Melihat Iklan Jadul di Monpers Solo, Begini Promonya buat Kaum Elite Era 1937

Melihat Iklan Jadul di Monpers Solo, Begini Promonya buat Kaum Elite Era 1937

Tara Wahyu NV - detikJateng
Sabtu, 14 Feb 2026 19:25 WIB
Pameran iklan media cetak salah satunya Majalah Kejawan yang mengiklankan Cat Murola tahun 1937 di Monumen Pers, Selasa (10/2/2026).
Pameran iklan media cetak salah satunya Majalah Kejawan yang mengiklankan Cat Murola tahun 1937 di Monumen Pers, Selasa (10/2/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng.
Solo -

Iklan bukan sekadar alat promosi, namun juga mencerminkan perubahan zaman. Hal inilah yang berusaha ditunjukkan dalam pameran iklan jadul yang berlangsung di Monumen Pers Nasional, Solo.

Berbagai iklan produk dari media cetak lintas zaman dipamerkan di sana. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah iklan produk Cat Murola yang terbit pada tahun 1937.

Kurator pameran, Rahayu Trisnaningsih, mengatakan pameran ini menonjolkan sisi modernisasi pada iklan tersebut. Iklan yang dipasang di Majalah Kejawen 89 tahun lalu itu menggunakan Aksara Jawa dengan visual seorang pria sedang mengecat dinding.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iklan cat Murola tahun 1937 ini masuk ke segmen modernisasi. Iklan ini diterbitkan oleh Majalah Kejawen," kata perempuan yang akrab disapa Nani tersebut kepada detikJateng, Selasa (10/2/2026).

ADVERTISEMENT

Nani menjelaskan penggunaan Aksara Jawa dan bahasa Jawa halus atau krama inggil menjadi bukti nyata strategi pemasaran masa kolonial yang sangat mempertimbangkan kelas sosial dan kedekatan budaya.

Majalah Kejawen sendiri diterbitkan oleh Balai Pustaka, lembaga bentukan Belanda. Penggunaan aksara tradisional untuk produk modern seperti cat menunjukkan target pasarnya adalah kelompok elite bangsawan yang masih memegang teguh tradisi namun mulai mengadopsi gaya hidup Barat.

"Pemerintah Kolonial tahu bahwa yang mampu membeli majalah dan menggunakan jasa arsitek saat itu adalah kalangan bangsawan. Maka, pendekatannya menggunakan bahasa halus," jelasnya.

Pameran iklan media cetak salah satunya Majalah Kejawan yang mengiklankan Cat Murola tahun 1937 di Monumen Pers, Selasa (10/2/2026).Pameran iklan media cetak salah satunya Majalah Kejawan yang mengiklankan Cat Murola tahun 1937 di Monumen Pers, Selasa (10/2/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng

Nani juga sempat membacakan isi iklan Murola tersebut. Dalam narasinya, Murola mengampanyekan konsep rumah modern.

"Isinya, kalau ingin rumah terlihat bagus dan modern, gunakanlah cat ini. Para arsitek menggunakan cat Murola. Menariknya, Murola adalah salah satu cat yang sudah bisa dibersihkan," ungkap Nani membacakan terjemahan iklan tersebut.

Hal ini menunjukkan standar hunian modern dan higienis ternyata sudah mulai masuk ke Indonesia hampir seabad yang lalu.

"Jadi, zaman itu sebenarnya sudah ada teknologi cat yang bisa dibersihkan," ucapnya.

Mengenai penggunaan bahasa, Nani menekankan Majalah Kejawen memang konsisten memasukkan unsur budaya Jawa. Namun, tidak semua iklan menggunakan Aksara Jawa, sebagian besar tetap menggunakan bahasa Jawa halus.

"Karena namanya Majalah Kejawen, maka iklannya pun berbahasa Jawa, baik menggunakan huruf Latin maupun Aksara Jawa. Ini adalah upaya memasukkan unsur budaya dalam aspek komersial," sambungnya.

Nani menambahkan Majalah Kadjawen berhenti terbit sekitar tahun 1940-an. Sementara untuk keberadaan produk Cat Murola saat ini, ia mengaku belum mengecek lebih lanjut apakah merek tersebut masih diproduksi atau tidak.

"Majalah Kejawen sudah tidak ada sejak tahun 1940-an. Kalau produk catnya, saya kurang tahu masih ada atau tidak sekarang," pungkasnya.

Sementara itu, salah satu pengunjung Jaka Putra (33) mengaku nostalgia dengan sejumlah iklan yang sempat dilihat. Apalagi, ia biasanya melihat iklan melalui layar televisi.

"Seru sih, jadi tau iklan di masa koran, karena dulu lebih sering melihat televisi, sempat nostalgia juga dengan beberapa iklan di koran," katanya.

Salah satu iklan yang mencuri perhatiannya yakni Blue Band yang juga ada di media cetak. Karena biasanya lihat di televisi.

"Iklan blue band, semua orang bilang margarin itu blue band, kalo zaman dulu jarang sih memperhatikan iklan di koran, karena biasanya lihat Blue Band di televisi," ucapnya.

Halaman 2 dari 2
(apl/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads