Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini membuat banyak pelaku usaha dan masyarakat umum mengeluh dalam mengelola dagangannya. Oleh karena itu, perlu mencari alternatif bahan yang lebih terjangkau.
Perlu diketahui, Indonesia sendiri memiliki banyak sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti plastik. Mulai dari bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar rumah hingga produk olahan yang tersedia luas di pasaran.
Nah, bagi pelaku usaha atau masyarakat umum yang sedang mencari pengganti plastik. Berikut ini adalah sejumlah alternatif pengganti plastik yang bisa menjadi solusi di tengah melonjaknya harga plastik. Yuk, simak daftarnya apa saja!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab Harga Plastik Naik Drastis
Sebelum mengetahui alternatifnya, penting untuk mengetahui penyebab harga plastik naik secara drastis belakangan ini. Ketegangan yang terjadi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama naiknya harga plastik di Indonesia. Terlebih lagi, dilansir detikFinance, kawasan Timur Tengah merupakan pemasok utama bahan baku plastik dunia, yakni sekitar 25% dari total ekspor polietilen dan polipropilen global, berdasarkan data S&P Global Energy.
Konflik tersebut secara langsung mengganggu rantai pasok bahan baku turunan minyak bumi ini ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI), Reynaldi Sarijowan mengungkapkan kenaikan harga plastik ini juga dipengaruhi oleh ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku plastik impor. Ia menyebut bahwa kenaikan ini sudah mulai terpantau sejak memasuki bulan Ramadan dan puncaknya mencapai 50%.
"Kami pantau sudah cukup lama, pada saat memasuki bulan suci Ramadan harga plastik sudah mulai ada kenaikan. Puncaknya ini harganya yang kami sudah hitung kenaikannya mencapai 50%," jelas Reynaldi kepada detikcom pada Minggu (5/4/2026).
Alternatif Pengganti Plastik yang Murah dan Mudah Didapat
Berikut sejumlah alternatif pengganti plastik murah dan mudah didapat, dirujuk dari buku Bahan dan Kemasan Alami oleh FG Winarno dan Andieta Octaria dan buku Panduan Usaha Angkringan Modern oleh Mbah WP:
1. Daun Pisang
Daun pisang adalah pengganti plastik yang sudah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu sebagai pembungkus makanan tradisional. Daun pisang bisa digunakan untuk membungkus makanan jadi atau diolah bersama makanan.
Daun pisang juga memiliki aroma yang bisa menambah cita rasa makanan. Harganya pun sangat murah bahkan bisa didapat secara gratis. Selain itu, daun pisang juga memiliki ukuran daun yang besar dengan permukaan yang licin dan halus, sehingga pas untuk membungkus makanan.
Namun, daun pisang tidak tahan lama dan mudah layu setelah dipetik. Meski mudah dibentuk sebagai pembungkus makanan, sifatnya yang mudah sobek membuat daun pisang kurang cocok untuk membungkus makanan berkuah atau berat.
2. Daun Jati
Selain daun pisang, daun jati juga sudah lama digunakan sebagai pembungkus makanan, terutama di Jawa. Permukaannya yang lebar membuatnya cocok untuk membungkus nasi atau lauk pauk.
Kekurangannya, daun jati yang kering lebih mudah sobek. Selain itu, aroma daunnya yang khas juga bisa memengaruhi makanan.
3. Kulit Jagung
Alternatif selanjutnya adalah kulit jagung atau klobot. Kulit jagung bisa digunakan sebagai pembungkus makanan dalam kondisi segar maupun kering. Kulit jagung kering biasanya memiliki daya tahan simpan yang lebih lama. Namun, ukurannya yang terbatas dan berbeda-beda membuat penggunaannya kurang mudah disesuaikan dengan sejumlah jenis makanan.
4. Pelepah
Pelepah batang daun atau pohon juga bisa digunakan sebagai alternatif pengganti plastik. Pelepah biasanya cenderung memiliki kandungan air yang rendah. Selain itu, pelepah juga bersifat lebih kuat dibandingkan daun dan lebih besar.
Sayangnya, membutuhkan proses yang lebih banyak untuk menggunakan pelepah sebagai kemasan makanan karena ukurannya yang besar. Teksturnya yang keras juga menyebabkan pelepah mudah dibentuk.
5. Daun Kelapa
Bahan alami lainnya yang bisa digunakan sebagai pengganti plastik adalah daun kelapa. Daun kelapa bisa digunakan sebagai pembungkus makanan dalam kondisi daun yang masih segar.
Pada bagian luar daunnya, terdapat lapisan lilin yang cukup tebal sehingga permukaannya terasa halus dan licin. Hal inilah yang membuat daun kelapa unggul sebagai pembungkus makanan karena tidak akan lengket pada permukaannya.
Meski begitu, daun kelapa juga memiliki kekurangan. Ukurannya yang kurus dan panjang menjadikannnya tidak cocok untuk makanan yang besar atau berkuah.
6. Kertas Minyak
Kertas minyak umum digunakan untuk membungkus gorengan, roti, dan kue karena tahan terhadap minyak dan kelembaban. Harganya juga murah dan sangat mudah ditemukan di toko-toko maupun pasar tradisional.
Namun, kertas minyak tetap merupakan produk sekali pakai sehingga harus rutin membeli stok. Lapisan khusus pada permukaannya juga membuatnya tidak sepenuhnya ramah lingkungan dibanding bahan alami lainnya. Ditambah lagi, kertas minyak juga tidak tahan lama terhadap makanan berkuah. Kandungan minyak yang terlalu banyak dari makanan juga bisa tembus ke luar.
7. Styrofoam
Plastik juga bisa digantikan dengan styrofoam. Bahannya biasanya ringan dan sangat baik dalam menjaga suhu makanan tetap hangat maupun dingin. Harga styrofoam juga sangat murah di pasaran.
Namun, styrofoam sangat sulit terurai di alam dan bisa bertahan ratusan tahun. Bahan kimia di dalamnya juga berbahaya bagi kesehatan, terutama bila terkena makanan atau minuman panas.
8. Paper Bag
Paper bag bisa digunakan sebagai pengganti kantong plastik. Paper bag bisa dilipat dan disimpan ketika tidak digunakan. Bahannya juga dapat didaur ulang. Selain itu, bentuk paper bag biasanya juga tersedia dalam berbagai ukuran sehingga bisa menyesuaikan kebutuhan, baik untuk membungkus makanan atau tas belanja. Namun, paper bag memiliki kekurangan, yakni kurang tahan terhadap air dan kurang cocok untuk membawa beban terlalu berat.
Itulah sejumlah alternatif yang murah dan mudah didapat untuk menggantikan penggunaan plastik. Semoga membantu!
Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(num/apu)











































