Sudah empat hari sejak Sabtu (28/2) Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran. Selama empat hari itu kerugian yang sudah ditelan AS diperkirakan mencapai US$ 1 miliar atau Rp 16,9 triliun.
Dikutip detikFinance yang melansir Forbes, hitungan kerugian pertama terlihat pada ongkos pasukan ke Timur Tengah. Bahkan sebelum serangan militer dimulai, AS sudah merogoh US$ 630 juta atau Rp 10,65 triliun untuk pengangkutan pasukan, kapal, dan pesawat ke wilayah tersebut.
Kemudian kerugian juga muncul kala tiga jet F-15E Strike Eagle yang jatuh tertembak di Kuwait pada Minggu (29/3). Menurut konfirmasi Komando Pusat AS alias CENTCOM, gugurnya tiga jet tempur ini menyebabkan kerugian bagi militer AS minimal hampir US$ 300 juta atau Rp 5,07 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian pada 48 jam pertama serangan yang dilancarkan AS, sebanyak 20 aset militer dan sistem senjata berbeda digunakan menyerang lebih dari 1.250 target di Iran.
"Operasi-operasi tersebut kemungkinan telah menambah biaya perang hingga jutaan dolar hanya dalam beberapa hari terakhir, karena aset-aset tersebut membutuhkan biaya produksi dan pengoperasian mulai dari US$ 35.000 (biaya sebuah drone sekali jalan) hingga jutaan dolar (rudal Tomahawk)," tulis Forbes dalam laporannya.
Forbes menyebut dana itu belum termasuk ongkos harian pasukan AS di wilayah konflik. Diperkirakan ada sebanyak 50 ribu pasukan yang sudah terlibat dalam operasi militer tersebut. Ditambah lagi operasional armada seperti kapal induk dan pesawat tempurnya.
"Sulit untuk memperkirakan berapa tepatnya biaya serangan di Iran bagi pemerintah AS, mengingat cakupan penuh operasi dan senjata yang digunakan belum sepenuhnya diketahui. Namun, biaya yang harus dikeluarkan terus membengkak," jelas Forbes.
(alg/apl)











































