Umat Katolik di Kota Magelang menggelar kirab dan jalan salib keliling Kota Magelang. Yang istimewa dalam kirab ini kali yakni ditampilkannya Relikui Salib Yesus atau bagian dari salib Yesus yang berada di Gereja Katolik Santo Ignatius.
Pantauan detikJateng, kirab dan jalan salib ini mengambil start dari Gereja Katolik Santo Ignatius di Jalan Yos Sudarso No 6 Kota Magelang. Kemudian, umat berjalan menyusuri Jalan Veteran-Jalan Ahmad Yani-Jalan Alun-alun Selatan-Jalan Tentara Pelajar dan kembali menuju Gereja Katolik Santo Ignatius.
Dalam kirab ini melintasi depan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio dan Masjid Agung Kauman. Kedua tempat ibadah yang berada di kawasan Alun-alun Kota Magelang. Perjalanan ini sekitar 2 sampai 2,5 km.
Sepanjang perjalanan, umat ini mendapatkan pengamanan dari Banser dan personel dari Polres Magelang Kota. Umat pun sempat berhenti di Polres Magelang Kota. Di lokasi ini, umat disambut Wali Kota Magelang Damar Prasetyono bersama pejabat lainnya.
Suasana prosesi jalan salib yang dilakukan umat Katolik di Kota Magelang dan Relikui, Jumat (3/4/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Romo Kepala Paroki, Santo Ignatius Romo FX Alip Suwito Pr, mengatakan pertama hari ini ingin mendoakan Kota Magelang yang berulang tahun ke-1120. Menurutnya, tema yang ditawarkan menarik untuk direnungkan dan apresiasi bersama dengan sikap peduli dan bagaimana membangun Kota Magelang.
"Maka pada hari ini, kami merayakan bersama-sama Jumat Agung sebagai sarana untuk merenungkan wafat Yesus yang kami rayakan pada hari ini. Dan di dalam kami berdevosi pada salib Tuhan ini," kata Alip kepada wartawan di Gereja Katolik Santo Ignatius, Jumat (3/4/2026).
"Salah satu yang ingin ditampilkan selama ini ada di tempat ini (gereja) adalah salah satunya adalah Relikui Salib Yesus. Dan itu real, nyata dan dari Salib Yesus yang ada di Yerusalem, sekarang ada di Vatikan," sambung Alip.
Relikui Salib Yesus, kata Alip, bagi orang Katolik istilahnya relikui itu cuwilan.
"Itu ada di sini (gereja) berarti pilihan. Tempat ini untuk mengagungkan, untuk berdoa bersama-sama bersyukur dengan Kota Magelang itu dimulai dari salib ini," imbuhnya.
Data sejarah, katanya, tertulis di 8 April 1894. Sedangkan Gereja Katolik Santo Ignatius ada sekitar tahun 1900-an.
"Menurut data sejarah itu tertulis 8 April 1894. Ya kita arak, baru kali pertama," bebernya.
"Sebenarnya ada di tempat ini berarti ya kurang lebih anggaplah karena gereja ini kan 1900 maka sejak saat itu relikui salib ada di sini. Hanya selama ini kan ada di dalam, lalu kita ingin mengaraknya mendoakan kota ini. Saya hanya melihat bahwa ya inilah cara Tuhan memberkati kota kita," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesan khusus saat Jumat Agung, kata Alip, di Jumat Agung bersama-sama diajak untuk memiliki dua komponen dalam hidup. Menurutnya, pertama adalah korban dan kedua ketulusan.
"Korban karena Tuhan sudah jadi manusia dan berkorban untuk hidup kita. Dan yang kedua, ketulusan, keikhlasan. Karena pada hari ini, kami puasa berarti juga merelakan ikhlas untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang mungkin kadang kita tidak kehendaki, tapi terjadi," pesannya.
"Dari situ, kita ingin belajar ikhlas, tulus seperti halnya Tuhan juga tulus dan ikhlas memberikan dirinya untuk kita," bebernya.
Sedangkan, Ketua Panitia Kirab dan Jalan Salib 2026, Albertus Indra F, mengatakan umat yang mengikuti sekitar 1.200-an.
"Ini terbagi dari beberapa wilayah dan kemungkinan juga ada gereja sekitar paroki. Kami juga share ke beberapa paroki yang ada sekitar Magelang," ujar Indra.
Suasana prosesi jalan salib yang dilakukan umat Katolik di Kota Magelang dan Relikui, Jumat (3/4/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Indra menambahkan, masing umat membawa salib pengharapan.
"Salib pengharapan akan menjadi ikon masing-masing wilayah untuk menunjukkan bahwa wilayah berkontribusi," katanya.
"Masing-masing umat juga kita suruh atau kita minta untuk membawa salib juga dari rumah dan benda-benda rohani. Untuk nantinya kita akan berkati romo setelah ibadatan selesai," tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, atas nama Pemerintah Kota Magelang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia dan umat Katolik yang menyelenggarakan kegiatan dengan tertib.
"Tentunya ini yang telah menyelenggarakan kegiatan ini dengan tertib dan khidmat. Ini bukan hanya menjadi bagian penting dari kehidupan umat Katolik saja, tetapi juga menjadi cerminan kehidupan sosial masyarakat Kota Magelang yang harmonis, rukun, toleransi, meskipun dalam keberagaman," kata Damar.
"Penyelenggaraan kirab salib ini tidak hanya bentuk ekspresi kehidupan keagamaan umat Katolik saja, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat," imbuhnya.
Damar berharap, kegiatan ini diselenggarakan dengan baik dan optimal berpotensi menjadi daya tarik wisata daerah.
"Saya berharap setiap tahunnya ada progres, setiap tahunnya ada inovasi sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Kota Magelang. Masyarakat yang toleransi, humanis. Karena apa, saya juga berharap bahwa kita 2025 ini menjadi Kota Toleransi nomor 4 di Indonesia. Saya berharap kota ini menjadi nomor 1 se-Indonesia toleransinya," pungkasnya.
Simak Video "Video Api Abadi Mrapen Padam, Kenapa?"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/apl)













































