Jemaah Islam Aboge Banyumas Gelar Salat Idul Fitri Sabtu 21 Maret

Jemaah Islam Aboge Banyumas Gelar Salat Idul Fitri Sabtu 21 Maret

Anang Firmansyah - detikJateng
Kamis, 19 Mar 2026 10:57 WIB
Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas yang akan melaksanakan salat Idul Adha pada Rabu (19/6/2024).
Masjid Aboge di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Banyumas -

Jemaah Islam pengikut perhitungan Alif Rebo Wage (Aboge) memutuskan 1 Syawal jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026. Dengan demikian, mereka akan menyelenggarakan salat Idulfitri 1447 Hijriah pada hari tersebut.

Berbeda dengan metode pemerintah maupun ormas Islam pada umumnya, komunitas Aboge menggunakan perhitungan kalender Jawa turun temurun yang diyakini secara konsisten dari generasi ke generasi.

Sesepuh pengikut Aboge di Desa Cibangkong, Kecamatan Pekuncen, Santibi, mengatakan bahwa tahun 2026 bertepatan dengan tahun Jawa Dal dalam sistem penanggalan mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk menghitung awal Syawal itu rumusnya Waljiro (Syawal siji loro), yaitu puasa adalah hari pertama dari Sabtu dan pasaran kedua dari Manis atau Legi. Maka 1 Syawal jatuh hari pasarannya adalah Sabtu Pahing," kata Santibi saat dihubungi wartawan, Kamis (19/3/2026).

Menurut dia, perhitungan tersebut merupakan bagian dari pakem yang sudah diwariskan secara turun temurun dan tetap dipegang teguh oleh para pengikut Aboge.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, jemaah Aboge juga telah lebih dulu memulai puasa Ramadan berdasarkan hitungan mereka. Awal puasa ditetapkan jatuh pada Kamis Pahing dengan menggunakan rumus Sanemro (Puasa enem loro).

"Puasa adalah hari keenam dari Sabtu dan pasaran kedua dari Manis atau Legi," jelasnya.

Hingga kini komunitas Aboge di Banyumas masih eksis dan mempertahankan tradisi leluhur mereka dalam menjalankan ibadah. Mereka tersebar di sejumlah desa, terutama di wilayah Kecamatan Pekuncen, Ajibarang serta Wangon.

Selain itu, sebagian pengikut Aboge juga diketahui memiliki keterkaitan dengan jaringan Tarekat Satariyah Pengguron Cirebon.

"Dalam sistem Kalender Aboge, satu siklus delapan tahunan atau windu terdiri dari tahun Alif, Ha, Jim Awal, Za (Je), Dal, Ba (Be), Wawu, dan Jim Akhir. Sementara dalam satu tahun terdapat 12 bulan sebagaimana kalender Hijriah," ujarnya.

Tak hanya mengenal tujuh hari dalam sepekan, perhitungan Aboge juga menggunakan siklus pasaran Jawa, yakni Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing.

Adapun awal hari dan pasaran pada tiap tahun dalam siklus tersebut berbeda-beda. Tahun Alif dimulai pada Rabu Wage, tahun Ha pada Minggu Pon, tahun Jim Awal pada Jumat Pon, tahun Za pada Selasa Pahing, tahun Dal pada Sabtu Legi, tahun Ba pada Kamis Legi, tahun Wawu pada Senin Kliwon, dan tahun Jim Akhir pada Jumat Wage.

Dengan metode tersebut, penentuan hari besar keagamaan seperti Idulfitri maupun Iduladha pun kerap berbeda dari ketetapan pemerintah. Meski demikian, jemaah Aboge tetap menjalankan keyakinan mereka sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan turun temurun.



(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads