Sebanyak 11 desa di 5 kecamatan di Kabupaten Sragen terendam banjir sejak Rabu (4/3) malam. Banjir disebabkan hujan dengan intensitas sedang dan sejumlah anak Sungai Bengawan Solo meluap.
"Wilayah Sragen diguyur hujan cukup lama sejak pukul 20.00 WIB, ditambah kondisi hulu yang juga hujan tinggi sehingga anak sungai tidak mampu menampung debit air dan meluap ke permukiman serta akses jalan warga," kata Kepala BPBD Sragen, Triyono, saat dihubungi awak media, Kamis (5/3/2026).
Dirinya menyebut ada 11 desa di 5 kecamatan yang terdampak banjir, yakni Kecamatan Ngrampal, Sragen, Sidoharjo, Masaran, dan Sambungmacan. Triyono menjelaskan bahwa saat ini kondisi sudah mulai berangsur surut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Desa Bener, tepatnya di RT 24, 25, dan 26, tercatat ada 83 unit rumah yang terendam dengan ketinggian air mencapai 30 cm. Total warga terdampak di lokasi tersebut mencapai 83 KK atau sekitar 280 jiwa," jelasnya.
Dirinya menyebut hingga saat ini belum ada warga yang mengungsi. Mayoritas air hanya menggenangi akses jalan desa dengan ketinggian bervariasi antara 10 cm hingga 50 cm.
"Kami telah memberikan arahan kepada warga agar tetap waspada. Jika debit air terus meningkat, kami meminta warga segera mengamankan barang berharga, mematikan aliran listrik, dan bersiap evakuasi ke tempat yang lebih tinggi," bebernya.
Dihubungi terpisah, Camat Sidoharjo, Dwi Cahyono mengatakan ada satu warganya yang dievakuasi menggunakan perahu karet karena mengeluhkan sakit. Dwi mengatakan warga tersebut dievakuasi sekira pukul 08.13 WIB.
"Beliau itu paginya kan sehat-sehat saja, sudah ngantar anaknya beraktivitas, terus ilik-ilik (menengok) ke sawah ngoten. Setelah dari sawah, pulang ke rumah merasa kedinginan, menggigil. Akhirnya minta bantuan teman-teman yang BPBD dan tim SAR yang standby di titik jemputan tadi gitu, Mbak. Akhirnya jemput pakai perahu, kita bawa ke Puskesmas," terangnya.
Ia mengatakan evakuasi menggunakan perahu karet karena akses menuju rumah tergenang air. Ia menyebut ketinggian air bervariasi mulai 70 sentimeter hingga 1 meter.
"Karena akses menuju rumah yang sakit itu dengan ketinggian kurang lebih antara 70 sentimeter sampai 1 meter, sehingga kendaraan enggak bisa masuk, sehingga kita pakai perahu dari BPBD," jelasnya.
Ia mengatakan, saat ini sejumlah jalan desa masih belum bisa dilalui kendaraan. Meski begitu, Dwi menyebut air mulai surut.
"Untuk saat ini di Desa Sidoharjo itu sudah surut karena itu aliran dari Sungai Mungkung. Sedangkan untuk Bentak, Patihan, Tenggak, Sribit, dan Pandak tadi terpantau air surut, cuma masih belum bisa dilewati akses untuk kendaraan motor, belum berani masuk ke desa. Rata-rata hanya masuk di pekarangan, jalan, dan persawahan, tidak ada rumah warga yang terendam," pungkasnya.
(apu/afn)











































