Curhat Wali Murid di Semarang soal Menu MBG Ramadan: Mirip Jajanan Angkringan

Curhat Wali Murid di Semarang soal Menu MBG Ramadan: Mirip Jajanan Angkringan

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 24 Feb 2026 15:16 WIB
Sampel menu MBG selama Ramadan yang diterima para murid sekolah di Semarang.
Sampel menu MBG selama Ramadan yang diterima para murid sekolah di Semarang. Foto: Dok. Orang tua siswa
Semarang -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan menuai berbagai tanggapan dari orang tua siswa. Sejumlah wali murid menilai menu yang dibagikan kurang sepadan dengan anggaran yang disebut berkisar Rp 10 ribu per anak per hari.

Salah satu wali murid yang anaknya duduk di kelas 3 SD di Pekunden, Nur (57) mengaku kecewa dengan menu MBG selama puasa. Menurutnya, makanan yang dibagikan cenderung berupa takjil sederhana seperti kurma, telur rebus, roti, dan camilan.

"Kalau lihat menunya, menurut saya nggak sepadan dengan harga segitu. Orang tua di paguyuban bilang paling dihitung harganya Rp 6.000-an, di bawah Rp 10 ribu," kata Nur saat dihubungi detikJateng, Selasa (24/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, kemarin anaknya mendapat menu MBG berupa kacang hijau, kacang, jeruk, roti. Sementara hari ini ada pisang, telur, kurma, kacang.

Nur pun mempertanyakan kandungan gizi menu tersebut. Menurutnya, anaknya kerap tidak menghabiskan makanan karena kurang selera.

ADVERTISEMENT

"Kalau soal gizi, menurut saya belum terpenuhi. Anak saya paling dimakan pisangnya saja, yang lain kadang nggak. Menurut ortu-ortu itu malah mending nggak usah dapat sekalian," ujarnya.

Ia menyebut, pihak sekolah dan guru sebenarnya sudah beberapa kali menyampaikan protes ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun belum ada perubahan signifikan.

"Sudah berkali-kali protes dari empat bulan lalu, tapi tetap dapatnya seperti itu," imbuhnya.

Ia menuturkan, pada Jumat terakhir juga banyak siswa kelas 1 dan 2 yang tidak mengambil jatah karena makanan datang pukul 11.30 WIB, sementara para siswa sudah pulang sekolah.

"Anak kelas 1 dan 2 sudah pulang. Jadi nggak kebagian. Di sekolah lain di Pekunden juga itu kan anak-anaknya sopan, kadang malah ada yang MBG-nya dibagikan ke driver ojek online, muridnya sendiri yang membagikan," katanya.

Warga Kota Semarang lainnya, Dewanto (42), mengatakan dua anaknya bersekolah di Kecamatan Candisari dan Semarang Selatan. Ia juga mengeluhkan menu yang didapat kedua anaknya.

"Yang di Candisari dapatnya roti, pastel, salak, dan kacang. Kalau yang di Semarang Selatan, dapatnya pisang, kurma, roti, telur ayam, dan telur puyuh," ujarnya saat dihubungi detikJateng.

Ia menilai, tampilan menu MBG itu justru lebih mirip takjil atau jajanan angkringan. Menurutnya menu tersebut juga tak sepadan dengan nilai yang dianggarkan.

"Itu pertama kali itu first impression-ku, menu itu dilihat kayak makanan takjil, sama takjil aja mungkin lebih enak takjil daripada makanan itu. Itu kayak makanan yang dijual di angkringan," ujarnya.

Ia pun menyarankan agar ada evaluasi terhadap pembagian MBG selama Ramadan bagi para siswa. Pemenuhan gizi anak pun harus lebih ditingkatkan dalam menu MBG yang dibagikan.

"Kalau menurut saya MBG bisa tetap dibagikan, tapi disesuaikan harga dan kebutuhan gizinya. Anak kelas 1 kan beda kebutuhannya dengan kelas 6," kata Dewanto.

Sarankan Dirapel Per Pekan

Sementara itu, wali murid asal Mranggen, Kabupaten Demak, Putri (36), mengusulkan agar selama Ramadan pembagian tidak dilakukan setiap hari, melainkan dirapel menjadi seminggu sekali dengan bahan pangan yang lebih layak.

"Kalau memang anggarannya Rp 10 ribu per hari, dikalikan enam hari sekolah kan Rp 60 ribu. Itu bisa dibelikan telur sekilo, susu UHT full cream, atau buah. Lebih bermanfaat dan pasti dimakan anak," kata Putri.

Ia mencontohkan, menu yang diterima anaknya berupa tiga butir kurma yang menurutnya kualitasnya kurang baik, satu telur rebus, roti gabin tape, dan camilan kacang.

"Dari segi rasa pun, maaf, kurang. Menunya ada kurma yang sudah mblenyek, ya kita tahu kalau kurma murah kan memang agak mblenyek, akhirnya nggak kemakan. Terus kemarin telur rebus satu. Sekolah mengimbau untuk setelah pulang sekolah taruh di kulkas," urainya.

"Awalnya pada excited pas tahu mau dapat MBG, karena anakku terhitung terlambat dapat MBG-nya. Sebelum puasa itu normal porsinya, enak, ada nasi, chicken katsu, sayurnya, buah. Nggak tahu ini aku agak kaget yang puasa kok bentuknya kayak gitu, kalau dijumlahkan nggak ada Rp 10 ribu, lah," lanjutnya.

Ia menyebut, sebagian besar makanan yang didapat anaknya itu tak dimakan dan berujung mubazir, sehingga Putri lebih menyarankan agar MBG bisa dibagikan seminggu dekali dengan menu yang lebih layak.

"Kalau aku sebagai orang tua, kalau memang anggaran sudah dianggarkan untuk MBG, nggak apa-apa tapi seminggu sekali atau 3 hari sekali dengan menu yang lebih layak dan memang dimakan sama anak-anak," harapnya.

Para orang tua juga berharap evaluasi dilakukan agar menu MBG selama Ramadan lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan gizi anak. Sebagian bahkan memilih program dihentikan sementara jika dinilai tidak efektif.

"Kalau dari menu yang didapat kemarin, lebih ke mubazir. Orang tua lihat aja nggak selera makan, apalagi anak-anak. Jadi nggak tepat sasaran lah," ujarnya.

Saat dimintai konfirmasi, Sekretaris Tim Percepatan MBG Jateng, Hanung Triyono, menegaskan pelaksanaan program MBG selama Ramadan mengacu pada Surat Edaran Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 3 Tahun 2026.

"Arahan dan standardisasi di atas bisa sebagai pedoman," kata Hanung melalui pesan singkat kepada detikJateng.

Dalam Surat Edaran (SE) Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelayanan Program MBG pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri 1447H/2026M yang diberikan Hanung, ditegaskan bahwa pelayanan MBG tetap dilaksanakan.

"Pelayanan MBG pada Ramadan dan Libur serta Cuti Bersama Idul Fitri 1447H/ 2026 dan Tahun Baru Imlek tetap dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip pemenuhan gizi seimbang, keamanan pangan, ketertiban, serta akuntabilitas," tulis SE tersebut.

Dalam edaran tersebut juga diatur terkait bentuk makanan selama Ramadan. Disebutkan paket makanan kemasan sehat MBG adalah makanan siap makan yang diproduksi dan dilakukan pengemasan di SPPG, menggunakan tote bag dan dikemas oleh SPPG.

"Dengan tetap menerapkan SOP keamanan pangan (pengecekan Masa Kadaluwarsa dan perizinan produk seperti Pangan Industri Rumah Tangga/PIRT) dan kaidah pemenuhan gizi seimbang; bukan 'makanan kemasan' dalam arti produk pabrikan ultra-processed food (UPF) yang dijadikan menu utama SPPG," tulisnya.

Sementara rekomendasi menu selama Ramadan, dalam surat edaran disebutkan adalah telur asin, abon, dendeng kering, buah, atau makanan khas lokal lainnya, serta kurma.

"Dengan tetap memperhatikan keamanan pangan, mutu makanan, serta standar gizi menurut kelompok usia penerima manfaat," kata surat edaran itu.




(alg/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads