Kasus penganiayaan yang melibatkan sesama remaja di Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas akhirnya berakhir damai. Penganiayaan tersebut terjadi karena terduga pelaku merasa tidak terima wilayahnya dikotori perbuatan korban yang mokel alias makan saat puasa.
Kapolresta Banyumas, Kombes Petrus Silalahi menjelaskan mediasi tersebut dilaksanakan pada Sabtu (21/2) sore. Kedua pihak sepakat berdamai usai dimediasi di Mapolsek setempat dengan melibatkan orangtua dan perangkat desa.
"Kami memfasilitasi mediasi antara pihak korban dan terduga pelaku agar persoalan ini tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan," kata Petrus dalam keterangannya, Minggu (22/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, kedua belah pihak sepakat berdamai. Korban pun menyatakan tidak akan melanjutkan peristiwa tersebut ke jalur hukum.
"Melalui mediasi yang difasilitasi kepolisian, korban bersama pihak terduga pelaku telah mencapai kesepakatan damai. Korban juga menyatakan tidak akan melanjutkan peristiwa tersebut ke proses hukum," tegasnya.
Kesepakatan damai itu kemudian dituangkan dalam surat pernyataan bersama sebagai komitmen kedua belah pihak untuk tidak mengungkit kembali persoalan tersebut di kemudian hari.
Di akhir keterangannya, Petrus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial.
"Kami mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta mengedepankan komunikasi dan musyawarah dalam menyelesaikan setiap permasalahan, demi menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, potongan video menunjukkan aksi penganiayaan tersebar di media sosial. Penganiayaan tersebut melibatkan dua orang remaja yang ketahuan makan saat siang hari, padahal masih waktu puasa.
Video berdurasi 27 detik tersebut tersebar di media sosial Instagram yang diunggah akun @switsweeet yang berkolaborasi dengan @banyumas24jam. Terlihat dalam video tersebut sekelompok remaja sedang terlibat konflik.
Dua diantaranya nampak sedang makan nasi bungkus di sudut lapangan. Salah satu diantara mereka yang sedang makan, tiba-tiba dipukul kepala bagian belakangnya sebanyak dua kali.
Dari percakapan yang terjadi, remaja yang memukul tidak terima wilayahnya merasa dikotori dengan kelakuan dua remaja tersebut yang diam-diam 'mokel' di sudut lapangan wilayahnya.
Banyak yang menyayangkan aksi penganiayaan tersebut. Warganet menilai aksi pemukulan tersebut sangat berlebihan.
(ahr/ahr)
