Dukuh Mao di Klaten punya nama yang paling pendek dan sering disebut pada prasasti-prasasti kuno. Kampung itu juga memiliki keunikan lain karena tidak ada warga yang berani menanam pohon pisang.
Tidak adanya pohon pisang di Dukuh Mao, bukan karena tanahnya tidak subur. Sebab di dukuh itu air sangat mudah didapatkan dan sawahnya tidak pernah kering.
Di barat dukuh itu terdapat dua mata air atau umbul, yaitu Umbul Susuan dan Jolotundo. Dua mata air itu selain untuk mengairi pertanian juga untuk objek wisata yang cukup ternama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat detikJateng mencoba mencari pohon pisang memang tidak ditemukan satu batang pun. Baik di pekarangan maupun sawah dan ladang.
Dukuh Mao sendiri terbagi dua wilayah karena ada yang masuk Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom dan Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen. Di kedua wilayah itupun tidak ditemukan pohon pisang.
"Di sini tidak ada pohon pisang, tidak ada yang berani nanam. Pokonya di kebun Mao tidak ada yang berani," ungkap warga Dukuh Mao, Siti Rahayu (80) kepada detikJateng Kamis (30/4/2026).
Diceritakan Siti ketakutan warga menanam pohon pisang itu sudah ada turun temurun. Sebenarnya tidak ada larangan tapi warga takut dengan sendirinya.
"Tidak ada yang melarang tapi takut sendiri. Ya cuma pisang, lainnya tidak takut, sampai sekarang," kata Siti.
Warga lain, Satori (55), menceritakan konon jika menanam pohon pisang di Dukuh Mao bisa berbahaya. Disebutkan pernah ada sekeluarga sakit.
"Saya bukan asli sini tapi ikut takut. Kalau makan, goreng pisang tidak apa-apa sepuasnya asal tidak menanam di sini," kata Satori yang tinggal di dukuh itu sejak tahun 1995.
Terpisah, Kadus I Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, Sugiartono membenarkan ada perilaku unik warga tidak berani menanam pohon pisang itu. Ketakutan itu ada sejak nenek moyang.
" Sejak nenek moyang tapi kalau makan pisang tidak apa-apa. Hanya menanam yang takut, tapi mungkin mitos," kata Sugiartono kepada detikJateng.
Menurut Sugiartono, selain pohon pisang bebas ditanam. Mitos yang ada warga tidak berani menanam pohon pisang karena ada cerita pewayangan.
"Cerita pewayangan ada putri tertancap sompil (keong runcing) lalu diambil ditancapkan ke pohon pisang. Tapi ada wewaler (larangan) apa kok kemudian pada tidak berani menanam pohon pisang, tidak ada yang tahu," papar Sugiartono.
Sebelumnya diberitakan, di Kabupaten Klaten terdapat dukuh dengan nama terpendek karena hanya terdiri dari tiga huruf, yaitu Mao. Dukuh itu terbagi dua, ada yang masuk wilayah Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom dan Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen.Seperti apa kisahnya?
Dukuh Mao dari letak geografis bukan perkampungan terpencil meskipun namanya unik. Dukuh tersebut berada di tepi Jalan Raya Klaten-Jatinom, di pinggiran Kota Kecamatan Jatinom.
Kadus 1 Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, Sugiartono, menambahkan Dukuh Mao merupakan dukuh dengan nama terpendek di Klaten. Dia juga mengaku tak tahu asal usul nama Dukuh Mao.
"Ya terpendek, sebelah ada Desa Pepe tapi masih empat huruf, sini cuma tiga huruf. Artinya apa, sejarahnya bagaimana saya tidak tahu," kata Sugiartono kepada detikJateng.
(ams/ams)
