Di Desa Ketitang, Kecamatan Juwiring, Klaten, terdapat satu dukuh bernama Dukuh Malasan. Nama dukuh yang berkonotasi negatif itu ternyata bertolak belakang dengan kondisi masyarakatnya.
Dukuh Malasan bukan dukuh yang terpencil. Dukuh tersebut berada di pusat perekonomian Kecamatan Juwiring, persisnya di selatan Pasar Tanjung.
Jalan lingkungan di dukuh tersebut sudah beraspal mulus. Banyak rumah bagus dan rumah joglo kuno yang ukurannya cukup luas di kampung tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat detikJateng ke dukuh itu siang hari, suasana sepi karena banyak warga bekerja. Beberapa kaum wanita yang di rumah mengisi kegiatan membuat sprei sebagai UMKM setempat.
Plt Kadus I Desa Ketitang yang membawahi Dukuh Malasan, Tri Hartono, mengatakan nama Dukuh Malasan sering jadi pertanyaan orang karena kata malas.
"Ya unik, sering ditanya orang karena ada kata Malasan, malas. Padahal dulu dikenal kampung paling banyak pegawai negerinya," ungkap Tri kepada detikJateng di kantornya, Rabu (22/4/2026) siang.
Menurut Tri, dukuh Malasan dibagi menjadi tiga RT, yaitu RT 6,7 dan 8. Di RT 6 rata-rata warganya adalah pensiunan pegawai negeri sipil.
"RT 6 itu rata-rata warganya pensiunan pegawai negeri, dari kepala sekolah sampai anggota DPRD, rumahnya besar- besar. RT 7 itu petani, RT 8 di gang tempat saya itu rata-rata juga PNS," kata Tri.
Selain itu, sambung Tri, di kampungnya ada juga yang bekerja di sektor swasta. Ada yang jadi pilot, pedagang bahkan jadi Lektor.
"Ada juga yang pilot sampai sekarang masih dinas, ada juga Lektor sudah pensiun, dosen juga ada. Nama Malasan sendiri sudah ada sejak zaman Belanda," lanjut Tri.
Dijelaskan Tri, dari catatan administrasi desa dukuh Malasan sudah tercatat sebelum tahun 1941. Jumlah KK sampai saat ini ada 78 KK.
"Hampir 78 KK, untuk pensiunan PNS ada sekitar 24 orang, mungkin paling banyak sekecamatan PNS-nya. Akhir-akhir ini banyak ke UMKM sprei," jelas Tri.
Dari cerita sesepuh, tutur Tri, nama Malasan diduga berkaitan dengan nama cikal bakal dukuh bernama Ki Pengalasan. Sosok ini merupakan orang keraton.
"Ki Pengalasan ini orang keraton dalam pengembaraannya tinggal di sini. Mungkin untuk mudahnya pengucapan Pengalasan jadi Malasan tapi data letter C nama Malasan terdata tahun 1941, jadi sebelum itu sudah ada," pungkas Tri.
Hendra, seorang pemuda setempat, mengaku tidak mengetahui asal-usul nama dukuhnya.
"Ya unik saja. Tapi di sini banyak dukuh yang namanya berakhir -an, ada Bagusan, Karasan, Malasan dan lainnya," kata Hendra kepada detikJateng.
"Warga ya biasa saja. Sejarahnya tidak tahu karena yang sepuh sudah pada meninggal," imbuhnya.
(aku/dil)
