Salah satu guru di SDN Lempongsari yang menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lempongsari menyoroti penutupan sementara SPPG tersebut. Ia mengaku sudah banyak menyampaikan keluhan sejak 2025.
"Keluhan kami itu sudah dari sejak lama, sejak akhir 2025. Kami sudah sering komplain, tapi perbaikannya hanya sebentar, setelah itu kembali lagi seperti semula," kata Guru Kelas 5 SDN Lempongsari, Umi Mahmudah di sekolah, Senin (30/3/2026).
Umi menjelaskan keluhannya mencakup menu makanan hingga kebersihan dapur SPPG. Ia menyebut, selama Ramadan, menu yang diberikan dinilai kurang sesuai dan cenderung tidak sehat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menu saat Ramadan kemarin itu banyak kayak gorengan semacam nugget kan berminyak, terus dibungkus plastik. Buahnya juga tidak sesuai standar, jeruk itu juga ukurannya tidak sesuai standar," jelasnya.
Tak hanya itu, Umi juga mengungkap pernah ditemukan makanan yang sudah tidak layak konsumsi sejak awal program MBG itu berjalan di sekolahnya.
"Kita sebagai penerima sudah sering menyampaikan keluhan, dulu pernah dapat nasi goreng, ternyata sudah tidak layak, basi. Terus murid kami pernah dapat roti bolu kukus yang sudah berjamur," katanya.
"Kita sudah menyampaikan beberapa kali, PIC SD sudah menyampaikan keluhan kami, tapi masih saja diulangi. Bahkan mereka tidak memperbaiki kualitas, masih sama seperti dulu," tuturnya.
Ia menyebut, keluhan serupa juga disampaikan warga dari sejumlah RW di Kelurahan Lempongsari. Aduan itu kemudian menumpuk tanpa adanya perbaikan.
"Mau tidak mau keluhan dari penerima semakin menumpuk, sampai tim dari pusat turun langsung ke SPPG untuk melihat langsung proses produksinya. Padahal keluhan kami sudah dari tahun lalu," ucapnya.
"Kita sering komplain kepada SPPG tapi kadang diterima, terus selama 1-2 minggu mereka memperbaiki, tapi kalau sudah lama kembali lagi. Menu yang diberikan kurang layak, yang lainnya padahal bisa memberikan menu bagus, kenapa SPPG ini tidak bisa," imbuhnya
Ia menyebut, SPPG tersebut akhirnya pun disidak dan ditemukan sejumlah persoalan di dapur SPPG, mulai dari kebersihan hingga bahan makanan yang tidak layak.
"Ditemukan kondisi dapur kurang layak, lantai kotor, ada sayuran busuk, bahkan buah seperti jeruk juga banyak yang sudah busuk," ungkapnya.
Meski demikian, Umi menyebut sejauh ini belum ada laporan gangguan kesehatan serius pada siswa akibat makanan tersebut. Pihak sekolah juga telah mengimbau siswa dan orang tua untuk lebih berhati-hati.
"Kami selalu sampaikan, kalau makanan dirasa tidak layak, jangan dimakan," terangnya.
Umi pun berharap, dengan adanya sidak dari BGN, ke depan pihak SPPG dapat memperbaiki kualitas makanan, terutama dari sisi kebersihan dan kandungan gizi.
"Harapan kami minta tolong kebersihannya benar-benar dijaga karena ini untuk anak-anak. Selain itu harus memperhatikan higienisnya, makanannya layak konsumsi, perhatikan nilai gizinya," pintanya.
"Karena kemarin puasa menu yang disajikan seringnya kacang, keripik, itu apakah bergizi? Buah juga diperhatikan, karena ada yang dapat jeruk busuk," lanjutnya.
Hari ini pun telah dilakukan mediasi antara SPPG, Posyandu, koordinator sekolah penerima MBG, hingga kelurahan. Pihak SPPG tak berkenan melakukan wawancara saat ditanya awak media. Koordinator SPPG meminta agar wartawan bersurat ke SPPG.
"Saya relawan, nggak tahu ini. Nanti sama yang berwenang saja. (Yang berwenang dari SPPG siapa?) Kurang tahu, saya relawannya," kata salah satu relawan SPPG Lempongsari yang tak mau disebut namanya usai mediasi.
Sementara itu, Lurah Lempongsari, Tin Subekti yang memfasilitasi mediasi mengatakan diskusi hari ini dilakukan untuk mencapai kesepakatan terkait surat pengaduan kader Posyandu untuk pemberhentian operasional SPPG Lempongsari.
"Intinya dari pihak SPPG itu berharap ada pencabutan dari pihak yang komplain kemarin, sudah tadi. Jadi, dari pihak yang komplain kemarin intinya akan menarik surat tersebut tapi dengan beberapa catatan," ujarnya.
Ia mengaku sempat mendapat komplain dari guru hingga kader Posyandu yang mendapat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Lempongsari dan sudah menyampaikan kepada pihak SPPG. Namun hal itu tak dihiraukan dan SPPG baru meminta mediasi hari ini usai ada surat permintaan pemberhentian SPPG.
"Dari kader kita memang menemukan buah yang tidak layak untuk dikonsumsi, akhirnya melayangkan surat ke SPPG. Tapi tadi sudah ada catatan yang mau dituangkan ke dalam surat kesepakatan, sebagai klarifikasi, tindak lanjut dari surat pencabutan," ujarnya.
"Tanggung jawab kita sebagai orang tua, kader, di bawah kita kan ada anak-anak, balita, bumil, busui, nutrisinya benar-benar harus diperhatikan. Kalau kurang layak kita sampaikan. Itu ditemukan awal puasa. Pisangnya busuk," pungkasnya.
(par/aku)











































