Gus Ipul Tegur Pendamping PKH Sekolah Rakyat di Kebumen gegara Ribut Sendiri

Gus Ipul Tegur Pendamping PKH Sekolah Rakyat di Kebumen gegara Ribut Sendiri

Rinto Heksantoro - detikJateng
Sabtu, 14 Feb 2026 16:35 WIB
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul berkunjung ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kebumen, Sabtu (14/2/2026) siang.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul berkunjung ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kebumen, Sabtu (14/2/2026) siang. Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng
Kebumen -

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul hari ini berkunjung ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kebumen. Gus Ipul sempat marah dan menegur pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang mengobrol sendiri saat dialog dengan salah satu murid berlangsung.

Mensos Gus Ipul berdialog langsung dengan beberapa murid di SRT 44 Kebumen di Kecamatan Kebumen pada Sabtu (14/2/2026) siang untuk mengetahui sejauh mana perkembangannya.

Saat Gus Ipul tengah berdialog dengan salah satu siswa, Erni (14), yang memiliki kisah tragis, para pendamping PKH terlihat ramai dan berbicara sendiri. Ia pun tampak marah dan menegur mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Eh ada apa, kenapa, jangan bicara sendiri. Hei pendamping, kamu perhatikan ya, sekali lagi saya minta perhatian temen-temen ada acara seperti ini jangan membiasakan diri untuk bicara di tengah acara. Pendamping harus menjadi contoh bagi KBM atau juga bagi masyarakat. Kalau sudah selesai silakan nanti bicara," ucapnya.

ADVERTISEMENT

"Ini perhatikan, ini adalah invisible people yang kalian harus dengar, kalian harus lihat dan kalian harus catat. Jangan mentang-mentang begini, terus kami nggak boleh, yang bener aja. Orang-orang seperti ini lah yang harus kamu dengar. Sungguh-sungguh kamu perhatikan. Ini adalah bagian tugas dan tanggung jawab kalian. Ketika orang-orang seperti ini bicara, kamu harus diam," sambungnya.

Tak berhenti sampai di situ, Gus Ipul kemudian menyuruh para hadirin untuk menyimak UUD 1945 Pasal 34 yang langsung ditayangkan di layar panggung. Ia lalu menyebut, ada sekitar 4 juta anak yang tidak bisa merasakan sekolah.

"Coba baca Undang-undang Dasar Pasal 34, fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Salah satunya adalah ini, amanat Undang-undang Dasar 1945. Hampir 4 juta anak usia sekolah tidak sekolah, belum sekolah, putus sekolah dan berpotensi putus sekolah," terangnya.

Sementara itu, Erni yang sedang diajak berdialog hanya bisa tertunduk diam. Ia bercerita, jika sejak bayi dirawat oleh sang nenek yang belum lama ini meninggal dan kemudian dirawat oleh pamannya. Orang tua Erni sendiri meninggalkannya sejak masih bayi.

Hidup bersama pamannya yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan membuat Erni sempat putus sekolah. Dia akhirnya ia bisa melanjutkan pendidikan pendidikan di SRT 44 Kebumen.

"Cita-cita belum tahu, pelajaran paling suka matematika. Pernah putus sekolah saat lulus SD mau ke SMP putus sekolah," ucapnya.

Kepala SRT 44 Kebumen, Tri Puji Astuti, menuturkan setidaknya ada 100 siswa yang kini tengah belajar di sekolah tersebut. SRT 44 Kebumen sendiri sudah sekitar empat bulan berjalan.

"Ada 100 siswa. Untuk kelas 4,5,6 ada 50 dan 7,8,9 ada 50. Kebetulan kelas 1,2 dan 3 tidak ada," tuturnya.




(apu/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads