Ada Festival Balon Tambat, Langit Pekalongan Cantik Banget!

Ada Festival Balon Tambat, Langit Pekalongan Cantik Banget!

Robby Bernardi - detikJateng
Sabtu, 28 Mar 2026 11:36 WIB
Festival Balon Tambat 2026 di Stadion Hoegeng Kota Pekalongan, Sabtu (28/3/2026).
Festival Balon Tambat 2026 di Stadion Hoegeng Kota Pekalongan, Sabtu (28/3/2026). (Foto: Robby Bernardi/detikJateng)
Pekalongan -

Langit Kota Pekalongan dipenuhi warna-warni balon udara dalam gelaran Festival Balon Tambat 2026, pagi ini. Event tahunan ini kembali menyedot perhatian ribuan warga yang antusias menyaksikan kreativitas 40-an tim balon tambat di Stadion Hoegeng Kota Pekalongan.

Sesuai namanya, balon udara yang diterbangkan dalam festival ini dipasang tali penambat. Hal ini memastikan balon udara tidak bergerak liar hingga membahayakan penerbangan.

Salah satu peserta, Tengok Tim asal Kelurahan Sapuro, Udin, mengusung tema Javanese Culture dengan mengangkat tokoh pewayangan seperti Gatotkaca dan Srikandi. Perwakilan tim mengaku telah mengikuti festival sejak pertama kali digelar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari awal ada festival di Pekalongan sampai sekarang alhamdulillah tidak pernah absen," ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Untuk tahun ini, Tengok Tim menargetkan hasil maksimal setelah sebelumnya meraih juara dua. Proses pembuatan balon pun tidak mudah.

ADVERTISEMENT

"Super rumit, pembuatannya sampai dua bulan," katanya.

Selain Tengok Tim, tim Pecinta Seni Degayu (Peseni) juga tampil dengan konsep budaya khas Kota Pekalongan. Mereka mengangkat tema batik sebagai identitas daerah, lengkap dengan ikon-ikon kota.

"Kami ingin menceritakan keindahan Kota Pekalongan lewat balon ini, terutama batiknya supaya semakin dikenal luas," ujar Muhammad Taufiq dari tim Peseni.

Ia mengungkapkan proses pembuatan balon membutuhkan waktu hingga empat bulan dengan delapan orang dalam satu tim.

"Kadang sampai dua hari tidak tidur demi menyelesaikan balon," tambahnya.

Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam festival tahun ini. Menurutnya, kreativitas peserta semakin meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Festival Balon 2026 ini sangat luar biasa, lebih kreatif dan variatif. Pesertanya juga semangatnya luar biasa," ungkapnya.

Ia juga menyoroti munculnya balon dengan motif tokoh-tokoh ataupun super hero pewayangan.

"Kalau saya jadi juri, bingung menentukan pemenangnya. Karena penilaian bukan hanya motif, tapi juga kekompakan tim, diameter balon, dan kesempurnaan saat terbang," jelasnya.

Afzan berharap festival ini terus berkembang dan mampu menekan tradisi balon udara liar yang berbahaya, sekaligus menjadi ajang pelestarian budaya dan kreativitas masyarakat. Ia berharap dengan adanya festival balon ini mengurangi bahkan menghilangkan balon udara liar di puncak syawalan.

Dengan cuaca cerah dan angin yang relatif tenang, hampir seluruh balon berhasil mengudara dengan sempurna, menambah semarak langit Pekalongan dalam festival yang kian menjadi kebanggaan daerah tersebut.

Efektif Tekan Balon Udara Liar

Festival balon udara tambat cukup efektif dalam menangkal balon liar. Penerbangan balon liar di tahun ini menurun cukup signifikan.

Direktur Keselamatan AirNav Indonesia, Nurcahyo Utomo, mengatakan pada tahun 2025, tercatat 51 laporan pilot terkait balon udara, sementara tahun ini turun menjadi 22 laporan. Balon liar itu muncul tidak hanya di Jawa Tengah, ada juga di Jawa Timur. Area Pekalongan, Wonosobo, dan sekitar Surabaya.

"Dua hari terakhir tanggal 26 dan 27 (Maret) tidak ada laporan pilot. Jadi terakhir laporan diterima pada tanggal 25 (Maret), total 21 untuk tahun ini. Kalau tahun lalu 51 (balon liar), hari ini 21, mudah-mudahan tidak bertambah," ungkap Nurcahyo ditemui di Stadiun Hoegeng Kota Pekalongan.

Ia menyebut wilayah udara di atas Pekalongan merupakan jalur penerbangan padat yang dikenal sebagai jalur W45 (Whiskey Four Five). Jalur ini dilalui pesawat dari berbagai rute, mulai dari Semarang, Surabaya, hingga wilayah timur Indonesia.

"Jadi pesawat yang terbang ke Semarang, Surabaya, Solo, Makassar, Bali, Nusa Tenggara, akhirnya kalau Makassar sampai ke Sulawesi sampai ke Papua itu semuanya lewat di atas Kota Pekalongan. Jadi ini jalur yang paling padat di Indonesia," ungkapnya.

Karena itu, AirNav Indonesia sangat mengharapkan masyarakat bisa menghentikan aksi menerbangkan balon liar ke udara karena membahayakan arus lalintas udara.

"Tradisi budaya yang baik harus dijaga dan dilestarikan. Tapi, bukan yang membahayakan," tambahnya.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads