Emir Kuwait, Sheikh Meshal al-Ahmad al-Sabah, menegaskan soal hak penuh Kuwait untuk membela diri saat berbicara untuk pertama kalinya sejak serangan Iran ke negaranya yang dimulai pada 28 Februari lalu. Dia mengecam serangan Iran ke Kuwait yang sejauh ini menewaskan 12 orang.
Dilansir detikNews, serangan itu dilancarkan Iran sebagai pembalasan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel ke negara Republik Islam itu.
"Negara kita telah menjadi sasaran serangan brutal oleh negara Muslim tetangga, yang kita anggap sebagai teman, meskipun kita tidak mengizinkan penggunaan tanah, wilayah udara, atau pantai kita untuk tindakan militer apa pun terhadapnya, dan kita telah berulang kali memberi tahu mereka tentang hal ini melalui saluran diplomatik kita," kata Emir Kuwait, Sheikh Meshal al-Ahmad al-Sabah dalam pidato yang disiarkan televisi Kuwait, dilansir Al Arabiya, Selasa (10/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat berbicara untuk pertama kalinya sejak serangan Iran dimulai pada 28 Februari lalu, penguasa Kuwait itu pun menegaskan "hak penuh dan inheren Kuwait untuk membela diri".
Kecaman senada sebelumnya juga disampaikan oleh Perdana Menteri (PM) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim bin Jaber Al Thani, yang menyebut adanya "rasa pengkhianatan yang besar" oleh kepemimpinan Iran menyusul serangan Republik Islam itu terhadap Qatar.
Hal ini disampaikan Sheikh Mohammed dalam wawancara dengan Sky News, dilansir Al Jazeera, Senin (9/3/2026). "Mungkin hanya satu jam setelah dimulainya perang, Qatar dan negara-negara Teluk lainnya langsung diserang," kata dia.
Sheikh Mohammed menambahkan serangan itu terjadi meskipun ada pernyataan dari beberapa negara di kawasan itu bahwa mereka tidak akan ikut serta dalam perang melawan Iran, dan meskipun ada upaya bersama untuk menemukan solusi diplomatik.
"Kesalahan perhitungan Iran untuk menyerang negara-negara Teluk telah menghancurkan segalanya", katanya.
Sheikh Mohammed juga menyebut Qatar sepenuhnya menolak pembenaran dan dalih yang digunakan untuk eskalasi tersebut.
Sheikh Mohammed juga mengatakan sangat mengejutkan Iran terus menyerang negara-negara Teluk, bahkan setelah Presiden Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada mereka, dan mengatakan bahwa mereka tidak akan lagi menjadi sasaran selama mereka tidak menyerang Iran.
(dil/ams)
