Tangis Haru Pasutri Penjual Jamu di Boyolali Berhaji Usai 14 Tahun Menanti

Tangis Haru Pasutri Penjual Jamu di Boyolali Berhaji Usai 14 Tahun Menanti

Jarmaji - detikJateng
Rabu, 15 Apr 2026 16:47 WIB
Hadi Wiyono dan istrinya Sutiyah, pasutri penjual jamu di Boyolali senang bisa naik haji.
Hadi Wiyono dan istrinya Sutiyah, pasutri penjual jamu di Boyolali senang bisa naik haji. Foto: Jarmaji/detikJateng
Boyolali -

Rasa haru, gembira, dan syukur dirasakan pasangan suami istri (pasutri) penjual jamu tradisional di Boyolali, Hadi Wiyono (63) dan Sutiyah (55). Setelah menabung puluhan tahun, akhirnya keduanya bisa berhaji ke Tanah Suci.

"Syukur, alhamdulillah. Saya bersyukur bisa menunaikan ibadah haji. Saya bersyukur banget, bisa kayak gini, nggak ngira. Terharu mas, terharu, bahagia," kata Sutiyah, didampingi suaminya, Hadi Wiyono, ditemui di rumahnya Dukuh Plosokerep, Desa Winong, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Rabu (15/4/2026).

Hadi Wiyono dengan istrinya merupakan penjual jamu tradisional di Pasar Sunggingan, Boyolali. Setiap hari pasutri ini menjajakan jamu racikannya sendiri. Mereka jualan jamu sejak berumah tangga sekitar 30-an tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya jualan jamu sejak berumah tangga, sebelum memiliki anak pertama, Malika, saya sudah jualan," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Keterampilan Sutiyah membuat jamu tradisional didapatkan dari ibunya, yang juga penjual jamu gendong. Sejak jualan itu mereka terus menyisihkan penghasilannya untuk ditabung.

Hadi Wiyono menambahkan uang yang ditabungnya setiap hari tidak menentu. Dia mengaku uang yang ditabung merupakan sisa setelah kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan kegiatan sosial masyarakat tercukupi.

"Menabungnya sedikit demi sedikit, sithik seko sithik. Pendapatan harian kan tidak pasti, karena kadang habis, kadang masih," tambah Hadi Wiyono.

Kegigihannya menabung dari hasil berjualan jamu tradisional itu, akhirnya bisa mengantar pasutri ini beribadah ke Tanah Suci. Sejak 2012 setelah anak pertamanya menikah, keduanya bertekad untuk naik haji. Terlebih, mereka masih memiliki sisa uang tabungan Rp 50 juta.

Hadi Wiyono dan istrinya Sutiyah, pasutri penjual jamu di Boyolali senang bisa naik haji.Hadi Wiyono dan istrinya Sutiyah, tengah meracik jamu. Foto: Jarmaji/detikJateng

Uang tabungan itu kemudian disetorkan ke bank untuk mendaftar ibadah haji berdua bersama istrinya. Keduanya sempat waswas karena menunggu untuk naik haji hingga 8-10 tahun.

"Saya beli sapi kecil, saya openi, setelah besar saya jual, keuntungannya kami tabung. Terus beli lagi yang kecil, sudah besar dijual, ditabung lagi," katanya.

Setelah penantian 14 tahun, Hadi dan Sutiyah akhirnya mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2026 ini. Uang yang mereka kumpulkan juga cukup untuk menutup biaya haji.

Keduanya pun dijadwalkan akan berangkat naik haji pada 10 Mei 2026 nanti. Keduanya mengucapkan syukur karena akan menunaikan ibadah haji. Hadi pun sempat meneteskan air mata saat menceritakan perjalanan hidupnya maupun istrinya.

Di sela menunggu berangkat ibadah haji, mereka berdua pun masih rutin berjualan jamu di pasar Sunggingan, untuk menambah uang saku nantinya. Mereka juga rutin berolahraga dan menjaga kesehatannya.



(ams/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads