Membuatkan KTP untuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) ternyata membutuhkan usaha lebih. Terkadang, petugas harus datang beramai-ramai dengan alat lengkap dan merayu ODGJ agar mau melakukan perekaman e-KTP.
Perjuangan petugas di Temanggung bahkan jadi viral di media sosial. Dalam video yang beredar, tampak petugas membawa sejumlah peralatan mulai dari kamera hingga laptop. Selain itu, petugas juga membawa kain warna merah yang dipegang dua orang untuk latar belakang foto.
Terlihat petugas berulang kali harus bergeser demi menyesuaikan posisi ODGJ saat akan difoto. Sebab, ODGJ itu selalu bergerak, sehingga dibutuhkan kesabaran serta bujuk rayu saat proses perekaman data.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Video proses perekaman ini pun yang mengundang netizen berkomentar. Mulai dari komentar positif hingga nyinyir terhadap petugas yang melakukan perekaman.
"Perjuangan Kepala Desa di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah membantu pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Temanggung untuk melakukan foto atau perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP) pada seorang ODGJ. Aksi tersebut diabadikan oleh wulan.semar yang menceritakan perjuangan membujuk ODGJ dengan rokok dan lainnya agar mau difoto," tulis akun @infokabarmagelang seperti dilihat detikJateng, Sabtu (4/4/2026).
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Temanggung, Bagus Pinuntun, mengatakan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mengatakan perekaman KTP ODGJ itu dilakukan pada Kamis beberapa waktu lalu.
"Kalau dalam video itu, kesulitan sidik jari dan face recognition (mata, iris). Kalau dalam video itu termasuk tidak susah. (Desa melaporkan) Kalau yang (ngamuk) kami melibatkan puskesmas dan polisi," Bagus saat dihubungi detikJateng, Sabtu (4/4/2026).
Bagus menyebut tugasnya memang melakukan perekaman data penduduk. KTP disebut merupakan salah satu hal penting dalam pencatatan warga.
"Pencatatan kependudukan yang berwujud KTP itu boleh dikatakan pencatatan kependudukan versi paling sempurna. Dilengkapi dengan bukti yang bersangkutan difoto, sidik jari, kemudian face recognition," kata
"Alat yang kita gunakan itu ada dua alat. Alat yang sifatnya mobile dan alat sifatnya tidak mobile. Yang dibawa kawan-kawan itu (ke lokasi) portable. Alat ini spesifik kalau lengkap pasti ada data base, siak, ada iris, ada sidik jari dan lain sebagainya," tambahnya.
Bagus menjelaskan, tidak semua warga itu bisa mendatangi ke kantor Kecamatan atau Dinas Pencatatan Sipil dan Kependudukan yang sistem peralatannya lengkap. Karena itu pihaknya melakukan upaya jemput bola.
"Ada warga yang tidak bisa datang yang sifatnya rentan. Rentan itu karena keterbatasan fisik, ODGJ dan lainnya, harus didatangi. Makanya di kita ada gerakan melayani penduduk rentan," ujarnya.
"Karena ini rentan pasti tidak sempurna. Kalau yang sempurna secara sistem kita merekam dicocok data di Depdagri bisa dicetak e-KTP-nya. Untuk penduduk rentan ini kan tidak bisa diambil semua (perekamannya) secara sempurna seperti sidik jari kesusahan, ambil wajahnya juga susah tidak bisa sempurna. Ketidaksempurnaan (perekaman) ini oleh sistem difasilitasi sehingga ketika ngambil, makanya komputer ditenteng terus agar sinyal dan foto pas menyambung," kata dia.
Hasil perekaman yang ketidaksempurnaan tersebut, kata dia, dilaporkan kepada pusat.
"Bahwa orang ini identitas kependudukannya tidak sempurna. Mungkin tidak ada sidik jarinya, tapi orang ini (ada). Maka diambil angle foto kira-kira ketika dicocokkan itu minimal 80 persen foto presisi," tambahnya.
