Sosok Kombes Yimmy di Mata Warga Sragen: Profesional dan Sederhana

Hoegeng Awards 2026

Sosok Kombes Yimmy di Mata Warga Sragen: Profesional dan Sederhana

Tara Wahyu NV - detikJateng
Selasa, 24 Feb 2026 10:01 WIB
Nama eks Kapolres Sragen Kombes Yimmy Kuriawan diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026.
Kombes Yimmy Kurniawan saat masih menjabat Kapolres Sragen dan berpangkat AKBP 2019 silam. Foto: Andika Tarmy/detikcom
Sragen -

Sosok Kombes Yimmy Kurniawan meninggalkan kesan mendalam bagi tokoh pemuda di Kabupaten Sragen. Kombes Yimmy sendiri sempat menjadi Kapolres Sragen pada tahun 2018-2020.

Atas dedikasinya itu, Kombes Yimmy diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Salah satu warga yang menceritakan pengalaman berinteraksi dengan Kombes Yimmy adalah mantan Ketua GP Ansor Sragen dua periode 2016-2024, Endro Supriyadi.

Menurut Endro, Yimmy adalah pejabat kepolisian yang jauh dari kesan kaku dan sangat terbuka terhadap aspirasi masyarakat. Menurutnya, Kolaborasi Lawan Radikalisme salah satu tonggak kebersamaan yang paling diingat saat Yimmy menjabat sebagai Kapolres. Program tersebut merupakan fokus Kombes Yimmy dalam membentengi pemuda Sragen dari paham radikalisme.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, kata Endro, Yimmy juga memberikan ruang luas bagi anak muda untuk berdialog dan berkolaborasi.

"Waktu itu kita sering kolaborasi, salah satunya bikin acara Kemah Kebangsaan di wilayah Sragen Utara atau sekitar Gesi. Meskipun lokasinya cukup jauh, beliau mau hadir dan memberikan support langsung kepada sahabat-sahabat Ansor dan Banser," kenang Endro mengingat kenangan bersama Kombes Yimmy saat berbincang dengan detikJateng, Jumat (13/2/2026).

ADVERTISEMENT

Selain kemah, kegiatan dialog mengenai wawasan kebangsaan dan cinta tanah air rutin digelar untuk mengantisipasi penyebaran paham radikal di kalangan pelajar dan remaja.

"Waktu itu di beberapa kejadian remaja di lingkungan pelajar kayak-kayak gitu kan. Jadi, kita berharap sosialisasi tentang pencegahan paham radikalisme ini," terangnya.

Ia menyebut kedekatan Kombes Yimmy dengan masyarakat tidak hanya terbatas pada seremoni formal. Endro mengungkapkan bahwa mereka sering duduk bersama sambil ngopi santai untuk membahas situasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di Sragen.

"Beliau sering bertanya situasi Sragen bagaimana, terutama soal gesekan antar perguruan silat yang melibatkan remaja. Beliau sangat profesional dan mau meminta pendapat dari segala arah, tidak hanya dari internal kepolisian saja," ujarnya.

Menjelang Pilpres 2019, kolaborasi keduanya bahkan menyentuh ranah demokrasi. Ansor bersama Kapolres saat itu menginisiasi gerakan moral berupa Satgas Anti Money Politic. Gerakan ini fokus pada sosialisasi agar Pemilu berjalan jujur tanpa dominasi politik uang.

"Kalau nggak salah, malah sampai bikin satgas anti money politik dengan Ansor waktu itu. Ya, kita sosialisasi tentang bagaimana agar pemilu ini bisa berjalan dengan baik, tidak didasarkan atau didominasi," ucapnya.

Meskipun menjabat sebagai orang nomor satu di Kepolisian Resor Sragen, Yimmy dikenal sebagai pribadi yang humble dan sederhana. Ia dikenal rajin bersilaturahmi kepada tokoh-tokoh agama, kiai-kiai NU, serta tokoh masyarakat di Sragen secara intens.

"Biasanya pejabat selevel Kapolres itu situasinya agak kaku atau canggung, tapi beliau sangat cair. Tradisi pamitan secara langsung saat akan mutasi pun beliau lakukan, itu yang membuat kami merasa silaturahmi tetap terjaga," pungkas Endro.

Testimoni Eks Napi Teroris

Testimoni mengenai sosok Kombes Yimmy juga datang dari Paimin (45), eks narapidana teroris asal Desa Maron, Kelurahan Karanganyar, Sambungmacan, Sragen.

Kehidupan Paimin berubah drastis setelah bebas dan kembali ke kampung halaman. Usai menghirup udara bebas, Paimin mendapatkan program pembinaan beternak dari Kementerian Sosial dan BNPT.

Ditemui detikJateng di rumahnya, Paimin menceritakan bahwa Kombes Yimmy merupakan sosok Kapolres yang membimbingnya dalam beternak. Ia menyebut pertama kali bertemu pada tahun 2018. Menurut Paimin, Kombes Yimmy Kurniawan memiliki peran besar dalam proses pendampingan tersebut.

"Setelah bebas tahun 2014, pada tahun 2018 Pak Kapolres menjadi pendamping program dari Kemensos dan BNPT. Yang mendampingi saya saat itu ya Pak Yimmy, ya orangnya ya mau membantu seinget saya," katanya, Jumat (13/2/2026).

Paimin menyebut peran Kombes Yimmy kala itu sangat sentral bagi dirinya. Ia mengatakan pendampingan yang diterima tidak hanya berasal dari kepolisian, namun juga melibatkan unsur lain.

"Memang dari TNI-Polri, pokoknya dari pihak Kodim dan Polres. Salah satunya ya Pak Yimmy itu," ujarnya.

Dukungan Masyarakat dan Aparat

Paimin merasa pendampingan dari aparat tetap berjalan konsisten, dan ia merasa didukung saat kembali hidup bermasyarakat. Setelah bebas, ia mengaku mendapat sambutan yang hangat dari warga sekitar.

"Pendamping kita memang dari pihak TNI dan Polri, terutama yang sering hadir itu pihak kepolisian, baik dari Polres maupun Polsek. Bahkan di tingkat desa pun, alhamdulillah, karena saya di sini langsung membaur dengan masyarakat. Mereka semua mendukung kami sekeluarga," ungkapnya.

Pria berusia 45 tahun itu menceritakan awalnya ia mendapat pembinaan untuk beternak sapi. Mulanya, ia memelihara dua ekor sapi yang sempat beranak dan kemudian dijual.

"Awalnya saya ternak kambing lalu pindah ke sapi. Dua ekor sudah sempat beranak dan dijual. Tapi setelah itu muncul pandemi dan terkena wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) dua kali berturut-turut. Sekarang akhirnya kembali ke kambing," jelasnya.

Saat ini, ada 9 ekor kambing yang masih ia rawat. Meski sempat jatuh bangun, Paimin mengaku tetap memegang amanah yang diberikan untuk terus beternak.

"Masih ada sembilan ekor. Kegiatannya sekarang juga menyewa lahan untuk pertanian. Jadi ternak tetap dilanjut karena itu amanah," ucapnya.

Paimin juga sempat menceritakan kisahnya saat ditangkap karena terlibat jaringan Jamaah Islamiyah. Dirinya ditangkap oleh Densus 88 karena keterlibatan dalam rencana aksi peracunan di Kemayoran.

"Dulu wacananya untuk meracuni Polda Metro Jaya. Alhamdulillah tidak jadi berlanjut ke aksi, sehingga tidak ada korban sama sekali. Kalau memang jadi aksi, mungkin korbannya banyak. Rencananya aksi itu akan dilakukan tepat pada 17 Agustus 2011," ungkapnya.

Ia pun menjalani hukuman penjara selama kurang lebih tiga tahun dan bebas pada tahun 2014. Meski sempat menyimpan rasa benci terhadap aparat kepolisian, kini Paimin justru menjalin hubungan baik dengan mereka.

"Sekarang sudah tidak ada masalah. Dulu keinginannya untuk menegakkan hukum Allah di Indonesia, tapi saya sadari caranya salah. Masuknya saya ke penjara justru merugikan dan menyengsarakan anak-istri saya. Itu menjadi kesadaran pribadi bagi saya untuk kembali ke masyarakat," bebernya.

Kini, bapak empat anak itu berteman baik dengan para pembinanya, baik dari TNI maupun Polri. Bahkan, ia menyebut hubungan mereka sudah seperti saudara.

"Sekarang saya malah dekat dengan Kepolisian, TNI, BIN, dan BNPT. Sudah seperti saudara sendiri," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(ahr/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads