Di balik nama besar Letnan Kolonel Slamet Riyadi yang gagah berani mengusir penjajah, ada sebuah ironi yang tersisa di rumahnya di Kota Solo. Rumah masa kecil sang pahlawan nasional itu kini kondisi yang terbilang memprihatinkan dimakan usia.
Dari pantauan detikJateng, pada hari Minggu (9/3/2026), pintu rumah Slamet Riyadi yang berada di sisi barat tampak tertutup rapat. Gerbangnya juga digembok dari dalam.
Di depan rumah terdapat plangkat tulisan 'Rumah Pahlawan Nasional Brigjen Slamet Riyadi'. Rumah di dalam gerbang juga nampak tidak terawat, tembok dengan warna hijau itu terlihat memudar.
Di samping bangunan bertembok, terapat bangunan kayu yang mulai berwarna cokelat gelap tidak terawat. Untuk masuk ke rumah dengan luas lebih kurang 1.000 meter persegi itu harus melalui pintu sisi utara yang harus lewat gang.
detikJateng sempat bertemu dengan cucu keponakan dari Slamet Riyadi, Gunawan Wibisono (53). Gunawan menceritakan, rumah yang ditinggali Slamet Riyadi semasa kecil itu tidak pernah diubah sama sekali.
"Pak Slamet Riyadi lahirnya bukan di sini, tapi di (kelurahan) Tipes. Hanya semasa kecilnya memang dihabiskan di sini," kata Gunawan membuka perbincangan.
Ia mengatakan, bangunan yang didominasi warna hijau itu sudah berdiri sejak tahun 1937. Semasa kecil, Slamet Riyadi menghabiskan waktu bersama ayah dan kakak perempuannya di sini.
"Rumah ini masih asli. Dari rumah dulu sampai sekarang ya seperti ini. Dan ini belum pernah direnovasi, belum pernah renovasi," ucapnya.
Gunawan mengatakan, sejak masa kecil, Slamet Riyadi memang tidak suka dengan penjajah. Bahkan, kata dia, Slamet Riyadi pernah berantem dengan teman sekolahnya yang berasal dari Belanda.
"Pada waktu itu tidak setiap anak itu boleh sekolah. Jadi hanya orang-orang tertentu yang boleh sekolah karena itu memang misinya Belanda seperti itu. Jadi memang anak Indonesia itu, rakyat Indonesia itu tidak boleh pintar, biar bodoh. Nah, karena Pak Slamet ini bapaknya istilahnya orang berpengaruh di keraton, jadi boleh sekolah. Nah, diceritain simbah dulu itu, sekolahnya itu misalnya ada 20 murid, itu yang orang Indonesia hanya 3 sampai 5 orang saja," terangnya.
"Kebanyakan anak-anak Belanda dan pada waktu itu anak-anak Belanda itu, kalau simbah manggil itu "sinyo-sinyo" Belanda. Dan pada waktu sekolah itu juga Pak Slamet itu memang dari dasarnya sudah tidak suka sama penjajah ya, tidak suka sama Belanda, sejak di sekolah pun dia sudah sering berantem sama anak-anak Belanda itu," sambungnya.
Sifat berani itu terus terbawa hingga ia menempuh pendidikan di sekolah pelayaran dan akhirnya memimpin gerilya di wilayah Solo Raya yakni Solo, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, dan Boyolali. Di masa perjuangan itulah, Slamet bersahabat erat dengan tokoh-tokoh besar seperti Soeharto dan Ahmad Yani yang saat itu sama-sama berpangkat Letnan Kolonel.
Simak Video "Mencari Oleh-oleh Khas di Pasar Triwindu Solo "
(apl/apu)