Bencana tanah longsor terjadi di Desa Kemiri, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Akibat dari kejadian itu, ada empat rumah warga rusak parah.
"Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya empat rumah warga di lingkungan RT 02/RW 01 mengalami kerusakan serius setelah tanah pondasi bangunan amblas tergerus longsor," ungkap Kasi Humas Polres Blora, AKP Midiyono saat dimintai keterangan detikJateng, Selasa (14/4/2026).
Amblesnya tanah dipicu curah hujan berintensitas tinggi yang mengguyur di wilayah Kecamatan Jepon, Blora pada Minggu (12/4) sekira pukul 04.30 WIB. Midiyono mengatakan warga setempat berinisial AK (31) sempat mendengar suara retakan pada bangunan rumahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengetahui tanah mulai amblas, ia segera mengevakuasi anak dan istrinya untuk keluar menyelamatkan diri," katanya.
Curah hujan tinggi juga terjadi di sore harinya hingga mengakibatkan tiga rumah warga lainnya, yakni milik S, K, dan R juga terdampak hingga mengalami kerusakan pada struktur bangunan.
"Kondisi semakin parah saat hujan lebat kembali mengguyur pada sore hari yang mengakibatkan pergerakan tanah susulan," ucap Midiyono.
Setelah menerima laporan, personel kepolisian langsung menuju lokasi kejadian untuk membantu mengevakuasi barang-barang berharga dan mengamankan lokasi.
"Sebagai langkah awal, warga setempat bersama petugas berupaya menyangga bangunan yang miring menggunakan tiang darurat guna mengantisipasi kerusakan lebih lanjut," katanya.
Pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan dampak bencana lebih lanjut.
"Kami mengimbau kepada masyarakat, khususnya yang bermukim di daerah rawan longsor, untuk tetap waspada mengingat cuaca ekstrem dan curah hujan yang masih tinggi di wilayah Kabupaten Blora," jelas Midiyono.
Sementara itu, seorang warga, Suparjan mengaku rumahnya terdampak longsor. Dia mengatakan pergerakan tanah sudah terjadi sekitar satu minggu, paling parah 3 hari terakhir.
"Longsor sudah satu minggu paling parah, dan tiga hari terakhir yang sampai rumah belakang dan kamar mandi terbawa," ucap dia.
Suparjan mengatakan tanah setiap harinya ada pergerakan hingga fondasi dan konstruksi rumah, bahkan genteng berjatuhan.
"Pagi, siang, hingga malam terus gerak. Namun terasa bangunan retak pada empat hari yang lalu kemudian disusul ada genteng berjatuhan, tanah terus bergerak," jelasnya.
Menurutnya, pergerakan tanah ini juga dipicu oleh bendungan di belakang rumahnya sudah tidak berfungsi lagi.
"Pergerakan ini karena sayap bendungan dan irigasi sudah tidak fungsi lagi, kemudian air mengikis tanah dan lama kemalaman mengikis sebagian pondasi pondasi rumah," ucapnya.
Suparjan mengatakan, sebanyak 4 rumah dengan 4 kepala keluarga terdampak. Sebagian dari mereka sudah mengungsi ke rumah saudara.
"Saya yang terakhir. Ini mau mengungsi. Mau mengungsi ke rumah simbah yang berada di Brumbung (Desa di Kecamatan Jepon)," ucap dia.
(par/apl)











































