Duh! Pembatas Jalan Kedungmundu Semarang Dibobol Jadi Biang Laka-Macet

Duh! Pembatas Jalan Kedungmundu Semarang Dibobol Jadi Biang Laka-Macet

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Senin, 06 Apr 2026 19:29 WIB
Kondisi pembatas jalan di Jalan Kedungmundu, Tembalang, Kota Semarang, yang sering dibuka, Senin (6/4/2026).
Kondisi pembatas jalan di Jalan Kedungmundu, Tembalang, Kota Semarang, yang sering dibuka, Senin (6/4/2026). (Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng)
Semarang -

Warga nekat membuka pembatas jalan di Jalan Kedungmundu, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Aksi ini dinilai membahayakan pengguna jalan.

Pantauan detikJateng di lokasi pada Senin (6/4/2026), tampak pembatas jalan dari traffic cone itu dijejerkan dengan menggunakan tali tampar. Namun, pembatas jalan di posisi tengah tampak terbuka.

Pengguna jalan pun dengan bebas menyeberangi jalan melalui pembatas jalan yang dibuka tersebut. Padahal, di jalan tersebut terdapat rambu dilarang memutar balik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun kondisi jalan tampak padat kendaraan mulai dari motor hingga truk. Dari arah Jalan Tentara Pelajar tampak kondisi jalan menurun.

Seorang pekerja di sekitar Jalan Kedungmundu, Anang Maulana (24), menilai bahaya jika pembatas jalan tersebut dibuka. Sebab, Anang mengatakan, sering terjadi kecelakaan di titik tersebut.

ADVERTISEMENT

"(Apakah pembatas jalan dibuka berbahaya bagi pengguna jalan?) Sebenarnya berbahaya. Kan kemarin dari bawah sering banyak kecelakaan," kata Anang saat ditemui di lokasi hari ini.

Bahkan beberapa waktu lalu, Anang menerangkan, terjadi kecelakaan antara bus kota dan mobil pikap di titik tersebut.

"Sering di situ (terjadi kecelakaan di pembatas jalan yang dibuka). Kemarin BRT sama Grand Max itu nabrak. Dari bawah Gran Max mau putar balik, BRT-nya banter sekali," jelasnya.

Anang menilai seringnya kecelakaan terjadi lantaran kondisi jalan yang menurun dan menanjak. Dia menyebut, terdapat rambu jalan dilarang berputar balik di pembatas jalan.

"Soalnya kan (kondisi jalan) naik turun, bahayanya dari sana. Soalnya sudah ada pelangnya nggak boleh putar balik," katanya.

Pembatasan jalan tersebut, kata Anang, sudah lama dibuka dan ditutup oleh warga sekitar. Lantaran pembatas jalan dibuka, sering terjadi kemacetan arus lalu lintas di jalan tersebut.

"Kalau buka tutupnya sudah lama. Orang-orang sini lah yang buka-buka lah," terangnya.

"Makanya sini kan sering macet. (Kalau pembatas jalan ditutup tidak macet?) Nggak," imbuhnya.

Dia menilai, sebaiknya pembatas jalan tersebut ditutup lantaran kondisi jalan yang menanjak dan menurun. "Dia itu ditutup aja. Soalnya bahaya itu dari bawah kan mendadak," jelasnya.

Adapun titik u-turn atau putar balik di lokasi tersebut berjarak sekitar 200 meter sebelum pembatas jalan yang dibuka. Anang mengatakan, u-turn di Jalan Kedungmundu ke arah Jalan Fatmawati dari titik tersebut tergolong jauh.

Sementara itu warga sekitar, Tutik (66), membenarkan pembatas jalan di Jalan Kedungmundu sering dibuka. Dulunya, pembatas jalan tersebut memang ditutup

"Ya, gitu, (pembatas jalan) dibuka gitu, tapi ada yang nyeberangkan. Dulu ditutup, ditaleni (ditali)" kata Tutik.

Tutik mengatakan, dirinya jarang melewati pembatas jalan yang dibuka. Dia terbiasa melewati jalur alternatif.

"(Sering melewati pembatas jalan yang dibuka?) Jarang lewat sini," katanya.

Respons Dishub Kota Semarang

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Danang Kurniawan, menerangkan pembatas jalan tersebut dipasang sebagai pengaman. Sebab, masih banyak pengguna jalan yang berputar balik di titik tersebut meski telah dipasang rambu lalu lintas.

"Pembatas itu kan jelas untuk pengaman. Jadi, kalau orang pengguna jalan dengan kesadaran yang tinggi itu cukup dengan garis," jelas Danang saat dihubungi detikJateng.

"Tapi kan karena kesadaran masyarakat kita kan masih kurang. Jadi banyak pelanggaran," lanjutnya.

Danang mengatakan, pengguna jalan yang berputar balik di titik tersebut dapat menyebabkan hambatan arus lalu lintas, bahkan kecelakaan.

"Banyak persilangan motong-motong itu, kan, akhirnya bisa menghambat perjalanan. Yang kedua bisa menyebabkan laka," bebernya.

Lebih lanjut, Danang menyebut pihaknya mendapat laporan bahwa pembatas jalan tersebut sering dibuka oleh orang yang memanfaatkan celah di jalan tersebut untuk menyeberangkan penggunaan jalan.

"Tapi itu sekilas saya dapat laporan juga itu memang dimanfaatkan oleh oknum untuk menyeberangkan. Jadi dia dapat keuntungan di situ," ungkapnya.

"Kemudian si penggunanya (pengguna jalan) juga dapat fasilitas jalan pintas. Meskipun itu melanggar karena kan sudah kita berikan rekayasa pembatas," imbuhnya.

Danang menerangkan pihaknya telah mengecek pembatas jalan tersebut secara berkala. Namun, pihaknya sering kucing-kucingan dengan orang yang memanfaatkan celah pembatas jalan tersebut.

"Sebenarnya ada (petugas Dishub yang mengecek). Cuman kita kadang kan harus melaksanakan tugas atau kewajiban di titik lain, tidak hanya mengurusi satu titik," jelasnya.

"Kejadian itu sering karena menang telaten Si Pak Ogahnya memang eksekusi di situ, kucing-kucingan," lanjutnya.

Dishub Kota Semarang pun bakal mempertimbangkan untuk memasang pembatas jalan permanen. Namun, dia mengatakan kondisi jalan tersebut tidak terlalu lebar.

"Mungkin nanti coba kita mungkin rekayasa yang lebih permanen gitu, ya, bisa pakai bulat yang tanam. Tapi pertimbangannya banyak, ya. Kalau kita kasih pembatas yang rigid itu, jalan juga nggak terlalu lebar dibandingkan dengan volumenya," tuturnya.

Jika memang ditemukan orang yang membuka pembatas jalan itu, Dishub Kota Semarang bakal mengambil tindakan tegas. Pihaknya juga bakal lebih intens mengawasi lokasi tersebut.

"Kita intenskan untuk petugas di situ. Kemudian nanti kalau memang ketahuan lagi akan coba kita kasih tindakan yang lebih tegas lagi. Kita koordinasi dengan polsek setempat," pungkasnya.



(aku/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads