Tradisi Dandangan menyambut datangnya awal Bulan Ramadan di Kabupaten Kudus berlangsung meriah. Tradisi ini dimulai dengan menabuh beduk dari atas Menara Kudus sebagai tanda datangnya bulan Ramadan.
Pantauan detikJateng di lokasi, warga berbondong-bondong memadati kawasan Menara dan Masjid Sunan Kudus, Rabu (18/2/) sore. Mereka terlihat memakai pakaian serba warna putih dengan khas Kudus.
Acara tahunan ini mengangkat tema tentang 'Dandangan Menara Kudus merawat warisan auliya'. Tradisi ini dimulai dengan ziarah di Makam Sunan Kudus salah satu Wali Sanga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu warga berkumpul tepat di bawah Menara Kudus. Mereka mendengarkan sambutan dari perwakilan yayasan serta pengumuman datangnya Bulan Ramadan.
Setelah itu ada petugas yang naik ke atas Menara Kudus. Mereka menabuh beduk sampai nanti datangnya waktu magrib. Hal ini pun membuat warga sekitar berdatangan ke sekitar Menara Kudus.
Prosesi Tradisi Dandangan di kawasan Menara, Masjid, dan Makam Sunan Kudus, Rabu (18/2/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng |
Seperti salah satu warga, Islamiah (28). Ia penasaran dengan tradisi Dandangan ini. Ia pun memilih untuk datang menyaksikan langsung tabuh beduk di Menara Kudus sebagai tanda awal Bulan Ramadan.
"Menarik ya, baru pertama kali ini. Ini kan tradisi Dandangan sebagai tanda awal Bulan Ramadan," kata Islamiah ditemui di lokasi, Rabu (18/2/2026).
Perwakilan Yayasan Menara, Masjid, dan Makam Sunan Kudus, Mohamad Zaenuri, mengatakan Sunan Kudus meninggalkan dua warisan. Berupa terlihat dan kasat mata. Terlihat berupa masjid dan Menara Kudus. Sedangkan kasat mata berupa budaya termasuk tradisi Dandangan menyambut datangnya Bulan Ramadan.
"Sunan Kudus ini meninggalkan dua warisan kasat mata berupa masjid dan Menara Kudus," jelas Zaenuri saat memberikan sambutan di bawah Menara Kudus.
Menurutnya kedua warisan yang ditinggalkan Sunan Kudus salah satunya adalah tradisi Dandangan. Dandangan ini sebagai tradisi pengumuman datangnya Bulan Ramadan yang ditandai dengan tabuh beduk dari atas Menara Kudus.
"Kedua warisan tidak kasat mata, dikonsep tahun 60 Gusjigang bagus perilaku dan wasis dagang. Termasuk hari ini Tradisi Dandangan Menara Kudus merawat warisan auliyat," ungkap dia.
Prosesi Tradisi Dandangan di kawasan Menara, Masjid, dan Makam Sunan Kudus, Rabu (18/2/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng |
Sementara itu Ikrar Awal Ramadan disampaikan oleh Tokoh Agama setempat, Saifudin Lutfi. Menurutnya bahwa mulai dari magrib ini sudah masuk dalam Bulan Ramadan. Kemudian dimulai dengan salat tarawih.
"Mulai awal magrib nanti sudah mulai awal bulan Ramadan. Terus selesai Isya kita sudah mulai salat tarawih," kata dia saat memberikan sambutan.
Kesempatan yang sama, Sekda Kudus, Revlisianto Subekti menjelaskan nilai dan kearifan lokal dakwah Sunan Kudus tertanam kuat di masyarakat Kudus. Upacara Dandangan ini sebagai pembelajaran antara budaya dan agama yang saling menguatkan di tengah masyarakat.
"Nilai dan kearifan dakwa Sunan Kudus tertanam kuat di masyarakat Kudus. Upacara mengajarkan agama dan budaya dua hal yang saling menguatkan inilah jati diri Kudus Kota budaya dan agama. Sebagai warisan leluhur harus terus kita jaga," kata Revlisianto saat memberikan sambutan di Menara Kudus.
Menurutnya dengan dimulai datangnya Bulan Ramadan sebagai bentuk untuk memperbaiki diri dan menyiapkan untuk menyongsong datangnya Bulan Ramadan.
"Tabuh beduk ini adalah panggilan untuk berbenah diri memperbaiki diri, menyiapkan jiwa untuk mendorong Ramadan, doa bersama kita panjatakan sebagai wujud syukur agar seluruh warga Kudus diberikan kesehatan, keberkahan," ujarnya.
(afn/apu)













































