Solo Banjir Parah Imbas Hujan Ekstrem, BMKG Ungkap Pemicunya

Solo Banjir Parah Imbas Hujan Ekstrem, BMKG Ungkap Pemicunya

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Rabu, 15 Apr 2026 16:04 WIB
Suanana banjir di Joyontakan Solo Rabu (15/4/2026) siang.
Suanana banjir di Joyontakan Solo Rabu (15/4/2026) siang. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Semarang -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ahmad Yani Semarang menyebut hujan lebat yang berlangsung di wilayah Solo Raya dan sekitarnya pada Selasa (14/4/2026) kemarin dipicu sejumlah faktor lokal. Potensi hujan diprakirakan masih akan mengguyur sore hingga malam nanti.

Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Winda Ratri, menjelaskan wilayah Solo Raya hingga Kabupaten Semarang dilanda hujan dengan intensitas lebat-sangat lebat kemarin, Selasa (14/4/2026). Diketahui, sejumlah wilayah di Jateng seperti Kota Solo, Sukoharjo, dan Klaten, terdampak banjir akibat diguyur hujan sejak kemarin.

"Sebaran curah hujan harian kemarin itu memang di wilayah Jawa Tengah secara umum hujannya ringan hingga sedang. Namun beberapa wilayah seperti Solo Raya hampir semua, Kabupaten Wonogiri, Klaten, Sukoharjo, Surakarta, Boyolali, Kemudian sebagian wilayah pegunungan tengah seperti Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Magelang, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, memang kemarin hujannya intensitasnya hingga lebat, bahkan sangat lebat," jelas Winda saat dihubungi detikJateng, Rabu (15/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Winda menyebut, intensitas hujan yang sangat tinggi itu dipicu faktor lokal. Dia menyebut El Nino tidak menjadi faktor terjadinya hujan deras tersebut.

ADVERTISEMENT

"Hujannya sekarang itu lebih kepada karena masih peralihan musim, dari musim penghujan ke musim kemarau. Kemudian lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lokalnya. Faktor lokalnya itu antara lain kelembaban di daerah tersebut, kemudian labilitas atau stabil atau tidaknya udara," bebernya.

"Dampak dari El Nino itu sebenarnya bukan, karena kalau El Nino itu kan kebalikannya. Jadi secara umumnya di Indonesia dampaknya akan membuat curah hujan kita semakin sedikit atau semakin kering," lanjutnya.

Adapun labilitas di wilayah Solo Raya dan sekitarnya pada Selasa kemarin disebut sangat tinggi. Sementara di wilayah pegunungan seperti Kabupaten Semarang hujan dengan intensitas sangat tinggi dipicu faktor geografis.

"Nah, berdasarkan pantauan kemarin, memang di wilayah Solo Raya indeks stabilitasnya itu tinggi dibandingkan daerah yang lainnya," jelasnya.

Lebih lanjut, Winda menerangkan, beberapa wilayah di Solo Raya mengalami intensitas hujan sangat lebat. Di sebagian titik di wilayah tersebut bahkan diguyur hujan ekstrem.

"Jadi memang untuk wilayah Solo Raya itu sebagian besar sedang sampai lebat. Kemudian beberapa wilayah seperti Kota Surakarta bagian barat itu sampai sangat lebat. Ada sebaran hujan yang memang sampai ekstrem tapi itu masih lokal, hanya titik-titik kecil," sebutnya.

"Wilayah Sukoharjo yang berbatasan dengan Kabupaten Klaten agak selatannya Surakarta tentu itu ekstrem. Kabupaten Semarang yang perbatasan Boyolali itu juga ekstrem. Tapi itu memang hanya sebagian kecilnya," imbuhnya.

Saat ini, potensi cuaca ekstrem diprakirakan bakal terus berlangsung di Jawa Tengah. Hal tersebut terjadi lantaran adanya peralihan musim.

"Potensi-potensi cuaca ekstrem di masa peralihan peralihan ini memang malah potensinya besar. Potensi cuaca ekstrem, ya, termasuk hujan lebat disertai angin, kemudian sambaran petir, hujan es, puting beliung, hujan disertai angin kencang," tutur Winda.

Winda memprakirakan cuaca di Kota Solo bakal terjadi hujan sedang pada sore atau malam hari. Kondisi tersebut juga diprakirakan bakal berlangsung di Karanganyar.

"Malam ini untuk saat ini sebaran hujan masih di Kabupaten Karanganyar yang pegunungan, contoh dari citra radar. Tapi, untuk nanti malam (wilayah Kota Solo) potensinya ada, tapi sedang," pungkasnya.

9 Kelurahan di Solo Kebanjiran

Diberitakan sebelumnya, sembilan kelurahan di Kota Solo terendam banjir setelah hujan deras mengguyur sejak tadi malam. Ratusan rumah terendam, sejumlah warga sempat mengungsi.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengungkapkan penyebab banjir menggenang di sembilan kelurahan. Salah satunya karena tidak ada talud di sepanjang aliran Sungai Jenes.

Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Budi Murtono, mengatakan bahwa rumah yang berada di aliran Sungai Jenes terdampak banjir karena belum ada talud. Salah satu yang terdampak yakni wilayah RT 03 RW 15, Tipes, Serengan.

"Ya masih ada yang di aliran Sungai Jenes ini yang belum bertanggul, belum ada taludnya ini rata-rata semua terkena dampak banjir," katanya saat ditemui detikJateng di Tipes, Serengan, Rabu (15/4/2026).
Banjir Berangsur Surut

Dari data BPBD Kota Solo, ada 9 kelurahan yang terdampak, yakni Pajang, Kratonan, Joyosuran, Tipes, Bumi, Joyontakan, Panularan, Sondakan, dan Laweyan. Budi Murtono mengatakan, untuk saat ini banjir di Kota Solo sudah mulai surut.

"Ya lumayan tinggi ya, semalam ada yang selutut, ada yang sedada. Sudah (surut) hampir rata-rata sudah. Ini tadinya kan karena intensitas air yang tadi malam yang tinggi saja. Ketika ini sudah mulai turun ya ini sudah surut, cuma kan kita antisipasi yang hari-hari berikutnya," ujar dia.



(alg/dil)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikjateng

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads