Penampakan Alat Ditanam di Kuping Peserta UTBK Undip, Belakangan Diduga Palsu

Penampakan Alat Ditanam di Kuping Peserta UTBK Undip, Belakangan Diduga Palsu

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Rabu, 22 Apr 2026 13:35 WIB
Salah satu modus kecurangan dalam UTBK SNBT 2026 di Undip dengan menanamkan alat bantu dengar di lubang telinga
Salah satu modus kecurangan dalam UTBK SNBT 2026 di Undip dengan menanamkan alat bantu dengar di lubang telinga. Foto: Zahrah Muthmainnah/detikedu
Semarang -

Perempuan inisial M disebut curang saat akan mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Universitas Diponegoro (Undip). Sebab, ia memakai alat yang ditanam di kupingnya. Alat itu diduga palsu. Begini penampakan alatnya.

Kapolsek Tembalang, Kompol Kristiyastuti Handayani, mengatakan alat komunikasi yang diduga palsu itu berwarna hitam.

"(Warna alat tersebut?) Warnanya hitam," kata Kristiyastuti melalui pesan singkat kepada detikJateng, Rabu (22/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan, alat itu dilengkapi seutas kabel kecil sepanjang 40 sentimeter. Selain dipasang di telinga, alat tersebut juga diletakkan di pakaian dalam.

"Kalau panjangnya sekitar 40 cm. Ya kan tersambung dimasukkan ke daleman, alatnya itu dimasukkan ke telinga, kabel aja, nggak ada komunikasinya," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Alat yang dipasang di telinga itu berukuran sangat kecil. Kristiyastuti menyebut ukuran alat di dalam telinga itu sekitar 4 milimeter.

"Ukuran kecil sekali, sekitar 4 mm," terangnya.

Mengenai cara pemasangannya, dia mengatakan, peserta UTBK itu mengaku diarahkan oleh seseorang yang memberi alat itu untuk dipasang di telinga.

"Tinggal pasang aja (ke telinga), katanya gitu. (Kabel) Dimasukkan baju, terus dipasang gitu," ungkap Kristiyastuti.

Sebelumnya, Kristiyastuti mengatakan calon peserta UTBK Undip itu mendapat alat tersebut dari seseorang yang seluruh wajahnya tertutup. Alat tersebut dia dapat saat menginap di sebuah hotel di Semarang.

"(Dapat alatnya dari mana?) Dari seseorang. Ketemunya di hotel di Semarang waktu dia nginep gitu. Tapi (seseorang) itu tertutup semua, katanya gitu, dia nggak tau mukanya," kata Kristiyastuti saat dihubungi detikJateng, Rabu (22/4/2026).

Dia menjelaskan, peserta yang diduga curang itu diarahkan oleh seseorang tersebut agar memakai alat itu di telinganya.

Namun, menurut Kristiyastuti, alat komunikasi tersebut tidak memiliki speaker. Dia menduga alat tersebut palsu.

"(Alat komunikasi tersebut) Nggak ada speakernya. Mungkin pemikiran kita, mungkin dia juga ditipu, kan bisa juga. 'Pakai alat ini gini-gini'. Mungkin dia diiming-imingi, nanti bisa membantu pada saat ujian," ungkapnya.

Kristiyastuti menjelaskan, alat berupa handsfree tersebut harusnya memiliki speaker untuk berkomunikasi dengan seseorang yang bisa membantu saat ujian.

"Kalau handsfree kan harusnya ada speakernya biar biar kita bisa komunikasi dengan yang mengaku bisa membantu. Mikrofon yang di telinga itu, tapi nggak ada speaker. Terus cara kerjanya gimana?" kata dia.

Kepergok Berkat Metal Detector

Wakil Rektor Universitas Diponegoro (Undip), Heru Susanto mengatakan, temuan kecurangan itu terjadi di tes UTBK SNBT Undip di Kampus Tembalang, Selasa (21/4), yang dikhususkan untuk calon mahasiswa yang mendaftar ke Fakultas Kedokteran.

"Temuan hanya satu itu. (Peserta itu fakultas apa?) Kalau hari ini memang dikhususkan untuk peserta-peserta yang mendaftar di kedokteran dan kedokteran gigi," kata Heru saat dihubungi detikJateng, Selasa (21/4/2026).

Heru menjelaskan, penggunaan alat bantu elektronik di telinga itu ditemukan saat peserta tersebut melewati skrining metal detector yang disiapkan Undip sebelum tes dimulai.

"Pada saat skrining menggunakan metal detector, ada salah satu peserta yang terdeteksi di dalam pakaiannya itu ada metal. Karena kebetulan peserta ini perempuan, kita mengundang panitia perempuan juga melakukan pemeriksaan," ungkap dia.

Saat melakukan pemeriksaan, petugas menemukan metal di pakaian dan telinga peserta tersebut. Saat diinterogasi, peserta itu mengakui bahwa alat batu elektronik yang dipasang di telinganya untuk membantu mengerjakan UTBK SNBT.

"Karena yang bersangkutan tidak mau menginformasikan secara lengkap, tentu kami tidak bisa menjelaskan sebenarnya itu alat mekanismenya seperti apa. Tetapi yang bersangkutan mengakui alat itu dipasang dalam rangka untuk pelaksanaan ujian," ujarnya.

Meski tidak langsung didiskualifikasi, peserta itu menjalani interogasi cukup lama. Setelah interogasi berakhir, tes sudah selesai.

"(Apakah didiskualifikasi?) Sebenarnya prosesnya nggak seperti itu, kita tergantung kooperatifnya. Kalau tadi prosesnya agak panjang, cukup berbelit-belit sehingga kemudian sampai proses itu (interogasi) selesai, ujiannya juga sudah selesai, jadi tidak ikut," jelas Heru.

Dengan adanya temuan itu, pusat UTBK perguruan tinggi seperti Undip lalu melapor ke panitia pusat nasional.

"Masalah kemudian nanti ada sanksi atau tidak, itu adalah kewenangan dari kementerian. Kami serahkan saja," kata dia.



(dil/aku)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads