Rusia disebut memberikan informasi intelijen kepada Iran untuk membantu menyerang militer di Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah.
The Washington Post, salah satu media terkemuka AS menyebut ada dua pejabat AS yang mengetahui masalah ini, mengatakan bahwa Rusia diduga telah memberikan informasi intelijen kepada Iran, yang dapat membantunya menyerang kapal perang, pesawat, dan aset-aset militer AS lainnya di Timur Tengah.
Dikutip dari detikNews, Euronews mengungkap dua pejabat yang mengetahui laporan intelijen AS menyatakan bahwa informasi tersebut berpotensi digunakan Iran untuk melancarkan serangan terhadap target Amerika di kawasan Teluk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pejabat tersebut disebutkan anonim karena tidak berwenang membahas informasi sensitif secara terbuka.
Namun, intelijen AS belum menemukan bukti bahwa Moskow secara langsung mengarahkan Iran mengenai bagaimana menggunakan informasi tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung.
Jika hal tersebut terbukti, maka menjadi indikasi bahwa Rusia mulai terlibat secara tidak langsung dalam perang yang dimulai setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sepekan lalu.
Sebagaimana diketahui, Rusia merupakan salah satu mitra dekat Iran. Moskow telah mengutuk serangan AS dan Israel terhadap Iran sebagai tindakan agresi bersenjata yang tidak beralasan.
Untuk diketahui, pada 2025, pemerintah Iran dan Rusia menandatangani perjanjian kemitraan strategis yang mencakup kerja sama dalam menghadapi ancaman bersama. Namun, perjanjian itu tidak mencakup kewajiban pertahanan bersama seperti pakta keamanan yang dimiliki Rusia dengan Korea Utara.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, kerja sama militer antara Iran dan Rusia bukan hal baru dan bukan rahasia yang ditutup-tutupi.
"Kerja sama militer antara Iran dan Rusia bukanlah rahasia. Kami telah bekerja sama di masa lalu, dan kerja sama ini berlanjut, dan saya berharap akan berlanjut di masa depan," tutur Abbas Araghchi saat diwawancarai NBC News pekan ini, sebagaimana dikutip detikNews.
(par/alg)











































