Heboh Rumah di Grobogan Dibelah Jadi 2 Buntut Ribut Suami-Istri

Heboh Rumah di Grobogan Dibelah Jadi 2 Buntut Ribut Suami-Istri

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Sabtu, 14 Feb 2026 16:05 WIB
Viral rumah di Grobogan dibelah suami. Begini cerita lucunya.
Rumah dibelah di Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jumat (13/2/2026). Foto: dok. Instagram/@infogrobogan.id
Grobogan -

Viral di media sosial video rumah dibelah dua di Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan. Begini kata perangkat desa.

Video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Instagram @infogrobogan.id. Terlihat seorang laki-laki berkaos hitam tengah menggergaji meja kayu panjang menjadi dua bagian.

"Sebuah video yang memperlihatkan proses pembagian harta gono-gini pasangan suami istri di Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, viral di media sosial," tulis cuplikan takarir video tersebut dilihat detikJateng, Sabtu (14/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Video itu sudah ditonton lebih dari 346 ribu pengguna dan telah dibagikan ribuan kali. Pada akhir video, terlihat kondisi rumah yang sudah terbelah dua.

ADVERTISEMENT

Kepala Dusun Sambong, Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Bambang Irawan, mengatakan peristiwa tersebut terjadi kemarin di RT 4 RW 5 wilayahnya.

"Kejadiannya Jumat (13/2) kemarin," kata Bambang melalui sambungan telepon pada detikJateng, Sabtu (14/2).

Duduk perkara pembelahan rumah ini dimulai ketika sang istri bersama ibunya mengadu kepada Bambang jika ada permasalahan rumah tangga.

"Istrinya sama ibunya datang ke saya, katanya punya masalah," ujar Bambang.

Pada hari yang berbeda, Bambang mengajak keduanya bertemu di kantor desa. Kemudian Bambang merencanakan pertemuan antara kedua belah pihak di rumahnya.

"Jumat minggu lalu, pagi itu saya ajak ketemu di (kantor) desa sama Pak Carik. Malamnya itu saya temukan di rumah saya, (yang hadir) kedua belah pihak, orang tua pun juga hadir, Pak Carik juga," ujar Bambang.

Pada pertemuan malam itu, Bambang menyebut sang istri menyampaikan jika suaminya kasar. Pihak suami sempat ingin membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya.

"Waktu itu baru membahas tentang keluarga. Lakinya itu kan katanya kasar, tapi yang lakinya itu mau ada surat pernyataan yang intinya itu tidak akan mau ngulangin lagi," tutur Bambang.

"Kasar itu bukan main kekerasan tangan, bukan. Cuma karakter saja, omongane nek orang Jawa bilang sengak, rodok keras (kasar) gitu (omongannya)," tambahnya.

Bambang menyampaikan keinginan suami itu ditolak oleh sang istri. Menurutnya, pertemuan malam itu juga berlangsung alot.

"Ya laki-laki mau, tapi ditolak sama istri. Pihak istri, ndak mau yang istrinya. Alot sekali itu untuk pembahasan waktu itu," beber Bambang.

Pihak Istri Ingin Pisah dengan Suami

Tiga hari kemudian, sang istri mengatakan pada Bambang keinginannya untuk berpisah dengan suaminya. Bambang diminta menyampaikan perihal itu pada si suami.

"Tiga hari itu, ceweknya itu sudah sudah bilang sama saya. Saya suruh sambung lidah sama si suami, tiga hari itu ternyata ceweknya nggak bisa akur lagi. Intinya mau pisah," kata Bambang.

Hari setelahnya, sang suami menemui Bambang. Ia mengutarakan keinginannya untuk membawa rumah yang ditinggali mereka berdua ke daerah asalnya.

Bambang menjelaskan pihak suami berasal dari Desa Simo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Sementara sang istri, merupakan warga asli Desa Mlowokarangtalun.

Saat mengetahui niat sang suami, Bambang sempat memberi nasihat. Ia meminta agar si suami tidak memikirkan soal harta gana gini karena keduanya belum bercerai.

"Saya sarankan, 'Mas, mbok jangan membahas masalah gono gini. Jenengan kan masih suami istri to, Mas'. Kan sakbenere kan yo gini iki ditentukan kan yo nek wis selesai cerai bener-bener cerai, alias pengadilan," tutur Bambang.

Bambang lalu mengajak si suami untuk datang ke rumah orang tua istri yang masih berada di desanya. Di sana, terjadi diskusi soal pembagian rumah yang mereka tinggali.

"Terus itu saya rasa enggak ada titik temu lagi, karena itu ide-idenya itu konyol sekali. Kenapa konyol? Itu masa rumah mau dibelah dua, kan konyol itu namanya," ujar Bambang sambil menirukan percakapan waktu itu.

"Sing cowoknya (sempat bilang) gini, gak iso nek paro loro kan gitu. Heeh. Kamu kan cewek, cewek kan biyen nggendong nek aku cowok kan berarti mikul. Terus sempat nawani itu biar dinilai uang, lalu nanti baru dibagi, saya gitu. Lah, cowoknya bilang gini, 'nggak bisa nek dijual pak,' Tetep saya bilang dijual, kan dia minta separo kan gitu," lanjutnya.

Merasa sudah tidak ada titik temu, Bambang kemudian lepas tangan dari urusan rumah tangga keduanya. Ia hanya berpesan agar tidak ada kekerasan dalam persoalan ini.

"Terus saya waktu itu sudah langsung pamitan. Intinya pamitan dalam arti sudah nggak bisa bantu lagi. Saya sudah tiga kali mempertemukan nggak ada hasilnya. Sekarang dirembuk dulu yang baik-baik jangan ada pertengkaran jangan ada kekerasan," ucap Bambang.

Rumah Benar-benar Dibelah

Peristiwa pembelahan rumah itu terjadi pada Jumat (13/2) pagi hingga sore hari. Bambang yang sedang bertani mendapat kabar dari teman dan tetangga rumah tersebut.

"Kejadiannya Jumat pagi sampai sekitar jam 16.00 WIB. Saya dikirimi foto bahwa rumahnya sudah dibuka, gentengnya itu sudah dibuka," tutur Bambang.

Menurut Bambang, sang suami menyuruh orang lain untuk membelah rumah dan isinya menggunakan gergaji mesin.

"Bukan yang punya rumah itu yang membelah. Mungkin ya tukang tukang gergaji mungkin suruhan dari si suami. Suami waktu itu juga nungguin di situ," kata Bambang.

Para tukang membelah rumah limasan dan beberapa furnitur di dalamnya menjadi dua. Bambang mengatakan hasil dari belahan rumah itu kemudian dibawa sang suami ke rumah orang tuanya.

"Yang dibelah itu rumahnya sama kepakan (atau) dinding depan itu. meja tebal panjang, keramik yang model paving itu juga. Meja itu kan ada pelengkapnya bangku dua, itu tidak dibelah tapi dibagi satu-satu," jelas Bambang.

"(Hasil yang dibelah) yang punya suaminya, dibawa pulang ke rumah orang tuanya," imbuhnya.

Dalam proses pembelahan rumah beserta isinya itu, polisi sempat mendatangi lokasi. Menurut Bambang, sang suami sempat dibina oleh polisi agar menghentikan perbuatannya.

"Sempat dibina sama dari pihak polsek juga ikut membina itu. Tolong yang masih selamat diselamatkan, jangan dirusak lagi," ungkap Bambang.

Bambang menerangkan rumah yang diperseterukan suami istri itu dibangun bersama oleh keduanya. Sementara tanah tempat rumah itu berdiri, dikatakan Bambang milik orang tua si istri.

"(Membangun rumahnya dari uang) Hasil merantau. Jadi berdua sama-sama pernah merantau di Papua. Kalau sertifikat (tanah) yang ditinggali rumah itu (milik) orang tua si ceweknya. Itu yang beli cuma rumahnya saja itu. Kalau tanahnya masih ngikut sama orang tua si ceweknya," ungkap Bambang.

Menurut Bambang, hingga saat ini belum ada pengajuan cerai di antara pasutri tersebut. Dalam pernikahannya, mereka juga sudah dikaruniai dua anak.

"Masih suami istri ini, belum ada pengajuan (cerai), belum. Anaknya sudah dua, cowok cewek," pungkas Bambang.

Halaman 2 dari 2
(apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads