Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Keraton Solo, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, mengeluarkan instruksi tegas menjelang pelaksanaan Grebeg Besar Idul Adha Tahun Dal 1959 atau tahun 2026. Tedjowulan meminta seluruh keluarga besar keraton bersatu dan tidak ada lagi kelompok yang menyelenggarakan acara sendiri-sendiri.
Langkah ini diambil untuk memastikan tradisi keraton berjalan khidmat tanpa gangguan konflik internal.
"Gusti Tedjowulan memberikan arahan agar jangan lagi menonjolkan ego personal maupun kelompok. Jangan mengadakan Grebeg Besar Idul Adha sendiri-sendiri," kata Juru Bicara Panembahan Agung, Kanjeng Pakoenegoro melalui keterangan tertulis yang diterima detikJateng, Rabu (13/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kanjeng Pakoenegoro meminta agar tidak ada gesekan dalam keluarga Keraton Solo. Untuk itu, ia meminta agar seluruh keluarga bersatu.
"Keluarga Besar Keraton Surakarta harus bersatu. Tidak boleh ada gesekan dari mana pun," ujarnya.
Tedjowulan juga mengundang Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Wandansari atau Gusti Moeng, perwakilan pihak TNI dan Polri, Camat Pasar Kliwon hingga pemangku wilayah dalam rapat Grebeg Besar 2026. Mengenai pelaksanaan Grebeg Besar, Tedjowulan menunggu pengumuman dari Pemerintah Pusat.
"Prinsipnya, misalkan Idul Adha ditetapkan pada 27 Mei 2026, maka Gerebeg Besar akan diadakan hari berikutnya atau hari kedua Idul Adha," jelasnya.
Selain dalam mengamankan Grebeg Besar, Tedjowulan juga mengerahkan TNI dan Polri untuk keamanan revitalisasi Keraton Solo. Revitalisasi yang dilakukan yakni Keraton Kilen, Kantor nDalem.
"Insya Allah, pengerjaan Revitalisasi Keraton Kilen akan dimulai pertengahan tahun ini. Berbagai tahapan awal sedang berlangsung saat ini. Selain Keraton Kilen, Kantor nDalem Panembahan Agung juga menjadi prioritas," lanjut Pakoenegoro.
Pakoenegoro menambahkan, saat ini Kementerian Kebudayaan bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Jateng tengah melakukan inventarisasi aset dan pusaka keraton. Pendataan dimulai dari Museum Keraton hingga ke nDalem Ageng.
"Kekayaan budaya, terutama Pusaka Kagungandalem, akan didata. Jika ada yang berpindah tempat, akan dikembalikan ke tempat semula. Beliau (Tedjowulan) berharap semua pihak kooperatif," tegas Pakoenegoro.
Langkah ini dilakukan sebagai persiapan menyambut Kirab Malam 1 Suro Tahun Be 1960. Selain doa bersama, Kirab Pusaka Kangjeng Kyai Ageng akan kembali digelar karena telah menjadi ikon pariwisata yang dinanti masyarakat luas dan didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan.
"Gusti Tedjowulan terus berkoordinasi dengan kementerian, termasuk rapat koordinasi terakhir bersama Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan jajaran Staf Khusus Menteri untuk memastikan pelestarian tradisi ini berjalan maksimal," pungkasnya.
(afn/aku)
