Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang memiliki sejumlah koleksi ular hasil evakuasi. Ular-ular di Mako Damkar Kota Semarang ada yang bernilai jutaan rupiah hingga dilindungi.
Koleksi hewan reptil itu disimpan di bok-bok plastik di ruang Pemberdayaan Masyarakat lantai dua Mako Damkar Kota Semarang, Kecamatan Semarang Barat. Wadah tersebut diberi ventilasi berupa lubangkecil di sejumlah sisi.
Beragam jenis ular yang dikoleksi yakni mulai dari piton hingga ular jagung atau corn snake. Warna dan coraknya bervariasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti halnya ular sanca atau ball python yang memiliki corak lingkaran di tubuhnya dengan warna kuning kecoklatan dan hitam. Sanca tersebut terlihat tenang dan selalu melilit tangan jika dipegang. Panjangnya nyaris mencapai dua meter dengan tubuh licin.
Ada juga python bivittatus atau sanca bodo yang disimpan di Mako Damkar Kota Semarang. Meski tidak berbisa, ular tersebut tampak agresif sehingga tidak bisa dipegang. Reptil berukuran sekitar satu meter itu memiliki corak lingkaran hitam dengan warna nyaris krem.
Beda halnya dengan ular piton, ular jagung memiliki warna oranye cerah. Dia tidak berbisa dan jinak.
Sementara ular albolabris di Mako Damkar Kota Semarang hanya berukuran sekitar 20 sentimeter. Warnanya hijau cerah, tetapi berbisa.
Analis Kebakaran Ahli Pertama Damkar Kota Semarang, R. Kelvin Adirahmat Putera, menyebut ada enam koleksi ular di kantornya. Kebanyakan berjenis piton.
Ular hasil evakuasi yang kini dipelihara di markas Damkar Semarang, Kamis (14/5/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja |
"Yang pertama ada ball python. Itu ada tiga ekor. Terus ada corn snake atau ular jagung satu ekor. Terus ada satu lagi python bivittatus," kata Kelvin saat ditemui detikJateng di Mako Damkar Kota Semarang, Kamis (14/5/2026).
"Ada sama satu lagi yang memang nggak boleh di-handling ya. Dia memang berbisa tinggi, albolabris," lanjutnya.
Kelvin menjelaskan, sanca merupakan satwa endemik Afrika. Pihaknya memilih memelihara ular hasil evakuasi itu lantaran daya hidupnya di Indonesia dinilai kecil.
"Jadi saya sempat sharing dengan beberapa teman, itu dia pilih ball python tapi tidak bisa atau tidak kuat untuk memberi makan akhirnya dilepasliarkan. Padahal ball python sendiri itu habitatnya bukan di Indonesia, asli dari Afrika, yang mana kalau dilepasliarkan di sini akan jauh berbeda habitat dengan habitat aslinya," jelasnya.
"Jadi chance untuk dia bertahan di situ (Indonesia) sangat kecil. Nah, kebetulan kami berhasil me-rescue beberapa dan itu tadi kami tidak lepaskan, tapi kami kami rawat di sini," imbuhnya.
Ular jagung, kata Kelvin, merupakan reptil endemik Amerika Serikat. Dia menduga, satwa tersebut lepas dari pemiliknya sehingga berkeliaran.
Hewan asal Negeri Paman Sam itu dievakuasi Damkar Kota Semarang dalam keadaan luka. Sebab, warga mengira ular tersebut berbisa lantaran berwarna cerah.
"Warga melihatnya kok menyala oranye kan dipikir berbisa, akhirnya cepat dipukul. Untung pada saat itu teman-teman rescue bisa berhasil untuk menyelamatkannya. Akhirnya kami rawat di sini," ungkap dia.
Adapun sanca bodo merupakan satwa yang dilindungi. Kelvin menuturkan, reptil tersebut masih belum jinak.
"Kalau yang terancam punah atau rare ada, yaitu tadi python bivittatus. Itu dia termasuk salah satu hewan atau ular yang dilindungi," jelasnya.
Selanjutnya, Kelvin menerangkan, habitat ular albolabris ada di Indonesia. Biasanya dia berada di semak-semak dan dahan pohon.
"Ular hijau yang ekor merah itu habitatnya memang di Indonesia ada. Dia biasanya di semak-semak, di dahan-dahan pohon gitu," sebutnya.
Berharga Jutaan Rupiah
Kelvin menjelaskan ular jagung di Mako Damkar Kota memiliki harga jual hingga Rp 2 juta. Sementara ular sanca yang dikoleksi bernilai hingga Rp 5 juta.
"Kalau untuk yang ball python itu bisa sekitar Rp 4 juta sampai Rp 5 jutaan. Kalau yang corn snake itu sekitar Rp 2 jutaan," jelasnya.
Kedua ular tersebut biasanya menjadi hewan peliharaan. Namun, Kelvin menyayangkan jika ular tersebut tidak dirawat.
"Kadang-kadang ini yang sangat saya sayangkan sih, banyak sekali keeper (pemilik ular) di Indonesia itu yang dia mau untuk memelihara ular, tapi tidak mau merawatnya," ungkapnya.
Cara Damkar Kota Semarang Merawat Ular
Kelvin mengatakan, merawat ular tidak bisa sembarangan. Makanan hingga tempatnya harus terjaga.
"Kalau tiap-tiap ular rata-rata (cara merawatnya) hampir sama. Yang penting kita harus menjaga kebersihan kandangnya, yang pertama. Terus kalau dia buang air, harus segera dibersihkan supaya tidak menimbulkan jamur," bebernya.
Ular peliharaan di Mako Damkar Kota Semarang terkadang memuntahkan makanannya sehingga muntahannya segera diambil. Peliharaan itu juga dimandikan.
Ular hasil evakuasi yang kini dipelihara di markas Damkar Semarang, Kamis (14/5/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja |
"Lalu kalau dia makan, kadang ada beberapa ular itu yang kalau nggak nyaman, dia memuntahkan makanannya. Nah, itu harus segera diambil supaya tidak dirubung semut. Terus juga dimandikan," jelasnya.
Biasanya, ular yang dipelihara di Mako Damkar Kota Semarang diberi pakan berupa tikus putih yang dijamin kualitasnya. Hal tersebut dilakukan agar ular tidak terserang penyakit.
"Kalau makan rata-rata tikus putih. Jangan tikus hitam, karena kalau tikus yang hitam itu kita nggak tahu kumannya, kebersihannya gimana, tikusnya sakit atau nggak. Jadi kami membelikan tikus putih yang sudah diternak, yang kualitasnya juga bagus," pungkasnya.


