Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menyebut bendung milik Provinsi Jateng yang berada di Kabupaten Sragen yang mengaliri hingga Boyolali dinilai kurang maksimal. Sebab itu, pihaknya membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Ketitang di Boyolalil.
"Di sebelah sana (Boyolali) itu ada daerah irigasi milik provinsi, ada semacam bendung, tapi sudah sekian lama kurang di-maintenance. Sehingga kemudian sawah di daerah sini itu tidak terairi lagi oleh bendung yang ada di seberang sana. Bendung Boyo di Sragen tapi salurannya sampai Boyolali," jelas Dody usai meninjau JIAT di Kecamatan Nogosari, Boyolali, Minggu (29/3/2026).
Dody mengatakan, pihaknya mendapat permintaan agar dibangun JIAT Ketitang di wilayah tersebut. Sebab, masyarakat hanya mengandalkan hujan untuk bertani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada permohonan untuk Jaringan Irigasi Air Tanah karena selama ini sudah beberapa tahun ini memang hanya mengandalkan pada curah hujan saja," sebutnya.
"Alhamdulillah, kita bisa bikinkan Jaringan Irigasi Air Tanah, sekaligus untuk menjawab kebutuhan air karena ketersediaan air di luar musim hujan," lanjutnya.
Menteri PU Dody Hanggodo saat meninjau JIAT Ketintang di Boyolali, Minggu (29/3/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
Adapun JIAT tersebut telah dibangun pada 2025. JIAT tersebut telah mengairi satu kali masa tanam.
Dody memaparkan, sumur air untuk JIAT di Nogosari memiliki kedalaman 120 meter. Adapun debit airnya mencapai 12 liter/detik.
Hanya saja air dari JIAT tersebut tidak langsung mengalir ke irigasi tersier sehingga kurang maksimal. Sementara ini, JIAT Ketitang mampu mengairi 20 hektare lahan jika tidak melewati irigasi tersier.
"Cuma saya tadi komen ke Pak Kepala Balai, alangkah baiknya kalau air itu dikucurkannya ke, paling nggak ke irigasi tersier," jelas Dody.
"Sementara 20 hektare (kemampuan pengairan JIAT tanpa irigasi tersier). Harapannya kalau ada irigasi tersier mungkin akan lebih," tambahnya.
Baca juga: Di Boyolali, Sapi Pun Turut Berlebaran |

