Desa Jambu di balik perbukitan Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, kerap dijuluki sebagai 'kampung sultan' karena deretan rumah besar dan mewah di sana. Berikut kisah tentang sebagian warganya yang sukses membuka usaha di perantauan.
Desa Jambu berada di ujung utara Kecamatan Wanareja. Wilayah ini dikelilingi perbukitan dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Di desa ini terdapat deretan rumah besar di sejumlah sudut desa, simbol keberhasilan para warganya yang merantau di kota.
Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Jambu, Enno Carsono, mengatakan banyak warga desanya yang menjalankan usaha di perantauan. Bahkan, tidak sedikit perantau yang memiliki lebih dari satu tempat usaha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Usahanya itu sudah sukses. Bukan satu dua tempat. Rata-rata warga punya dua sampai tiga usaha, bahkan ada yang punya lima tempat usaha atau lebih," kata Enno kepada detikJateng, Kamis (5/3/2026).
Ia mencontohkan, jika satu usaha menghasilkan sekitar Rp 5 juta per bulan, maka penghasilan para perantau tersebut bisa mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.
"Misalkan satu tempat dapat Rp 5 juta per bulan. Kalau punya lima tempat usaha kan bisa Rp 25 juta per bulan. Dalam setahun bisa sekitar Rp 300 juta," jelasnya.
Penghasilan tersebut membuat para perantau mampu membangun rumah besar di kampung halaman. Mereka juga bisa membeli bermacam kendaraan.
"Jadi otomatis untuk bangun rumah, beli kendaraan, itu memang mampu dan bisa," ujarnya.
Menariknya, meski rumah-rumah besar itu berdiri megah di desa, sebagian besar pemiliknya jarang menempati rumah tersebut. Sebab, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di perantauan untuk menjalankan usaha.
"Sebagian besar usahanya di kota, tapi rumahnya dibesarkan di kampung. Kalau dihitung, setahun mungkin ditempati cuma satu atau dua bulan saja," kata Enno.
Bahkan, ada warga yang hanya pulang setahun sekali. Biasanya mereka pulang ketika ada acara keluarga atau hajatan di kampung.
"Ada yang pulangnya setahun sekali, kadang kalau ada saudara atau tetangga hajatan baru pulang," tambahnya.
Rumah-rumah tersebut biasanya tetap dihuni oleh anggota keluarga yang tinggal di desa. Sebagian rumah mewah itu dijaga oleh orang tua pemilik rumah, sementara anak-anak para perantau dititipkan kepada kakek dan nenek mereka.
"Rata-rata rumah diisi orang tuanya. Anak-anak yang sekolah juga biasanya ditungguin kakek neneknya," jelas Enno.
Namun ada juga beberapa rumah yang kosong. Biasanya hal itu terjadi karena orang tua pemilik rumah sudah meninggal dunia atau ikut merantau menjalankan usaha.
"Memang ada satu dua rumah yang kosong, karena orang tuanya sudah meninggal atau ikut usaha juga," ujarnya.
Meski begitu, sebagian besar rumah tetap terawat karena dihuni keluarga yang tinggal di desa, baik oleh orang tua, saudara, maupun kakek dan nenek.
"Sebagian besar tetap ada yang mengurus. Ada yang ditempati orang tua, ada yang saudara, ada juga yang embahnya," kata Enno.
Ukuran rumah yang dibangun para perantau di Desa Jambu pun tergolong besar. Banyak rumah berdiri di atas lahan luas dengan bangunan yang megah.
"Ukuran tanahnya ada yang sekitar 60 x 80 meter. Kalau bangunan rumah yang bertingkat biasanya luasnya di atas 100 meter persegi," pungkasnya.
(par/aku)











































