Warga Dukuh Gunungrowo, Desa Sambongrejo, Tunjungan, Blora, protes lantaran jalan paving di desanya rusak parah gegara dilewati kendaraan proyek Impres Jalan Desa (IJD).
Sekitar 50 warga yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Sambongrejo Bersatu hari ini memblokade jalan dengan membentangkan spanduk. Tulisannya, 'Kami menagih janji PT Mitra Wardhana untuk segera memperbaiki jalan yang rusak akibat proyek IJD 2025'.
Untuk diketahui, pada akhir 2025, pemerintah mengadakan proyek peningkatan jalan Tunjungan-Japah Kabupaten Blora senilai Rp 27,9 miliar bersumber dari APBN melalui program Inpres Jalan Desa (IJD) tahun 2025. Proyek tersebut dikerjakan kontraktor PT Mitra Wardhana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga setempat, Keluk Pristiwahana, mengatakan jalan desa yang berada di Dukuh Gunungrowo, Desa Sambongrejo, ini rusak akibat dilalui kendaraan proyek IJD. Jalan desa tersebut menjadi akses pengalihan. Padahal jalan ini dari paving, sehingga tidak seharusnya dilewati kendaraan bertonase tinggi.
"Kami menagih janji katanya mau diperbaiki setelah proyek selesai. Karena dilewati kendaraan berat proyek peningkatan IJD," ucapnya saat ditemui di lokasi, Selasa (31/3/2026).
Jika jalan paving yang hancur itu tidak diperbaiki dalam waktu seminggu, warga berencana melaporkan pihak penyedia proyek.
"Kami meminta dalam waktu 1 minggu untuk melakukan perbaikan sepanjang 1.300 meter yang dulu pernah dilewati alat berat. Jika tidak dipenuhi janjinya, warga akan melaporkan PT terkait. Karena jalan itu tidak masuk golongan kendaraan proyek," ujar dia.
Keluk menyebut, jalan rusak ini sering menyebabkan kecelakaan.
"Beberapa kejadian kecelakaan, truk terguling, motor terpeleset. Selain kendaraan proyek yang lewat, semua akses jalan kan dialihkan ke sini semua," ucap Keluk.
"Warga melakukan blokade jalan, sementara tidak boleh dilewati, saking rusaknya membahayakan pengguna jalan. Warga melakukan penanaman pisang sebagai bentuk protes," imbuhnya.
Kepala Desa Sambongrejo, Siswadi, mengaku telah didatangi warga yang mengeluhkan kondisi jalan rusak tersebut.
"(Jalan rusak) Ini sebetulnya sudah lama. Warga datang ke saya, resah tentang jalan ini," jelasnya.
Siswadi mengatakan, pihak desa saat itu memberikan izin kepada pihak penyedia jasa untuk menggunakan jalan desa sebagai pengalihan jalan darurat.
"Tetapi janji kontraktornya, mandornya, itu jalannya setelah selesai (proyek) kembali baik. Terus berjalannya waktu cuma dikasih grosok 5 rit, dari awal kan paving tapi dikasih grosok," jelas dia.
Siswadi mengatakan, grosok itu diturunkan ke beberapa titik. Lalu warga sendiri yang meratakannya secara gotong royong.
"Yang menata grosok itu warga sendiri, swadaya warga sendiri. Makanya warga emosi kan, makanya sampai kejadian (aksi) kayak gini," jelasnya.
"Kalau keinginan warga yang penting baik. Dari semula baik jadi baik lagi. Entah itu diaspal, dipaving atau dicor beton, itu tergantung dari anggaran yang tersedia," imbuhnya.
Sementara itu, Plt Kepala DPUPR Kabupaten Blora, Nidzamudin Al Huda mengatakan pihaknya akan memfasilitasi keinginan masyarakat. Dia menyebut rusaknya jalan desa ini akibat proyek peningkatan jalan Tunjungan-Japah.
"Memang kerusakan jalan desa ini kemarin untuk mobilisasi pada waktu pembangunan jalan infrastruktur," jelasnya di lokasi.
"Tentunya saya harus komunikasi dengan sana (Pejabat Pembuat Komitmen, PPK) nggih, karena itu bukan domain saya. Itu domain PPK. Kalau dari desa mau mengajukan rehab jalan ini ke kabupaten, dari desa seperti apa nanti akan kita tindaklanjuti," sambungnya.
