Ada 'Sekolah' Khusus buat Calon Bakul Angkringan di Bayat Klaten, Berminat?

Ada 'Sekolah' Khusus buat Calon Bakul Angkringan di Bayat Klaten, Berminat?

Achmad Husain Syauqi - detikJateng
Senin, 23 Mar 2026 19:35 WIB
Suwarna di sekolah angkringan Desa Ngerangan, Bayat, Klaten.
Suwarna di sekolah angkringan Desa Ngerangan, Bayat, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Warung makan kelas rakyat berupa angkringan alias wedangan alias hik menjamur di berbagai kota. Namun, angkringan dengan penjual asli dari Bayat, Klaten, tetap menjadi buruan.

Bukan saja karena angkringan memang berasal dari Bayat. Namun, penjual wedangan asal Bayat dikenal memiliki kepiawaian meracik minuman dengan rasa yang spesial dan khas.

Namun buat para pedagang angkringan atau calon pedagang angkringan dari daerah lain yang ingin meniru racikan khas Bayat sebenarnya punya kesempatan untuk belajar. Sebab, Desa Ngerangan, Bayat, yang menjadi asal muasal angkringan, membuka 'sekolah' khusus untuk masyarakat yang ingin belajar mengelola wedangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekolah angkringan di Desa Ngerangan jangan dibayangkan seperti sekolah formal dengan gedung megah bertingkat. Bukan juga kampus dengan segala fasilitasnya.

Hanya ada homestay sederhana dan joglo kantor desa sebagai pusat kegiatannya. Meskipun simpel, kampus angkringan Desa Ngerangan sudah meluluskan lima alumni penuh waktu dan ratusan siswa diklat dari berbagai daerah.

ADVERTISEMENT

"Yang lulus mendapatkan sertifikat dari sini memang baru lima orang. Tapi lebih banyaknya kita diundang untuk pelatihan, ya kalau itu sudah ratusan orang," ungkap ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sumunar Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Suwarna saat mengawali cerita kepada detikJateng beberapa waktu lalu.

Dituturkan Suwarna, sekolah angkringan muncul sekitar tahun 2019-2020 saat pemerintah desa mulai mendeklarasikan Desa Ngerangan sebagai Desa Wisata Angkringan. Sekolah angkringan merupakan satu dari berbagai paket yang diselenggarakan.

"Beberapa penggerak desa wisata melakukan pembahasan membuat program-program dan paket desa wisata. Salah satu paket andalan kita adalah sekolah angkringan ini," terang Suwarna.

Program sekolah angkringan, kata Suwarna, bukan dibuat asal-asalan tetapi mengacu pada sejarah angkringan atau hik yang berakar dari Desa Ngerangan sekitar tahun 1930 an. Maka dibuatlah sekolah angkringan dengan dua paket.

"Yang satu paket ringan, mulai hanya meracik teh, jahe sampai nasi, jadi orang berkunjung lalu kita ajari cara menyajikan. Paket yang lebih panjang berupa Diklat sekolah angkringan yang dijalani peserta selama lima hari," papar Suwarna.

Peserta paket Diklat itu, lanjut Suwarna, akan mendapatkan materi full lima yang di hari pertamanya dijelaskan sejarah, seluk beluk, sampai perkembangan bisnis angkringan. Di hari kedua, peserta mendapatkan materi teknik meracik minuman khas, terutama teh dan jahe.

"Hari kedua peserta mempelajari racikan minuman teh, jahe, jeruk, kopi dan lainnya dari teori sampai praktik penyajian. Hari ketiga materinya teori dan praktik membuat dagangan angkringan, kita gandeng ibu PKK untuk mengajari membuat nasi, sate dan lainnya langsung praktik buat dan dinikmati," sambung Suwarna.

Di hari keempat, ujar Suwarna, peserta yang sudah bisa membuat minuman dan makanan langsung diminta praktik berjualan. Diajarkan cara menata dagangan sampai penyajian.

"Di hari ke empat, buat lagi minuman dan makanan lalu dijajakan langsung di gerobak untuk melayani pembeli, kita undang warga sekitar sebagai pembelinya. Kita ajari juga cara menaruh gelas, lodong gula, sendok dan lainnya," kata Suwarna.

Pada hari kelima, sebut Suwarna, terdapat materi tambahan berupa pengenalan wisata lokal di wilayah Klaten. Peserta diajak piknik mengunjungi berbagai objek wisata di Klaten.

"Di hari kelima sesuai program dinas pariwisata ditambah pengenalan wisata kawasan, maksimal tiga lokasi karena terkait waktu yang cuma sehari. Ada yang ke rawa Jombor, kerajinan keramik Pagerjurang, Bukit Cinta, batik Desa Jarum sampai ada yang ingin melihat pembuatan ceret angkringan di Kecamatan Ceper," rinci Suwarna.

Suwarna menyatakan dari sisi biaya sekolah angkringan penuh waktu itu relatif murah karena biaya hanya Rp 4 juta per sampai Rp 4,5 juta per orang. Biaya tersebut sudah termasuk pembelian alat angkringan.

"Jatuhnya sekali paket Rp 4 juta, tapi sudah dapat alat. Rp 4 juta itu yang Rp 1 juta untuk akomodasi dan yang Rp 3 juta itu untuk peralatan. Begitu pulang diberi peralatan dan jika sudah punya tempat, peserta bisa langsung buka warung angkringan," tambah Suwarna.

Dari lima alumni full waktu tersebut, jelas Suwarna, ada empat warga Klaten dan satu warga Kabupaten Bantul, Yogyakarta yang dibiayai dana desa. Di luar yang pelatihan lima hari itu, sekolah angkringan desanya juga diundang untuk pelatihan di berbagai daerah.

"Lebih banyaknya kita itu diundang untuk pelatihan singkat, karena biaya lebih murah, baik di Yogyakarta maupun kota lain. Ada juga tamu rombongan yang cuma ambil paket satu hari, terutama cara meracik tehnya saja karena biayanya lebih murah," ucap Suwarna.

Materi Manajemen

Sekolah angkringan Desa Ngerangan, tidak hanya memberikan teori dan praktik tetapi juga materi manajemen bisnis angkringan. Pemateri manajemen, Mukhsin Dwi Nugroho menjelaskan materi itu diberikan agar angkringan tidak sekadar pelarian tapi juga sebuah usaha yang layak.

"Biar sesuatu itu lebih terorganisir, bagaimana sebuah usaha itu layak. Ya ada materi manajemen keuangan, manajemen risiko, sampai penyajian," ungkap Mukhsin kepada detikJateng.

Hal-hal yang sering dianggap sepele, kata Mukhsin, seperti bagaimana mengatur keuangan agar tidak bercampur dengan uang lainnya diberikan teorinya. Termasuk penyajian yang bagus dengan harapan konsumen ikut mempromosikannya.

"Manajemen menyajikan itu penting, penampilan yang baik dan kebersihan itu penting. Sehingga konsumen bisa ikut memasarkan dari mulut ke mulut karena angkringan itu tempat nongkrong dan juga ruang publik yang bisa dikemas bentuk lain semacam kafe," papar Mukhsin.

"Ada juga materi manajemen bagaimana mencari tempat karena tempat berjualan itu menentukan sehingga pemetaan risiko harus dipikirkan dari awal. Sebab banyak yang gagal usaha itu karena tempat," jelas Mukhsin.

Halaman 2 dari 2
(ahr/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads