Jemaah calon haji Embarkasi Solo, yang dinyatakan tak layak terbang, dan dipulangkan ke daerah asalnya bertambah lagi. Sampai saat ini mencapai 25 orang.
"Alhamdulillah layanan di Asrama Haji ini berjalan dengan lancar. Memang ada beberapa jemaah yang pulang karena memang secara layak terbang, memang ada beberapa yang tidak layak terbang," kata Ketua PPIH Embarkasi Solo, Fitriyanto, kepada para wartawan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Minggu (3/5/2026).
"Sampai saat ini 25 orang dengan pendampingnya. Karena biasanya suami istri, kalau suaminya sakit biasanya istrinya juga ikut pulang," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fitriyanto menyebut istitaah atau kemampuan jemaah secara kesehatan memang lebih diperketat. Sebab, Pemerintah Arab Saudi juga memperketat istitaah kesehatan para calon haji.
"Sehingga kita pastikan jemaah betul-betul layak terbang dan memenuhi syarat kesehatan. Sehingga beliau-beliau bisa berangkat ke sana (Arab Saudi), bisa beribadah dengan baik (menunaikan ibadah haji)," terang Fitiyanto.
"Jangan sampai mereka datang ke Saudi, tiba-tiba kok sakit sampai pulang nggak bisa melaksanakan ibadah. Ini sayang sekali. Maka semangatnya Arab Saudi dan Indonesia sama, untuk memperketat kesehatan," sambungnya.
Menurut Fitriyanto, jemaah yang dipulangkan ini akan mendapat prioritas untuk diberangkatkan tahun depan. Namun, dengan syarat kesehatannya baik dan tidak dibatalkan oleh yang bersangkutan.
"Nah, tahun depan kalau memang yang bersangkutan memenuhi syarat istiaah kesehatan, tentu akan kita berangkatkan dalam kesempatan yang pertama. Asal porsinya tidak dibatalkan oleh pihak bersangkutan," papar dia.
Jemaah yang dipulangkan ini usianya bervariasi. Dari 60 tahun hingga lanjut usia (lansia).
"Ada yang 60 (tahun), ada yang 65, ada yang 70, ada yang lansia dan sebagainya. Jadi, tergantung tingkat kesehatan jemaah itu. Ada yang sakit sesak napas, sehingga kalau naik pesawat kan nanti dikhawatirkan oksigennya akan berkurang di pesawat. Nah, ini dikhawatirkan itu. Ada yang cuci darah sehingga ini kan oleh Arab Saudi tidak diperbolehkan," imbuhnya.
Jemaah yang gagal berangkat, lanjut dia, bisa dilimpahkan kepada keluarga intinya. Bisa ke istri/suami, anak kandung atau saudara kandung untuk berangkat menunaikan rukun Islam kelima itu.
