Di makam Mbah Lancing yang berlokasi di Kebumen, Jawa Tengah, ada tumpukan kain batik yang ditaruh oleh para peziarah. Terungkap, peziarah menaruh kain ke nisan sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih karena hajatnya sudah terkabul.
Makam yang terletak di Dukuh Kauman, Desa Mirit, Kecamatan Mirit ini selalu ramai dikunjungi peziarah terutama pada bulan Ruwah dan Sura. Tidak hanya warga Kebumen dan sekitarnya, namun mereka yang datang berasal dari luar Jawa dan seluruh Indonesia.
"Peziarah dari mana saja, seluruh Indonesia," kata juru kunci makam, Kamdi (75), saat ditemui detikJateng, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena kharismanya sebagai seorang wali yang berjasa menyebarkan agama Islam di daerah pesisir selatan Jawa terutama di Kebumen, hingga kini banyak peziarah yang datang untuk mendoakan Kyai Lancing sekaligus meminta suatu hajat. Banyak peziarah yang percaya jika permintaan mereka akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa melalui perantara Mbah Lancing.
Kamdi menyebut, mulai dari warga biasa, pejabat bahkan calon presiden pun datang ke tempat tersebut untuk ngalap berkah. Bahkan, Presiden Soekarno hingga Joko Widodo (Jokowi) juga pernah sowan ke makam Mbah Lancing.
Penampakan makam Mbah Lancing di Desa/Kecamatan Mirit, Kebumen, Selasa (10/3/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng |
"Pas magang presiden Jokowi juga ke sini, SBY, Megawati, Gusdur, yang pertama ya Soekarno," sebutnya.
Sebagai ucapan terima kasih karena doa dan keinginannya tercapai, biasanya peziarah akan kembali lagi ke makam tersebut dan memberi kain batik yang diletakkan di atas pusara Mbah Lancing. Sampai saat ini sudah tidak terhitung lagi berapa lembar kain batik yang tertumpuk hingga setebal lebih dari satu meter itu.
Namun kain batik yang diberikan sebagai hadiah tersebut bukanlah sembarang kain batik yang bisa dibeli di pasar atau toko, melainkan batik khusus yang harus dibuat langsung oleh warga yang telah ditunjuk. Batik harus berwarna dominan hitam cokelat dan bermotif contong yang merupakan kesukaan Mbah Lancing.
"Sebagai bentuk syukur atau ucapan terima kasih, maringi jarit (kasih jarik) Batik Contong. Jokowi juga dulu mbalik lagi ngasih jarik. Tumpukan jarik nggih ewon (tumpukan jarik sudah ribuan)," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Mirit, Wahidin yang merupakan tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa Batik Contong tersebut dibuat khusus oleh perempuan yang sudah tidak mengalami menstruasi lagi. Hal itu melambangkan bahwa si pembuat batik adalah orang suci.
"Jadi kain batik itu kainnya tidak sembarangan asal batik. Itu yang bikin batik orang perempuan yang sudah tidak datang bulan dalam arti sudah tidak haid, memang kriterianya seperti itu. Jadi orang yang sudah bersih sudah tidak datang bulan sudah tidak haid. Itu kain batik yang digunakan untuk menutup makam Mbah Lancing. Juru kunci juga sudah menyediakan kalau ada peziarah yang membutuhkan kain batik tersebut," jelasnya.
Hal yang sama juga diutarakan oleh Wahidin. Makam yang sudah ada sejak ratusan tahun silam itu memang kerap didatangi oleh para pejabat yang mempunyai kepentingan mulai dari calon kades hingga calon presiden.
"Sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, kalau pastinya tidak ada yang tahu dari cerita nenek moyang sudah ada. Orang yang sudah tahu makamnya Mbah Lancing, yang mau maju anggota dewan, kepala desa, maju bupati, calon presiden dan lain-lain itu rata-rata ke situ," lanjutnya.
Lebih jauh Wahidin mengatakan, meskipun banyak hajat yang terkabul, namun para peziarah dilarang untuk meminta hajat yang buruk atau tidak baik. Jika tetap nekat, maka peziarah itu akan mendapatkan malapetaka.
"Tapi kalau ke Mbah Lancing itu untuk tujuan yang baik-baik, hajat yang baik. Misal mau naik jabatan, biar diangkat pegawai negeri, atau pun kepala desa, bupati, gubernur, presiden pun pernah ke situ. Pak SBY, Jokowi juga pernah. Tapi yang jelas ke situ diam-diam biar tidak diekspos publik. Di Mbah Lancing kok mau minta yang tidak benar, tahu-tahu bisa masuk parit atau dilempar ke mana gitu, temen saya ada itu yang seperti itu," urainya.
Makam Mbah Lancing berdampingan dengan makam ayahnya Ketidjojo. Tepat di depan makam berdiri bangunan bergaya joglo dengan tiang dan dinding kayu berukir yang sering digunakan para peziarah untuk menggelar doa bersama.

