Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Sawangan, Kabupaten Magelang, dikritik orang tua siswa karena menyajikan makanan yang dinilai 'ora mbejaji' alias tak bermutu. Hari ini, menu MBG di wilayah itu dinilai membaik.
"Untuk SPPG yang anak saya kemarin (Rabu) kurang bagus menunya. Hari ini ada perbaikan. Jadi, ada roti, ayam ungkep, apel dan keripik tempe," kata Haksoro (45), warga Sawangan saat dihubungi detikJateng, Kamis (26/2/2026).
Haksoro mengapresiasi SPPG yang dinilainya merespons komplain dari penerima MBG.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berarti mereka bisa merespons, kalau ada komplain. Ada protes. Tapi, selama ini ruang protes untuk SPPG kan orang tua tidak banyak yang tahu. Bahwa ada ruang bisa minta komplain kalau nggak sesuai. Ternyata begitu dikomplain, juga mereka bisa memperbaiki dan harganya masuk (perhitungan kami)," sambung Haksoro.
"Yang menurut mereka sedapatnya, sekenanya mereka buat ngasih menu ke anak-anak. Tapi, begitu ada protes, komplain ternyata mereka bisa memperbaiki dan harganya masuk. Berarti mereka bisa memberikan menu yang sesuai dengan takaran gizi dan sesuai anggaran. Tapi, ya harus nunggu protes dari orang tua atau dari media, baru mereka bisa ngelakuin," ujarnya.
Haksoro menilai menu hari ini memenuhi anggaran Rp 8 ribu. Apalagi ada menu ayam ungkep.
"Menu hari ini buahnya apel, ayam ungkep, roti, dan keripik tempe. Kalau hitungan kami ini harga Rp 8 ribu masuk. Karena ada ayam," kata dia.
"Coba bayangkan SPPG yang ada di daerah atas-atas (pegunungan) atau pelosok-pelosok. Bagaimana menu yang mereka kasihkan kepada anak-anak. Kami melihat nggak ada keseragaman menu yang standar Rp 8 ribu mulai kota sampai desa. Dari tempat yang pelosok sampai tempat yang dekat kota, harusnya sama, seragam. Tapi, nyatanya nggak begitu," pungkasnya.
Diwawancarai terpisah, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyebut, harga per porsi Rp 8 ribu untuk menu kecil, dan Rp 10 ribu untuk menu besar. Grengseng berencana membuat portal untuk menampung keluhan atau aduan dari warga terkait MBG.
"Nanti Pemda membuat portal berbasis sekolah. Nah, bukan hanya orang tua, bukan hanya SPPG, tapi guru atau kepala sekolah (sasaran penerima)," kata Grengseng.
"(Temuan menu) Kita laporkan ke BGN. Ini kan hirarki vertikal. Kita akan ikut memantau, membantu kalau ada kekurangan. Kalau ada pantauan kurang baik, kita sampai ke sana (BGN). Ini baru disusun," tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, orang tua siswa di Magelang mengeluhkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan saat Ramadan. Mereka berharap menu MBG juga memperhatikan soal pemenuhan gizi.
"Anak saya masih TK. Pada hari pertama, Senin (23/2), menunya berupa roti, susu UHT dan pisang. Hari kedua, Selasa (24/2), kurma 3 biji, 2 telur rebus, dan roti tawar," kata Haksoro kepada detikJateng, Rabu (25/2).
"Nah hari ini sama, ada yang lucu. Mosok menunya kentang Mustofa. Kentang dipotong-potong, diiris kecil-kecil, terus 5 butir telur puyuh dan jeruk," sambung Haksoro.
Haksoro pun mempertanyakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan MBG apakah hanya sekadar mengejar anggarannya atau memang memperhitungkan kandungan gizinya.
"Kenapa memaksa Rp 8 ribu dengan menu yang ora mbejaji (tidak layak). Menurutku menunya asal. Jadi, harapan kami ada perbaikan. Ini kan program nasional, program besar. Ini katanya bukan program mencari untung, tapi program demi rakyat. Harusnya ya menu yang dikasih ya harus sesuai dengan kebutuhan rakyat," tambah Haksoro.
(aku/apl)
