Salat Idulfitri yang rencananya digelar di Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo hari Jumat (20/3) batal digelar. Bahkan muncul narasi salat dibubarkan hingga akhirnya mediasi dilakukan.
Mediasi itu mempertemukan pihak desa dan warga serta pihak lainnya di balai desa setempat. Akhirnya mediasi menghasilkan keputusan evaluasi kesepakatan larangan salat Id dua kal.
Viral Narasi Salat Id Dibubarkan
Narasi itu diunggah oleh akun Website Sang Pencerah. Dalam postingannya, akun tersebut mengunggah foto flyer pengumuman salat Id di Masjid Jami'ul Khair, Desa Kedungwinong pada Jumat (20/3/2026) pukul 06.00 WIB-selesai. Namun flyer tersebut terdapat tulisan merah "SHALAT IED DIBUBARKAN KEPALA DESA KEDUNGWINONG".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sholat Idul Fitri Pagi ini Jumat 20 Maret dibubarkan oleh Kepala Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Kab.Sukoharjo, Jawa Tengah. Melalui Babinsa melakukan intimidasi kepada panitia, jamaah, khotib, Sehingga batal," tulis dalam caption foto tersebut seperti yang dilihat detikJateng pada akun Website Sang Pencerah, Jumat (20/3/2026).
Selain itu, juga terdapat tangkap layar chat grup WhatsApp 'GROUP IBU-IBU RW 1'. Dalam gambar tersebut menampilkan chat dari kontak bernama Ngatini Miyadi.
"Bismillah... Pangapunten umm,di sini perlu saya tekankan, bahwa Pemerintah Desa tidak memberikan izin utk Kegiatan Sholat Id Di Masjid Jami'ul Khoir Dukuh kedungwinong.krn sdh di sepakati bahwa sholat Id Hanya di laksanakan di Lapangan utama Desa Kedungwinong mengikuti Keputusan Pemerintah,ngoten njih umm," isi chat dari tangkap layar yang diunggah akun Website Sang Pencerah.
Mediasi di Balai Desa
Setelah informasi itu viral dan menjadi perhatian masyarakat, anggota Kokam Kabupaten Sukoharjo kemudian mendatangi Balai Desa Kedungwinong untuk melakukan klarifikasi.
Mediasi kemudian digelar di Balai Desa Kedungwinong bersama Kokam, Kepala Desa Kedungwinong Miyadi, Camat Nguter Sukarman, Kapolsek Nguter AKP Maryadi.
Dalam mediasi tersebut, berbagai pihak memberikan klarifikasi atas kejadian itu.
Salat Id Dibatalkan
Panitia salat Idulfitri 1447H Masjid Jami'ul Khoir Dukuh Kedungwinong, Nguter, Sukoharjo mengaku tak mendapat izin dari kelurahan untuk menggelar salat. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Panitia Salat Idulfitri Masjid Jami'ul Khoir, Zuhri.
Zuhri mengatakan sempat bertemu Kepala Desa, Miyadi untuk memberikan surat pemberitahuan untuk melaksanakan salat Idulfitri pada hari Jumat (20/3). Namun, saat bertemu Kades, Zuhri mengaku tidak mendapat izin dari pihak pemerintah Desa.
"Ketemu di masjid karena kan beliau orang sibuk, kadang ke mana. Saat bertemu di masjid, surat pemberitahuan itu sudah saya siapkan. Saya baru bicara: 'Pak ini nanti kalau salat Id Muhammadiyah pada hari Jumat saya memberitahukan dulu'," kata Zuhri di Kantor Desa Kedungwinong, Jumat (20/3/2026).
Karena tidak mendapatkan izin, pihaknya pun membatalkan pelaksanaan salat. Dia juga meluruskan kalau tidak ada pembubaran karena salat belum dilaksanakan di sana.
"Belum dilaksanakan, tapi kita baru siap-siap kerja bakti segala sesuatu akomodasi maupun logistik sudah kita siapkan semua. Tidak dihentikan. Saya yang membatalkan karena saya tidak bisa menjamin keselamatan jemaah saya dan juga kekhusyukannya karena ada konteks dari Pak Bhabinsa tersebut. Konteksnya ya tadi, kalau besok ada apa-apa saya tidak menjamin keselamatan dan keamanan," jelas Zuhri.
"Kalau kabar dibubarkan di medsos saya belum sempat baca di Facebook maupun pagi tadi saya cuma dijapri, itu salah. Saya dijapri teman-teman 'Ini bener nggak Pak?' itu salah. Ada yang saya jawab kurang pas gitu. Yang bener itu yang membatalkan saya karena ada konteks dari itu, jaminan keselamatan, he-eh konteks dari Pak Babinsa itu. Jadi saya kan juga tidak bisa menjamin, sedangkan keamanan saja tidak menjamin, apalagi saya," tegasnya.
Cari Tempat Salat Lain
Zuhri mengaku prihatin karena tiap ada perbedaan waktu salat Idulfitri maupun Iduladha selalu tidak diperbolehkan dua kali. Ia mengaku sudah bertahun-tahun merasakan hal tersebut.
"Saya merasa prihatin berawal dari itu toh, mengapa salat Idulfitri dan Iduladha apabila dilakukan di Kedungwinong dua versi, harus ikut kesepakatan LP2A dan mencederai ormas yang lain. Selama bertahun-tahun ini melaksanakan salat Id itu cuma satu kali, makanya saya mewakili sebagian umat Islam di Desa Kedungwinong merasa trenyuh, merasa kasihan kebebasan beribadah warga Kedungwinong. Wong negara sudah merdeka, pemerintah itu sudah menjamin kebebasan beribadah semua umat beragama menjalankan ibadah sesuai keyakinannya," terang Zuhri.
Alhasil, para jemaah harus mencari lokasi lain untuk melaksanakan salat Idulfitri. Mereka akhirnya Salat Id di daerah Nguter.
"Kalau bertahun-tahun yang lalu terpaksa ke Nguter, tapi yang tua-tua kasihan nggak bisa salat. Kesepakatan LP2A itu kesepakatan yang menurut saya itu kurang pas karena mengadopsi beberapa ormas tapi ormas lain dibatasi kebebasannya, padahal kan semua orang Islam. Jadi mengapa keputusan yang kurang pas itu kok dipertahankan sampai sekarang kan sayang kan gitu lho," ujarnya.
Kades Bilang Kesepakatan Satu Kali Salat Id
Kepala Desa Kedungwinong, Miyadi, mengungkapkan alasan tidak mengeluarkan izin pelaksanaan salat Idulfitri di Masjid Jami'ul Khoir karena ada kesepakatan di pemerintah desa untuk menggelar salat Idulfitri maupun Iduladha satu kali.
"Kami dari pemerintah desa hanya menjalankan kesepakatan, kesepakatan musyawarah Pemerintah Desa, LP2A, Takmir Masjid, Mushola se-Desa Kedungwinong bahwa di Kedungwinong tidak ada kegiatan salat dua kali," katanya ditemui di Kantor Desa Kedungwinong, Jumat (20/3/2026).
Miyadi mengatakan bahwa kesepakatan itu terjadi sudah sejak lama. Untuk salat Idulfitri tahun ini, ia mengatakan bahwa sebelum Lebaran telah rapat bersama.
"Setiap akan ada kegiatan pasti kita musyawarah. Jadi di bulan puasa kemarin, saya lupa tanggalnya, di bulan puasa ini LP2A mengadakan rapat dan itu kesepakatan. Namun kesepakatan ini adalah estafet dari lama, dari pemerintahan sebelumnya. Jauh sebelumnya memang di Kedungwinong seperti itu," jelasnya.
"Ya lupa berapa tahun, tapi memang sebelum-sebelumnya sudah memang seperti ini. Tadi Pak Lurah sepuh hadir, memang dulu juga seperti itu kesepakatannya," imbuhnya.
Kades Minta Maaf dan Evaluasi
Setelah dilakukan mediasi, Kepala Desa Kedungwinong, Miyadi meminta maaf dan berjanji akan melakukan evaluasi. Dia berjanji akan memfasilitasi Salat Id dua kali jika ada perbedaan waktu antara pemerintah dan Muhammadiyah.
"Akhirnya kita sepakat apa yang menjadi keputusan kami Pemerintah Desa, LP2A, Takmir Masjid dan Mushola se-Desa Kedungwinong pada saat itu, yang menyatakan bahwa kegiatan Salat Idul Fitri hanya satu kali di Desa Kedungwinong. Mulai sekarang kita sepakati itu tidak boleh (dibatasi)," ujar Miyadi usai mediasi di Kantor Desa Kedungwinong, Jumat (20/3/2026).
Dirinya juga mengucapkan permohonan maaf atas keputusan pihak desa yang menyelenggarakan salat Idulfitri hanya satu kali. Selama menjabat sebagai Kepala Desa, ia mengaku akan memberikan fasilitas dan keamanan bagi yang menjalani ibadah beda hari.
"Permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang menyebabkan kegaduhan di masyarakat yaitu terkait keputusan sholat Idul Fitri satu hari pelaksanaan dan tidak memberi peluang pelaksanaan sholat Idul Fitri yang berbeda hari," ucap Miyadi.
"Kami selaku pejabat desa, kepala desa, akan menjamin ke depan tidak akan terjadi pembatasan untuk Salat Id dua kali sebagaimana keyakinan masing-masing itu," imbuhnya.
Hasil Mediasi Diumumkan saat Salat Id
Kemudian Miyadi menjelaskan pihaknya akan mengumumkan hasil kesepakatan sebelum Salat Idulfitri yang digelar hari ini di Lapangan Desa Kedungwinong.
"Insyaallah besok (hari ini) akan saya sampaikan pada saat Salat Id kepada masyarakat Kedungwinong bahwa kesepakatan hari ini seperti ini dan kita harus taat, kita harus menjalankan kesepakatannya tadi," bebernya.
Saat ini, situasi di Desa Kedungwinong dipastikan dalam kondisi kondusif. Miyadi pun memohon doa restu agar kerukunan antarwarga tetap terjaga dengan lebih baik di masa mendatang.
"Alhamdulillah, di kami di Kedungwinong kondusif, mohon doa restunya untuk semuanya ke depan lebih damai, lebih aman, lebih teratur lagi. Matur nuwun," pungkasnya.
