Video perkelahian antar-remaja di Kwaron, Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, terekam CCTV. Perkelahian itu rupanya dipicu tawuran antara remaja Genuk dengan remaja Demak.
Video perkelahian itu viral usai diunggah di akun Instagram @infokejadian_genuk. Tampak aksi kejar-kejaran antardua motor. Kejar-kejaran itu terhenti saat motor yang dikejar menabrak motor lain di mulut gang.
"-indkasi kreak- 2 motor terlihat kejar2an dan apes saat motor yg di depan menabrak pengendaran lain di pertigaan, terjadilah pengeroyokan. Keributan Antara Wong Njobo / Kreak TKP di Kwaron - Bangetayu kulon," tulis akun @infokejadian_genuk, Minggu (1/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam unggahan itu disebutkan, pengendara yang tertabrak merasa terprovokasi lantaran pengejar sempat menyebut pengendara motor yang dikejar dalam kondisi mabuk. Pengendara yang ditabrak pun ikut mengeroyok.
"Pengejar H 3615 CIE switer abu2 sempat mengeluarkan sajam CELURIT panjang. Pengroyokan berhenti saat di lerai warga sekitar (Mas Bagus) dan pengendara lain," tulis akun tersebut.
"Akhiranya yg di kejar 3 orang, 1 melarikan diri, 1 di bawa pengejar, di bawa korban yg di tabrak. Untuk nasib yg di keroyok selanjutnya belum di ketahui," lanjutnya.
Konfirmasi detikJateng
Saat dimintai konfirmasi, Kapolsek Genuk Kompol Rismanto membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan, insiden terjadi Sabtu (28/2) kemarin.
"Itu tawuran antara anak-anak Bangetayu Wetan dengan anak-anak Mranggen, Demak," kata Rismanto saat dihubungi detikJateng.
Ia mengatakan pengendara motor yang dikejar merupakan remaja asal Bangetayu Wetan, sementara yang mengejar adalah remaja asal Demak. Tawuran bermula dari saling tantang melalui media sosial (medsos).
"Itu yang dikeroyok dari yang dari Genuk, dipukuli karena dia kan tantang-tantangan lewat medsos. Terus yang dari Genuk itu kalah jumlah, akhirnya dia lari, dikejar sama orang Demak itu," ujarnya.
"Kita belum tahu yang Demak ini kelompok mana saja. Karena mereka akunnya sudah dihapus semua, riwayat di handphone-nya juga, jadi susah kita mau nyari," lanjutnya.
Meski begitu, polisi telah mengamankan 11 remaja asal Genuk yang sudah diketahui terlibat tawuran. Setelah dibina, 11 anak itu dikembalikan kepada orang tuanya.
"Semalam kita amankan 11 anak dari Bangetayu Wetan yang terlibat tawuran, sudah kita bina, panggil ortunya dan buat surat pernyataan, rata-rata masih sekolah," ujarnya.
"Nggak (ada sajam yang diamankan), yang punya senjata tajam (sajam) itu orang Demak, terus diminta sama kelompok Demak, karena dia lebih banyak jumlahnya," sambungnya.
Ia menyebut anak-anak tersebut masih kelas 2-3 SMA/SMK. Rismanto pun mengimbau kepada orang tua agar terus menjaga anaknya dan memastikan tak keluar untuk tawuran di malam hari.
"Imbauan untuk ortu agar selalu mengawasi dan memantau anaknya saat malam hari atau saat libur, agar tidak keluar malam dan terlibat tawuran, balap liar, kenakalan remaja lainnya seperti narkoba, miras," imbaunya.
Patroli malam oleh polisi selama Ramadan ini pun dilakukan lebih ketat. Namun, para remaja yang tawuran disebut terus berpindah-pindah tempat.
"Kemarin kan difokuskan di Bangetayu Kulon yang di Jembatan Sukarela, ternyata mereka tawurannya pindah-pindah. Biasanya menjelang subuh jam 02.00-03.00 WIB," kata Rismanto.
"Rata-rata dia tawurannya perang sarung, tapi nggak tahu kok bawa sajam juga. Kalau yang di video itu pagi," pungkas dia.
