Ratusan Siswa-Guru di Tulung Klaten Diduga Keracunan MBG

Ratusan Siswa-Guru di Tulung Klaten Diduga Keracunan MBG

Achmad Husain Syauqi - detikJateng
Rabu, 29 Apr 2026 11:08 WIB
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo jenguk siswa diduga keracunan MBG di Tulung.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo jenguk siswa diduga keracunan MBG di Tulung. Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng
Klaten -

Sekitar 200 siswa di wilayah Kecamatan Tulung, Klaten diduga keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Siswa mengalami gejala mual, diare dan pusing usai makan menu sop galantin.

Adapun menu MBG tersebut disantap oleh para siswa kemarin. Mereka sejak semalam hingga pagi ini mengalami gejala mirip keracunan. Mereka kemudian berdatangan ke fasilitas layanan kesehatan setempat.

Pantauan detikJateng, para siswa dirawat di beberapa layanan kesehatan, terutama Puskesmas Majegan dan Tulung. Mayoritas hanya rawat jalan tetapi di Puskesmas Majegan ada sembilan siswa dirawat inap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pukul 09.00 WIB sejumlah siswa masih berdatangan ke Puskesmas. Dari sembilan siswa yang rawat inap kondisinya sadar tetapi lemas sehingga diinfus.

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo bersama kepala Dinas Kesehatan Pemkab Klaten Anggit Budiarto, Kepala Dinas Pendidikan Titin Windyarsih, camat dan lainnya langsung mengecek ke SPPG dan Puskesmas.

ADVERTISEMENT

"Anak saya kelas VII C SMPN 1 Tulung, sampai rumah itu malah tidak mau makan. Habis Maghrib kemarin mulai mual dan pusing," ungkap Bekti (40), ibu salah seorang siswa kepada detikJateng di lokasi, Rabu (29/4/2026) siang.

Dijelaskan Bekti, meskipun mengalami gejala sakit perut dan pusing, anaknya tidak muntah. Setelah tidak membaik akhirnya pagi ini dibawa ke Puskesmas Majegan.

"Pagi ini tadi saya bawa ke Puskesmas. Katanya makan sop galantin jam 10.00 WIB habis istirahat," kata Bekti.

Siswa kelas IX B SMPN 1 Tulung, Stevani mengatakan dirinya makan sop galantin MBG hari Selasa (28/4) kemarin. Menunya sop galantin, tempe dan ada telur puyuh.

"Ada sop galantin, tempe dan ada telur puyuh. Yang tidak enak sop sama telur puyuh tidak enak, rasanya gimana gitu," katanya.

Tenaga epidemiologi Puskesmas Majegan, Wahyu Handoyo menjelaskan dari penyelidikan di lapangan ada 17 sekolah penerima manfaat MBG. Ada siswa dan guru yang bergejala.

"Ada 17 titik penerima. Ada 219 orang, 22 diantaranya guru yang bergejala (data sementara), pembagian MBG itu kemarin," katanya.

Gejala utama, kata Wahyu, mual dan pusing. Mulai dibawa ke layanan kesehatan sekitar pukul 07.00-08.00 WIB hari ini.

"Gejalanya kemarin, mulai dibawa ke klinik-klinik dan layanan jam 07.00 WIB ada juga jam 08.00 WIB," ungkap Wahyu.

Terpisah, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyatakan dirinya mendapat laporan siswa SD dan SMP bergejala itu kemarin. Hari ini dia turun untuk mengecek langsung.

"Kita ngyakinke (ngecek) ternyata tidak hanya enam orang tapi ada beberapa orang, makin bertambah. Di RS PKU Muhammadiyah Jatinom juga ada beberapa, kondisinya ada yang lemas, pusing dan semua diare," kata Hamenang kepada wartawan.

"Hasilnya karena keracunan atau apa itu nanti menunggu hasil lab, sampel sudah kita kirim ke lab," imbuhnya.

Terpisah kepala SPPG Sorogaten Roni Subekti mengatakan sudah berupaya menjaga kebersihan dan layanan sebaik mungkin. Namun SPPG siap melakukan evaluasi.

"Ya kita siap untuk melakukan evaluasi agar lebih baik lagi," kata Roni.



(alg/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads