Benarkah El Nino 'Godzilla' Bikin Musim Kemarau Lebih Ekstrem? Cek Mitigasinya!

Benarkah El Nino 'Godzilla' Bikin Musim Kemarau Lebih Ekstrem? Cek Mitigasinya!

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Minggu, 05 Apr 2026 11:11 WIB
Ilustrasi El Nino dan Musim Kemarau
Ilustrasi El nino 'Godzilla'. (Foto: jcomp/Freepik)
Solo -

Fenomena El Nino sering kali menjadi momok bagi masyarakat Indonesia karena dampaknya yang signifikan terhadap pergeseran pola cuaca secara global. Nama yang merujuk pada "anak laki-laki" dalam bahasa Spanyol ini menggambarkan kondisi anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur yang menarik awan hujan menjauh dari tanah air. Ketika intensitas pemanasan ini mencapai level yang luar biasa kuat, banyak pihak mulai melabelinya sebagai El Nino 'Godzilla', sebuah sinyal peringatan akan datangnya musim kemarau dengan tingkat kekeringan yang jauh lebih ekstrem dari biasanya.

Kekhawatiran akan kondisi lingkungan yang mengancam ini bukan tanpa alasan jika melihat catatan sejarah iklim kita. Menurut data BMKG, El Nino kuat yang pernah terjadi pada tahun 1997 menjadi bukti nyata bagaimana curah hujan di Indonesia bisa merosot secara drastis hingga jauh di bawah rata-rata normalnya. Penurunan curah hujan yang mencapai lebih dari 40% ini memicu kondisi kekeringan sangat rendah (extremely low rainfall) di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua, yang berdampak langsung pada kegagalan panen dan krisis air nasional.

Guna menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi tersebut, pemahaman mengenai langkah mitigasi menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko kerugian. BMKG menghimbau agar seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah mulai bersiap dengan mengoptimalkan penyimpanan air cadangan serta menjaga pola konsumsi air yang lebih bijak. Dengan persiapan yang matang sejak dini, efek domino dari kemarau panjang, mulai dari sektor pertanian hingga risiko kebakaran hutan, dapat ditekan seminimal mungkin agar dampak ekstrem El Nino tidak melumpuhkan aktivitas harian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa El Nino 'Godzilla' Begitu Berbahaya bagi Indonesia?

Pertanyaan besarnya, benarkah El Nino 'Godzilla' ini otomatis membuat kemarau di Indonesia jadi ekstrem? Jawabannya terletak pada hubungan timbal balik antara suhu laut dan atmosfer. Menurut publikasi Sani Safitri yang berjudul El Nino, La Nina Dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Di Indonesia, El Nino terjadi ketika air laut yang panas dari perairan Indonesia bergerak ke arah timur menyusuri ekuator hingga ke pantai barat Amerika Selatan.

ADVERTISEMENT

Pertemuan massa air panas dalam jumlah besar ini menyebabkan udara di atas Pasifik tengah dan timur memuai ke atas (konveksi), membentuk daerah bertekanan rendah di sana. Akibatnya, angin yang menuju Indonesia hanya membawa sedikit uap air. Inilah yang menyebabkan kemarau tidak hanya terasa panas, tapi juga menjadi sangat panjang karena hujan "terkunci" di tengah samudera. Dampak lanjutannya pun nyata: kekeringan meteorologis parah yang memicu risiko kebakaran hutan, kabut asap berkepanjangan, hingga kesulitan akses air bersih yang berpotensi menyebarkan penyakit seperti kolera.

El Nino Godzilla Diprediksi Mulai Kapan?

Terkait kapan periode kering ini mulai menunjukkan taringnya, BMKG telah merilis prediksi spesifik mengenai awal musim kemarau di tahun 2026. Meskipun pemantauan indeks SSTA di wilayah Nino per akhir Maret 2026 tercatat sebesar +0,08 Β°C (fase Netral), transisi pasca-berakhirnya La Nina lemah pada Februari 2026 justru membawa percepatan musim kemarau.

BMKG memprediksi awal musim kemarau 2026 akan melanda Indonesia secara bertahap pada periode berikut:

  • April 2026 (16,3% Wilayah): Dimulai dari wilayah Nusa Tenggara (NTB & NTT), sebagian pesisir Bali, dan wilayah tapal kuda di Jawa Timur.
  • Mei 2026 (26,3% Wilayah): Meluas ke sebagian besar Pulau Jawa (Jateng, Jabar utara, DIY), sebagian Sumatera (Lampung, Sumsel), dan wilayah Sulawesi bagian selatan.
  • Juni 2026 (23,3% Wilayah): Mencapai sebagian Kalimantan (Kalsel, Kaltim), wilayah Sumatera utara, hingga wilayah Papua bagian selatan (Merauke).

Dalam publikasi El Nino, La Nina Dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Di Indonesia karya Sani Safitri dijelaskan bahwa El Nino dipicu oleh anomali suhu mencolok di Samudera Pasifik dan melemahnya angin pasat (trade winds). Senada dengan hal tersebut, Sani Safitri menekankan bahwa terganggunya keseimbangan iklim akibat pemanasan global membuat musim kemarau menjadi sangat kering dan permulaan musim hujan sering kali terlambat.

Data BMKG menunjukkan bahwa 46,5% wilayah Indonesia akan mengalami awal kemarau yang maju atau lebih awal dari normalnya. Dengan puncak kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus 2026, kewaspadaan terhadap durasi kemarau yang lebih panjang (dialami 57,2% wilayah) harus ditingkatkan mulai sekarang.

Mitigasi Hadapi Kemarau Panjang

Agar detikers tetap tangguh menghadapi potensi kemarau ekstrem, berikut langkah-langkah mitigasi praktis yang bisa dilakukan dilansir dari laman BMKG:

  • Panen Hujan: Tampung sisa air hujan di masa transisi ke dalam tandon atau embung sebagai cadangan.
  • Gerakan Hemat Air: Kurangi penggunaan air yang tidak mendesak untuk menjaga ketersediaan air tanah.
  • Optimalisasi Infrastruktur: Pastikan waduk dan kolam retensi berfungsi optimal untuk menyimpan cadangan air buatan.
  • Waspada Karhutla: Jangan melakukan pembakaran lahan atau sampah sembarangan, terutama di area yang sangat kering.
  • Pantau Update: Selalu cek analisis iklim terkini dari BMKG setiap 10 hari agar langkah antisipasi tetap relevan.

Dengan mitigasi yang disiplin, kita bisa meminimalkan dampak buruk kemarau panjang tahun ini. Tetap waspada ya, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(sto/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads