Dinkes Demak Ungkap Santri Mual-Muntah Usai 1 Jam Santap MBG

Dinkes Demak Ungkap Santri Mual-Muntah Usai 1 Jam Santap MBG

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Minggu, 19 Apr 2026 23:03 WIB
SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani, Desa Pilangwetan, Kebonagung, Demak disegel garis polisi, Minggu (19/4/2026).
SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani, Desa Pilangwetan, Kebonagung, Demak disegel garis polisi, Minggu (19/4/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Demak -

Ratusan santri di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Demak, diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan pada Sabtu (18/4) kemarin. Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Demak menyebut sejumlah santri mengalami mual hingga muntah usai satu jam menyantap menu MBG.

Ketua Tim Surveilans dan Imunisasi Dinkesda Demak, Darto Wahab mengatakan ada sebagian santri yang membawa pulang menu MBG tersebut. Diketahui, MBG tersebut dari SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani, Desa Pilangwetan, Kebonagung, Demak.

"Menu makanan hari Sabtu itu sebagian dimakan oleh anak-anak siswa penerima manfaat, yang sebagian siswa itu menunya tidak dimakan di tempat tetapi dibawa pulang," kata Darto kepada wartawan, Minggu (19/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dibawa pulang untuk dikonsumsi siang dan sore hari. Sehingga tidak langsung dikonsumsi pada waktu menerima makanan," sambungnya.

Darto menyebut makanan tersebut dibawa pulang para santri ke pondok pesantren. Menurut dia, MBG semestinya tidak dibawa pulang.

ADVERTISEMENT

"Makanan tersebut dibawa pulang ke pondok pesantren, salah satunya ke pondok pesantren ini untuk dimakan sore hari. Memang bukan peruntukannya MBG untuk itu dibawa pulang," ujar Darto.

Darto menyebut para santri yang mengalami gejala keracunan MBG mengeluhkan mual dan muntah setelah satu jam mengonsumsi MBG. Sementara santri yang tidak memakan MBG tidak mengalami keluhan apapun.

"Kalau yang dikonsumsi di sekolahan itu mereka mengalami keluhan mual muntah itu 1 jam setelah mereka konsumsi. Setelah mereka mengkonsumsi makanan, muncul keluhan itu. Tetapi mereka yang tidak makan ya otomatis enggak muncul gejala," ungkap Darto.

Kendati demikian, Darto belum bisa memastikan apakah para santri itu keracunan karena MBG. Pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium.

"Kita belum bisa menyimpulkan, makanya kita nanti tinggal tunggu hasil pemeriksaan laboratoriumnya seperti apa. (Saat ini) Baru kita nyatakan sebagai dugaan keracunan makan," ucap Darto.

Darto menjelaskan, pihaknya telah mengambil sampel muntahan nasi goreng dan sisa susu kotak dari MBG tersebut. Pihaknya juga mengambil bank sampel dari SPPG untuk pemeriksaan silang.

"Sampel makanan yang kita terima atau kita dapatkan berupa nasi goreng muntahan dari korban terus sama sisa susu kotak," jelas Darto.

"Di samping itu kita mau cross check juga ambil bank sampel di SPPG, mau kita cross check silang, apakah menu makanan yang dikonsumsi oleh penerima manfaat dengan SPPG itu nanti hasilnya seperti apa akan kita cross check," tambahnya.

Sampel makanan yang telah dikumpulkan itu dikirim ke Labkesda Provinsi Jateng. Darto menyampaikan hasil pemeriksaan MBG ini baru keluar sekitar 1-2 minggu mendatang.

"Itu nanti yang akan kita periksa ke laboratorium rujukan regional kita. Untuk hasil sendiri itu nanti akan bisa kita ketahui kurang lebih satu minggu sampai dua minggu berikutnya. Nanti akan kita informasikan," pungkas Darto.




(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads