggal di Malaysia hingga memengaruhi cara berbahasanya, ia mengaku tetap mengingat kampung halaman dan merasa lebih nyaman tinggal di Indonesia.

"Pasti di kampung halaman. Suka ketemu keluarga," ujarnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: KSP Soroti Perizinan Lahan KITB"
[Gambas:Video 20detik] (apu/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads