8 Teks Khutbah Jumat Akhir Bulan Syaban dan Persiapan Menyambut Ramadan 2026

8 Teks Khutbah Jumat Akhir Bulan Syaban dan Persiapan Menyambut Ramadan 2026

Nur Umar Akashi - detikJateng
Kamis, 12 Feb 2026 19:09 WIB
Ilustrasi Khutbah Jumat
Ilustrasi Khutbah Jumat. (Foto: Gemini AI)
Solo -

Tak terasa, Syaban 1447 H akan segera berakhir, digantikan Ramadan yang telah dinanti-nanti. Jumat terakhir Syaban akan jatuh pada 13 Februari 2026.

Para khatib dapat memaksimalkan Jumat terakhir Syaban untuk memberi ceramah seputar persiapan memasuki Ramadan. Tema-tema macam fikih puasa, larangan dalam berpuasa, hingga sunnah-sunnah berbuka bisa diangkat.

Tujuannya, tidak lain tidak bukan adalah mempersiapkan pribadi seorang muslim sebelum memasuki bulan puasa. Sebab tanpa ilmu, ibadah puasa Ramadan mungkin tidak berjalan maksimal sebagaimana mestinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanpa berlama-lama, simak deretan teks khutbah Jumat terakhir Syaban dan persiapan menyambut Ramadan 2026 di bawah ini.

ADVERTISEMENT

Kumpulan Teks Khutbah Jumat Akhir Syaban-Persiapan Ramadan

Diambil dari laman NU Jawa Timur, Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama Jawa Barat, dan NU Lampung, berikut 8 teks khutbah Jumat akhir Syaban seputar persiapan menyambut Ramadan:

Teks Khutbah Jumat #1: Ikhtiar agar Ramadhan Penuh Makna

Jamaah yang Mulia Tidak henti-hentinya para khatib saat berada di mimbar Jumat untuk terus mengingatkan agar jamaah dan utamanya dirinya sendiri senantiasa meningkatkan takwallah. Dalam artian menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang. Lantaran takwallah demikian penting dalam upaya membawa kita menjadi insan terbaik. Apalagi takwal adalah bekal terbaik bagi setiap muslimin dan muslimat.

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT
Kini kita berada di penghujung bulan Sya'ban dan beberapa hari lagi akan memasuki bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Maka selayaknya kita tidak perlu menunda lagi untuk meningkatkan keshalihan. Ini adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Maka mulai sekarang marilah kita semakin mendekatkan diri dan semakin giat beribadah, serta kian jauh meninggalkan larangan-larangan Allah.

Juga senantiasa berdoa sebagaimana ajaran Rasulullah SAW:

أَللَّهُمَّ بَارِكْلَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya: Ya Allah, berkatilah kehidupan kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah usia kami hingga bulan Ramadhan.

Kemudian ketahuilah wahai saudara-saudara seiman yang dimuliakan Allah, bahwa di antara nikmat terbesar yang dikaruniakan oleh Allah kepada para hamba-Nya adalah kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Karenanya, para hamba mesti berbahagia menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh rasa syukur dan keridhaan. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya: Bulan Ramadhan adalah diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (QS Al-Baqarah, 2: 185)

Maka siapa pun yang masih dapat menjumpai bulan Ramadhan, maka hendaklah ia berpuasa. Sementara beberapa hari lagi kita telah memasuki bulan Ramadhan, maka marilah senantiasa menyongsong kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh suka cita. Mempersiapkan segala potensi fisik, materi dan rohani untuk mengagungkan bulan Allah ini. Bila telah masuk awal Ramadhan, marilah berdoa kepada Allah, agar dikarunia keselamatan keimanan dan kehusyukan beribadah selama sebulan penuh.

Para ulama terdahulu mencontohkan bahwa, sejak mendekati hari-hari terakhir bulan Sya'ban, mereka senantiasa meningkatkan amalan-amalan kebaikan seraya berdoa: Ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini (Ramadhan) keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Berikanlah kepada kami, taufik dan i'anah-Mu agar kami mampu melakukan amalan-amalan yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Dan bila telah datang bulan Ramadhan nanti, marilah kita ikuti sabda Rasulullah SAW:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ

Artinya: Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu, saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. (HR Ahmad)

Hadirin Ikhwanul Muslimin Rahimakumullah
Puasa pada bulan Ramadhan adalah wajib dikerjakan oleh setiap orang Islam. Kewajiban puasa Ramadhan berdasarkan Al-Qur'an, sunnah dan ijma'. Landasan Al-Qur'an sebagaimana telah kita dengarkan bersama tadi dalam firman Allah yang tercantum di dalam surat Al-Baqarah ayat: 185.

Sedangkan landasan hadits, tak berbilang banyaknya. Salah satunya adalah sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:

بُنِيَ الإسْلاَ مُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةُ أنْ لاَ إلَهَ إلا الله وَأنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإقَامِ الصَّلا ةَ وَإيْتاَءِ الزَّكَاةِ وَالحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Artinya: Islam dibangun atas 5 hal, yaitu bersaksi tidak ada dzat yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan haji dan puasa di bulan Ramadhan. (HR Bukhari dan Muslim)

Lalu mungkin kita akan bertanya-tanya, bila manakah bulan Ramadhan datang, dan kapankah kita akan memulai berpuasa Ramadhan? Maka ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian, datangnya bulan Ramadhan dapat ditetapkan dengan dua jalan, pertama dengan terlihatnya hilal dan yang kedua adalah setelah menggenapkan bulan Sya'ban hingga 30 hari. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

إذَا رَأيْتُمُ الْهِلَا لَ فَصُوْمُوا وَإذَا رَأيْتُمُوْهُ فَأفْطرُوْا فإنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُوْمُوا ثَلا ثِيْنَ يَوْمًا

Artinya: Apabila kalian melihat hilal (bulan sabit penanda awal Ramadhan), maka puasalah. Dan apabila kalian melihat hilal (pada awal bulan Syawal), maka berbukalah (lebaran). Apabila tertutup awan (mendung), maka berpuasalah 30 hari. (HR Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:

الصَّوْمُ يَومٌ تَصُوْمُوْنَ وَاْلفِطْرُ يَوْمٌ تُفْطِرُوْنَ وَالْأضْحَى يَوْمٌ تُضَحُّوْنَ

Artinya: Puasa itu adalah pada hari kalian semua berpuasa, dan lebaran itu pada hari kalian berbuka, sedangkan Idul Adha adalah pada saat kalian semua berkurban. (HR Tirmidzi)

Berdasarkan hadits ini kita dianjurkan agar menjaga persatuan dan persaudaraan sesama umat Islam, jangan terpecah belah dan saling bermusuhan, hanya karena perbedaan waktu penentuan awal Ramadhan dan hari raya.

Hadirin Jamaah Jumat yang Berbahagia
Lalu siapa sajakah orang-orang yang diwajibkan untuk menjalankan puasa? Mereka adalah yang telah menetapi syarat dan rukun puasa. Yakni harus orang Islam, baligh yaitu cukup umur dan berakal dalam artian tidak hilang akal.

Sedangkan rukun puasa adalah, adanya niat yang harus telah dilakukan pada setiap malam bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّياَمَ قَبْلَ الفَجْرَ فَلا صِيَامَ لَهُ

Artinya: Barang siapa tidak berniat puasa pada malam sebelum fajar, maka puasanya tidak sah. (HR Nasai)

Sedangkan rukun berikutnya adalah menahan diri. Yaitu menahan diri dari segala yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan bersetubuh dari waktu mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Kemudian yang perlu diketahui adalah, hal-hal yang membatalkan puasa. Jika kita melakukan hal-hal berupa: makan, minum dan bersetubuh dengan sengaja atau terdapat sesuatu yang masuk sampai ke tenggorokan, baik berkumur ketika wudhu atau menelan sesuatu benda dan yang lainnya. Hal-hal tersebut tentu membatalkan puasa kita.

Hal lain yang membatalkan puasa adalah keluar mani dengan sengaja, seperti karena berlama-lama memandang perempuan, baik yang halal baginya maupun bukan, mengkhayal, berciuman atau bersentuhan dengan perempuan sehingga keluar mani. Juga muntah dengan sengaja. Sedangkan muntah tanpa sengaja, maka tidak membatalkan puasa.

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ

Artinya: Barang siapa muntah dengan sengaja, maka wajib mengqadha (puasanya). (HR Tirmidzi)

Tidak berniat puasa pada malam harinya juga membatalkan puasa. Keluarnya darah haid atau nifas. Murtad serta hilang akal atau gila adalah juga membatalkan puasa. Karenanya kita harus senantiasa bertindak hati-hati selama menjalankan ibadah puasa.

Sedangkan orang-orang yang diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa ada beberapa kategori, yakni perempuan hamil berdasarkan petunjuk dokter. Demikian pula perempuan yang sedang menyusui, seperti haInya perempuan hamil. Termasuk musafir, yakni orang yang bepergian jauh bukan untuk tujuan maksiat, namun setelah itu wajib mengqadha puasa yang ditinggalkan. Selanjutnya yakni orang lanjut usia yang tidak sanggup lagi berpuasa. Sebagai gantinya dia harus membayar fidyah setiap hari dengan memberi makan kepada satu orang miskin.

Maka, setelah mengetahui segala hal yang terkait dengan puasa, marilah kita bersiap menyambut bulan Ramadhan demi menunaikan salah satu rukun Islam tersebut. Marilah kita sambut bersama bulan penuh berkah dan ampunan Allah ini dengan penuh rasa suka cita dan keikhlasan beribadah. Sebagaimana Allah dan Rasulullah telah menyatakan keagungan bulan Ramadhan dalam surat Al-Baqarah ayat 185 di atas. Serta sabda Rasulullah SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِِ

Artinya: Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (HR Bukhari)

Sekali lagi, pengetahuan masalah puasa Ramadhan hendaknya kita kuasai dengan baik. Demikian pula niat demikian tulus kita tekankan dalam hati untuk menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai kesempatan langka sekaligus istimewa. Karena tidak ada jaminan bahwa tahun depan kita akan bertemu kembali dengan Ramadhan, meski tentu saja terus berdoa agar diberikan umur panjang sehingga dapat berjumpa dengan Ramadhan kembali. Amin ya rabbal alamin.

Teks Khutbah Jumat #2: Mempersiapkan Ramadan di Bulan Sya'ban

Jamaah jumat yang berbahagia,

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Meningkatkan takwa dapat dengan menaati seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk menjalani kehidupan ini sesuai dengan ajaran-Nya. Amin.

Shalawat dan salam marilah kita limpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang telah menjadi penerang jalan menuju agama yang diridhai Allah. Semoga kita menjadi umat pengikut jejak langkahnya dan dikumpulkan kembali bersama beliau di akhirat kelak. Amin.

Jamaah jumat yang berbahagia,

Sebentar lagi, kita akan memasuki bulan Ramadan yang penuh berkah. Sebelum datangnya bulan yang mulia ini, ada bulan yang sangat penting dalam persiapan kita, yaitu bulan Sya'ban. Bulan Sya'ban adalah bulan yang dapat membantu kita mempersiapkan fisik, spiritual, dan mental untuk menjalani Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Dalam khutbah kali ini, saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan bagaimana bulan Sya'ban dapat menjadi bekal yang berharga bagi kita dalam menyambut Ramadan.

Jamaah jumat yang berbahagia,

Sya'ban adalah bulan yang sangat istimewa, karena di dalamnya terdapat kesempatan besar untuk memperbaiki diri. Rasulullah SAW dalam hadis-hadisnya mengajarkan kepada kita untuk memanfaatkan bulan Sya'ban dengan memperbanyak ibadah, terutama puasa sunnah.

Rasulullah SAW sendiri sangat memperbanyak puasa sunnah di bulan ini, sebagai persiapan untuk memasuki Ramadan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَصُومُ حتَّى نَقُولَ: لا يُفْطِرُ، ويُفْطِرُ حتَّى نَقُولَ: لا يَصُومُ، فَما رَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلَّا رَمَضَانَ، وما رَأَيْتُهُ أكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ

"Dari Siti Aisyah ra berkata: "Rasulullah berpuasa hingga kami menyangka Ia berbuka, dan berbuka hingga kami menyangka Ia tidak berpuasa dan aku tidak pernah melihat Rasul menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadan dan aku tidak pernah melihat Rasul memperbanyak puasanya daripada berpuasa di bulan Sya'ban".

Hadis lain dari riwayat an-Nasai juga menguatkan bahwa Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, meskipun tidak secara penuh.

لقد كانَت إحدانا تُفطِرُ في رَمضانَ ، فما تقدرُ على أن تقضيَ حتَّى يدخلَ شعبانُ ، وما كانَ رسولُ اللَّهِ يصومُ في شَهْرٍ ما يصومُ في شعبانَ ، كانَ يصومُهُ كُلَّهُ إلَّا قليلًا بل كانَ يصومُهُ كُلَّهُ

"Salah satu dari kami biasa berbuka di bulan Ramadan, dan tidak mampu untuk mengqadha puasa tersebut hingga masuk bulan Sya'ban. Rasulullah tidak berpuasa di bulan mana pun seperti yang beliau berpuasa di bulan Sya'ban, beliau berpuasa sepanjang bulan itu kecuali sedikit."

Jamaah jumat yang berbahagia,

Bulan Sya'ban memberikan kita kesempatan untuk menyesuaikan tubuh kita dengan puasa yang lebih panjang. Ketika kita berpuasa di bulan Sya'ban, tubuh kita akan terbiasa dengan menahan lapar dan dahaga.

Ini sangat penting karena ketika Ramadan tiba, kita tidak akan merasa terkejut dengan tantangan fisik yang ada. Sebaliknya, kita akan lebih siap secara fisik untuk menjalani puasa dengan penuh kekuatan, sehingga kita bisa fokus pada ibadah lainnya, seperti membaca Al-Quran, salat tarawih, dan berbuat kebaikan.

Saudaraku, kita sering kali merasa lelah atau kesulitan ketika pertama kali berpuasa setelah tidak melakukannya dalam waktu yang lama. Namun, dengan memulai di bulan Sya'ban, kita akan merasa lebih siap dan mampu menjalani puasa di bulan Ramadan dengan lebih baik.

Jamaah jumat yang berbahagia,

Selain mempersiapkan fisik, bulan Sya'ban juga merupakan bulan untuk memperkuat disiplin spiritual kita. Ramadan adalah bulan yang lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah waktu untuk membersihkan hati dan jiwa, untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Puasa yang sesungguhnya adalah puasa yang tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk perbuatan buruk, baik itu perkataan yang tidak baik, perbuatan yang tidak bermanfaat, ataupun pikiran yang negatif.

Sya'ban adalah waktu yang tepat untuk melatih diri kita dalam mengendalikan nafsu dan memperbaiki perilaku kita. Melalui puasa sunnah di bulan ini, kita diajarkan untuk lebih disiplin dalam menjaga diri dari segala hal yang dapat merusak puasa kita, baik secara fisik maupun spiritual. Ini adalah pelatihan bagi jiwa kita, agar ketika Ramadan datang, kita siap untuk menjalani puasa dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan yang tinggi.

Jamaah jumat yang berbahagia,

Selain puasa, bulan Sya'ban juga mengingatkan kita untuk memperbanyak membaca Al-Quran. Di bulan Ramadan, setiap huruf yang kita baca dari Al-Quran akan diberi pahala yang sangat besar. Karenanya, orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an merupakan sebaik-baik manusia.

عن عثمانَ بن عفانَ رضيَ اللَّه عنهُ قال : قالَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « خَيركُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعلَّمهُ » رواه البخاري
Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Tirmidzi).

Dengan membiasakan diri membaca Al-Quran di bulan Sya'ban, kita akan lebih siap untuk membaca dan merenungkan ayat-ayat Allah di bulan Ramadan, yang mana itu akan semakin memperkuat iman kita.

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan bulan Sya'ban dengan sebaik-baiknya. Mari kita latih tubuh kita untuk siap berpuasa, kita latih jiwa kita untuk lebih disiplin dan menjaga diri, serta kita perbanyak membaca Al-Quran sebagai persiapan untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh harapan.

Marilah kita berdoa, semoga Allah senantiasa memberi kita taufik dan hidayah-Nya untuk memanfaatkan bulan Sya'ban sebagai waktu persiapan yang baik bagi kita. Semoga kita semua dapat menjalani Ramadan dengan penuh berkah, kedamaian, dan kesucian hati. Amin.

Teks Khutbah Jumat #3: Lima Persiapan Menyambut Ramadhan

Jama'ah Rahimakumullah

Alhamdulillah bersyukur kepada Allah, bahwa kita dan umat muslim di dunia akan menyambut tamu istimewa, yaitu bulan suci Ramadhan. Bulan yang disebutkan dalam al-Qur'an maupun al-Hadis sebagai bulan yang penuh dengan keberkahan. Layaknya kita ingin menyambut tamu yang mulia di rumah kita, pastilah kita menyiapkan hal-hal yang terbaik agar tamu kita merasa nyaman dan hati kita merasa puas. Misalnya seperti menghidangkan makanan terbaik, menata dan menghias rumah sebaik mungkin, memakai baju terbaik, dan sebagainya. Begitu pun dengan bulan Ramadhan, maka seorang muslim harus menyiapkan yang terbaik untuk tamu istimewa tersebut.

Jama'ah Rahimakumullah

Terdapat setidaknya lima hal yang perlu kita siapkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan:

1. Persiapan Ruhiyyah
Maksudnya adalah hendaknya seorang muslim semakin berusaha menjaga hatinya dari segala perbuatan yang dapat merusak kesucian hati. Di antara amal yang dianjurkan adalah selalu menjaga niat agar tidak menyimpang. Betapa banyak amalan yang tampak sepele, namun menjadi besar pahalanya disebabkan niatnya yang benar. Sebaliknya, begitu banyak amalan berpahala besar namun menjadi tidak bernilai disebabkan niatnya yang salah. (رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية). Maka hendaknya setiap aktivitas baik kita diniatkan semata-mata hanya untuk mengharap ridha Allah swt, walaupun hanya sekedar menyingkirkan duri di jalan atau memberi minum hewan.

2. Persiapan 'Amaliyyah
Maksudnya adalah hendaknya seorang muslim menyusun rencana apa saja target yang ingin dicapai selama bulan Ramadhan. Misalnya ingin khatam membaca 30 juz al-Qur'an, atau memberi makan 100 porsi kepada yatim piatu, berkunjung kepada saudara, tidak bolong salat tarawih, melunasi hutang orang yang kesulitan, dan sebagainya. Target-target tersebut perlu disiapkan agar menjadi panduan dan motivasi kita selama berada di dalam bulan Ramadhan. Supaya Ramadhan tidak berlalu secara sia-sia. Karena belum tentu kita bisa berada pada Ramadhan selanjutnya, maka harus dimaksimalkan dengan menyusun dan merealisasikan target-target yang sudah kita buat jauh-jauh hari.

3. Persiapan 'Ilmiyyah
Maksudnya adalah hendaknya seorang muslim membekali dirinya dengan ilmu seputar Ramadhan dengan sebanyak mungkin. Baik itu ilmu sebelum, ketika, ataupun sesudah Ramadhan. Hendaknya muslim menguasai ilmu-ilmu tersebut. Hal ini sebagai wujud bahwa kita betul-betul senang dan gembira menyambut Ramadhan dan tidak ingin melewatinya begitu saja. Agar setiap detik yang kita lewati menjadi lebih bermakna dan indah. Contoh dari ilmu-ilmu tersebut adalah, apa saja yang dianjurkan dan dilarang selama sedang beribadah puasa, apa ibadah lanjutan setelah kita melewati bulan Ramadhan, dsb. Dengan ilmu yang mapan, kita akan semangat dan menikmati untuk menjalankan perintah Allah, dan semangat untuk menjauhi larangan Allah SwT.

4. Persiapan Maliyyah
Maksudnya adalah persiapan harta. Islam memiliki banyak sekali jenis ibadah yang menuntut kita untuk mengeluarkan harta. Misalnya adalah infaq, naik haji, atau ibadah zakat fitri yang khusus berada dalam bulan Ramadhan. Jika kita tidak memiliki harta, maka kita tidak akan bisa untuk beribadah tersebut. Oleh karena itu sedari sekarang kita persiapkan, kita sisihkan setiap rupiah yang kita miliki agar dapat kita salurkan selama bulan Ramadhan kepada yang membutuhkan. Baik itu dalam skema zakat, infaq, ataupun shadaqah.

5. Persiapan Jasadiyyah
Maksudnya adalah hendaknya seorang muslim itu senantiasa menjaga kebugaran atau kesehatan tubuhnya. Di antara hal yang bisa kita lakukan adalah menjaga pola makan kita dengan baik, supaya makan dengan teratur dan sehat. Kemudian menjaga pola tidur kita. Memperbanyak konsumsi air mineral dan mengurangi minuman manis. Dan yang tidak kalah penting adalah olahraga setidaknya 20-30 menit perhari. Semua itu kita lakukan dengan niat beribadah kepada Allah, dan tentunya dengan harapan agar kita selalu berada dalam kondisi yang prima selama menjalani ibadah di bulan Ramadhan.

Jama'ah Rahimakumullah

Inilah setidaknya lima persiapan yang dapat kita lakukan sejak sekarang. Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan terbaik kita. Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang didoakan malaikat Jibril dan diaminkan Nabi saw, yaitu golongan orang yang rugi, ketika ia menjumpai Ramadhan, tapi tidak diampuni dosa-dosanya oleh Allah SwT. Na'uzubillah min zalik.

Teks Khutbah Jumat #4: Memaksimalkan Ibadah Bulan Suci Ramadhan dengan Ilmu

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, satu-
satunya Tuhan yang wajib dan berhak disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan berbeda dengan segala sesuatu, yang tidak membutuhkan kepada tempat dan arah serta Mahasuci dari bentuk dan ukuran.

Hadirin rahimakumullah..

Tidak lama lagi, kita akan memasuki Ramadhan 1446 H. Jum'at, 29 Syaban atau 28 Februari yang akan datang setelah terbenamnya matahari, jika hilal berhasil dilihat, maka Sabtu, 1 Maret kita mulai berpuasa. Sebaliknya, jika Jum'at, 28 Februari hilal tidak berhasil dilihat, maka hitungan bulan Sya'ban digenapkan menjadi 30 hari, dan kita akan memulai puasa Ramadhan pada hari Ahad, 2 Maret 2025.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Ibadah puasa memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ibadah-ibadah yang lain. Di antaranya adalah seperti yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Maknanya: "Setiap amal baik anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu kebaikan balasannya adalah sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta'ala berfirman (dalam hadits qudsi): "Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu milik-Ku dan Aku langsung yang akan membalasnya, orang yang berpuasa meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku." (HR Muslim)

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa puasa adalah milik Allah. Kenapa puasa disebut secara khusus sebagai milik Allah? Padahal semua kebaikan dan seluruh ibadah pada hakikatnya adalah milik Allah. Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud karena puasa adalah ibadah yang jauh dari niat riya' (melakukan ketaatan bukan karena Allah, tapi karena ingin mendapatkan pujian dari sesama hamba).

Ketika seseorang sedang berpuasa, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah dan diri orang yang berpuasa itu sendiri. Berbeda dengan ibadah-ibadah lain yang tampak dan bisa dilihat oleh banyak orang, ibadah puasa tidaklah tampak dan tidak dapat ditampakkan kepada orang lain kecuali dengan ucapan dari pelakunya bahwa ia sedang berpuasa.

Tidak bisa dibedakan antara orang yang tidak makan karena diet dengan orang yang tidak makan karena berpuasa. Orang yang sedang berpuasa, sangat mudah baginya menyelinap ke dapur untuk makan dan minum, misalkan, lalu keluar dari dapur dan menampakkan diri seakan-akan ia masih berpuasa. Kenapa hal itu tidak ia lakukan? Karena tujuannya bukan ingin mendapatkan pujian dari sesama hamba. Yang dia harapkan semata-mata hanyalah ridla Alah ta'ala.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dikatakan dalam hadits yang khatib baca di atas bahwa Allah-lah langsung yang akan membalas ibadah puasa. Kenapa puasa dikhususkan sebagai ibadah yang dibalas langsung oleh Allah padahal hakikatnya Allah-lah yang membalas semua kebaikan? Jika kebaikan yang lain disebutkan pelipatgandaan pahalanya menjadi sepuluh hingga tujuh ratus, pahala puasa adalah pengecualian. Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, hal itu dikarenakan begitu besarnya pahala puasa dan begitu agung keutamaannya.

Hanya Allah yang tahu seberapa besar pelipatgandaan pahala bagi orang yang berpuasa. Dengan melakukan puasa, seseorang bisa jadi dibebaskan secara total dari siksa api neraka. Akan tetapi, meskipun ibadah puasa memiliki kekhususan tertentu, para ulama menegaskan bahwa perbuatan yang paling utama setelah iman adalah shalat lima waktu.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua hijriah. Mulai Nabi diwahyukan pertama kali hingga tahun kedua hijriah, umat Islam belum diwajibkan berpuasa. Itu artinya, selama kurang lebih 15 tahun terhitung mulai Nabi menerima wahyu yang pertama sampai tahun kedua Hijriyah, umat Islam belum diwajibkan berpuasa. Nabi berdakwah di Makkah selama kurang lebih 13 tahun. Setelah itu beliau diperintah berhijrah ke Madinah. Jadi pemberlakuan syariat Islam pada waktu itu berjalan secara bertahap dan tidak diberlakukan semuanya dalam satu waktu yang sama. Sebelum wafatnya, Rasulullah shallallau 'alaihi wasallam berpuasa Ramadhan sebanyak 9 kali Ramadhan.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah...

Puasa Ramadhan termasuk ma'luum minadiin bidh-dlaruurah. Artinya, hukum wajibnya puasa Ramadhan diketahui oleh semua lapisan, baik ulama maupun orang-orang awam. Karenanya, orang yang mengingkari hukum wajibnya puasa Ramadhan, maka ia kafir, kecuali orang yang baru masuk Islam. Atau orang muslim, tapi ia tinggal di daerah pedalaman yang jauh dari para ulama. Sedangkan orang yang tidak berpuasa Ramadhan tanpa sabab syar'i (sebab yang dibenarkan oleh syariat), dan ia meyakini wajibnya puasa Ramadhan, maka ia tidak kafir, tapi termasuk pelaku dosa besar (fasiq). Ia diwajibkan mengqadla' (mengganti) puasa yang ia tinggalkan.

Saudara-saudaraku rahimakumullah,

Sebelum kita melakukan perkara apapun, termasuk puasa Ramadhan, maka kita diwajibkan untuk mengetahui ilmunya. Wajib bagi kita untuk mengaji dan mempelajari syarat sah puasa, syarat wajib puasa, rukun puasa, perkara yang membatalkan puasa dan hal-hal lain yang berkaitan dengan puasa. Imam al Bukhari dalam Shahih al Bukhari menyebutkan salah satu bab dengan judul Bab al 'Ilmi Qabla al Qaul wa al 'Amal. Hal ini menunjukkan bahwa kita diwajibkan untuk mempelajari ilmu terkait dengan apa yang akan kita ucapkan dan apa yang akan kita perbuat.

Menjelang Ramadhan, marilah kita mempelajari ilmu yang berkaitan dengan puasa dan berbagai ibadah yang akan kita lakukan selama Ramadhan. Jangan sampai kita tergolong sebagai orang-orang yang disebutkan dalam sabda Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ (رواه ابن ماجه والنسائي وابن حيان وغيرهم)

Maknanya: "Betapa banyak orang yang menghidupkan malam dengan bentuk-bentuk ibadah tapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali bergadang (tidak tidur di malam hari), dan betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga" (HR Ibnu Majah, an Nasa'i, Ibnu Hibban dan lainnya)

Seseorang yang melakukan puasa lalu tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga, bisa jadi karena akidahnya tidak benar, niatnya tidak benar atau tata caranya tidak benar. Akidah yang benar, niat yang benar dan tata cara melakukan puasa dengan benar, ketiganya tidak dapat diketahui kecuali dengan belajar dan mengaji ilmu agama.
Hadirin yang dirahmati Allah.

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

Teks Khutbah Jumat #5: Fikih Seputar Ramadhan yang Penting Diketahui

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Takwa adalah sebaik-baik bekal untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat. Oleh karena itu, khatib mengawali khutbah yang singkat ini dengan wasiat takwa. Marilah kita semua selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala dengan melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan segenap larangan.

Hadirin sidang jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Hukum wajibnya puasa Ramadhan termasuk ma'lum min ad-din bi adh-dharurah, artinya hukumnya telah sama-sama diketahui oleh ulama dan orang awam dari kalangan umat Islam. Kewajiban puasa Ramadhan telah tetap dengan dalil Alquran, hadits dan ijma'. Allah ta'ala berfirman:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ

Maknanya: "Karena itu, barang siapa di antara kamu mendapati bulan itu, maka berpuasalah" (QS. Al-Baqarah: 185)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَّاإلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ
وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وصَوْمِ رَمَضَانَ (رواهُ البُخاريُّ)

Maknanya: "Islam dibangun atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada sesuatu apapun yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan puasa Ramadhan" (HR al-Bukhari)

Karenanya, barang siapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, maka ia telah mendustakan agama dan melepaskan diri dari agama yang mulia ini, kecuali apabila ia baru masuk Islam atau seperti orang yang tumbuh hidup di daerah yang jauh dari kaum Muslimin dan ia belum pernah mendengar sama sekali hukum wajibnya puasa Ramadhan.

Seseorang yang dipertemukan oleh Allah dengan bulan Ramadhan dan dimudahkan berpuasa Ramadhan, hendaklah ia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini. Karena puasa adalah ketaatan dan kewajiban yang agung.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Dikarenakan seorang muslim tidak boleh melakukan sesuatu sehingga ia mengetahui apa yang Allah halalkan dan haramkan darinya, maka dalam kesempatan khutbah yang singkat ini, khatib akan menyampaikan beberapa hal penting seputar hukum-hukum puasa. Hal itu agar setiap dari kita mengetahui apa yang dibutuhkan terkait ilmu tentang ibadah yang mulia ini.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah...

Puasa Ramadhan diwajibkan atas setiap Muslim yang mukallaf (baligh dan berakal). Tidak sah dilakukan oleh perempuan yang haid dan nifas, dan diwajibkan bagi keduanya mengqadla'. Boleh bagi musafir untuk tidak berpuasa Ramadhan dengan syarat-syarat tertentu meskipun tidak terasa berat baginya berpuasa. Dibolehkan juga untuk tidak berpuasa bagi orang sakit yang ada harapan sembuh tapi ia merasa berat berpuasa dengan rasa berat yang tidak tertahankan, dan wajib baginya mengqadla'.

Perempuan hamil dan menyusui yang tidak berpuasa karena mengkhawatirkan janinnya; mengkhawatirkan gugurnya janin atau khawatir jika puasa maka air susunya berkurang sehingga membahayakan bayi, maka keduanya diwajibkan mengqadla' dan membayar fidyah dalam madzhab Syafi'i. Sedangkan dalam madzhab Hanafi, keduanya tidak diwajibkan fidyah. Adapun jika keduanya mengkhawatirkan kondisi dirinya, bukan kondisi janin atau bayinya, maka hanya diwajibkan qadla'. Sedangkan orang yang tidak kuat puasa disebabkan usianya yang telah renta atau sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh, maka wajib baginya fidyah.

Fidyah adalah ukuran satu mudd, yakni satu cakupan dua telapak tangan ukuran sedang dari makanan pokok daerah setempat. Dalam madzhab Hanafi, orang yang tua renta yang tidak mampu berpuasa dibolehkan dikeluarkan fidyahnya berupa nominal uang senilai makanan siang dan makanan malam yang mengenyangkan untuk setiap hari yang ia tinggalkan puasanya.

Dalam madzhab Hanafi pula, sah jika fidyah itu dibayarkan di awal bulan Ramadhan untuk satu bulan ke depan, atau diakhirkan pembayarannya di akhir bulan untuk satu bulan yang telah lewat. Hadirin, hal seperti itu yang dilakukan oleh banyak kalangan pada masa sekarang adalah sesuai dengan pendapat ini. Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah keluasan dan kelonggaran bagi umat islam.

Hadirin rahimakumullah,

Puasa memiliki dua rukun. Pertama, niat. Tempatnya adalah hati. Karenanya tidak disyaratkan untuk diucapkan dengan lisan. Niat diwajibkan pada setiap hari bulan Ramadhan karena setiap hari adalah ibadah tersendiri seperti halnya dua shalat yang dipisah dan disela dengan salam. Dalam puasa wajib, disyaratkan tabyit dan ta'yin dalam niat.

Tabyit adalah menjatuhkan niat di malam hari, yaitu waktu antara maghib dan dan terbitnya fajar. Sedangkan ta'yin adalah menentukan apakah puasa yang dilakukan adalah puasa Ramadhan, nadzar atau kaffarah misalkan. Barang siapa yang tidak berniat puasa Ramadhan di malam hari sampai masuk waktu shalat shubuh, maka ia tidak boleh makan dan minum serta wajib menahan diri dari seluruh perkara yang membatalkan puasa sampai tiba waktu maghrib, dan wajib baginya mengqadla'nya. Hal ini dalam madzhab Syafi'i.

Sedangkan dalam madzhab Hanafi, bagi orang yang belum niat puasa Ramadhan di malam hari, sah baginya berniat setelah terbitnya fajar dan sebelum pertengahan hari selama ia belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum. Dan dalam madzhab Maliki, niat puasa Ramadhan cukup dilakukan di malam pertama Ramadhan untuk satu bulan seluruhnya.

Rukun kedua, menahan diri dari seluruh perkara yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Di antara hal yang membatalkan puasa adalah setiap benda yang masuk ke rongga badan melalui lubang yang terbuka. Lubang-lubang di badan yang dikategorikan terbuka adalah hidung, mulut, qubul, dubur dan telinga. Mata tidak termasuk. Karenanya, tidak batal puasa seseorang yang meneteskan obat tetes mata di matanya.

Begitu juga tidak batal seseorang yang tidur sepanjang hari. Tidak batal puasa seseorang yang makan atau minum dalam keadaan lupa dan seseorang yang memasukkan obat ke tubuhnya melalui lubang yang tidak terbuka, seperti suntik di otot atau urat kulit. Sedangkan memasukkan obat melalui lubang kelamin atau lubang dubur, maka hal itu membatalkan puasa.

Batal puasa seseorang yang muntah dengan sengaja, yaitu seseorang yang ingin memuntahkan apa yang ada di perutnya dengan memasukkan jarinya atau bulu ayam ke dekat tenggorokannya. Adapun seseorang yang muntah dengan tidak disengaja, maka puasanya tidak batal dengan syarat ia tidak menelan kembali air ludahnya yang bercampur dengan muntahan. Tidak batal puasa seseorang yang menelan ludahnya yang murni (tidak bercampur dengan apapun) selama air ludah masih berada di dalam mulut.

Sedangkan apabila ludah itu bercampur dengan darah atau bercampur dengan sesuatu yang dimasukkan ke dalam mulut, lalu ditelan, maka hal itu membatalkan puasa. Batal puasa juga seseorang yang dengan sengaja menelan kembali dahak yang telah melewati makhrajح , artinya telah sampai ke dalam mulut. Adapun jika belum melewati makhrajح lalu ditelan kembali, maka tidak membatalkan puasa.

Di antara perkara yang membatalkan puasa adalah riddah. Riddah adalah memutus iman dengan ucapan, perbuatan atau keyakinan. Oleh karena itu, barang siapa yang melakukan salah satu jenis riddah: ucapan, perbuatan atau keyakinan, maka ia telah keluar dari Islam, menjadi sirna seluruh amal kebaikannya dan batal puasanya. Riddah adalah seperti mencaci Allah, mencaci agama Islam, mencaci salah satu malaikat atau nabi.

Begitu juga melecehkan syiar-syiar Allah, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Begitu pula mendustakan sesuatu yang telah tetap dalam syariat. Barang siapa yang melakukan riddah, maka ia telah keluar dari agama, batal puasanya, wajib baginya kembali ke dalam Islam dengan dua kalimat syahadat, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib jika ia berada di siang hari Ramadhan, dan wajib baginya mengqadla' puasanya langsung pada hari kedua bulan Syawal.

Terakhir, khatib menasihatkan kepada kita semua untuk menuntaskan belajar ilmu agama yang fardhu ain seputar puasa kepada guru yang terpercaya dan bersanad sehingga puasa kita betul-betul berlandaskan ilmu dan sesuai dengan tuntunan syariat. Jangan sampai salah seorang di antara kita termasuk mereka yang disebutkan oleh baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits berikut ini:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَرُبَّ قَاِئمٍ ليَسْ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا الَّسهَرُ (رواه النسائي وغيره)

Maknanya: "Betapa banyak orang yang berpuasa, ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar, dan betapa banyak orang yang melakukan qiyam al-lail, ia tidak memperoleh apa-apa kecuali bergadang" (HR. An-Nasa'ai dan lainnya)

Hadirin yang dirahmati Allah...

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

Teks Khutbah Jumat #6: Ramadhan yang Kurindukan

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Nada-nada indah dalam pujian dan syukur, senantiasa kita haturkan kepada Dzat yang tiada pernah lupa dan tidur, Dialah Allah Al Ghafur yang senantiasa melimpahkan kasih sayang dan mengampuni dosa kesalahan kita tanpa pamrih dan ukur.

Selawat dan salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Baginda nan mulia, sebaik-baik insan manusia, sang pelita yang membawa umat dari jaman gelap gulita menuju terang benderang kehidupan beragama, Rasulullah Muhammad saw. Nabi dan Rasul tercinta.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Hari ini Jumat II, 8 Maret 2024 M/27 Syakban 1445 H. Aura Ramadan begitu meriah. Seolah-olah semua makhluk telah siap menerima kehadiran tamu agung nan penuh berkah. Bukan hanya untuk umat Islam, teapi juga untuk semesta alam. Lihat dan saksikanlah, sepanjang mata memandang, pengurus DKM sedang berbenah mempersiapkan masjid menjadi lebih asri dan megah, bersih-bersih laundri karpet dan sajadah, mengganti cat hingga persiapan tenda tambahan untuk para jemaah.

Sementara itu tak mau ketinggalan, pusat-pusat perbelanjaan menata ulang displai dan penampilan. Aneka lampu lentera warna-warni bergelantungan. Dihias berbagai artifisial ketupat dan unta pajangan, tak lupa aneka kurma pun bermunculan. Sementara di depan pintu masuk, aneka kue dan biskuit dipamerkan, dijaga beraneka warna dan rasa sirup yang menggiurkan. Sajadah dan sarung dibentangkan, mukena dan busana muslim berdatangan meriahkan datangnya Ramadan, berburu berkah dan keuntungan.

Penduduk muslim pun menyibukkan diri, rumah-rumah direnovasi, pagar dan tanaman hias diganti, tak lupa mempercantik meja dan kursi. Sungguh inilah Ramadan yang kurindukan.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Aneka persiapan menyambut Ramadan di negeri tercinta, penuh dengan nilai-nilai sakral agama dan budaya. Di sana ada filosofi dan makna, sesuai dengan sejarah latar belakang dan kearifan lokal masyarakatnya. Pada masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, dikenal budaya nyekar, nyadran, padusan, dugderan, dandangan, dan megengan. Pada masyarakat Sunda, ada cucurak, papadangan, botram, dan munggahan. Pada masyarakat Aceh ada tradisi meugang, Sumatera Barat dengan tradisi malamang dan balimau, Riau dengan tradisi pacu jalur, Bali dengan tradisi megibung, Betawi dengan tradisi nyorog, dan aneka tradisi lain sesuai daerah masing-masing.

Semua itu bukanlah bidah dalam agama, namun merupakan tradisi budaya yang menunjukkan ekspresi kegembiraan mereka menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang mulia. Maka tak elok kita menyalahkan dan melarangnya. Merasa paling benar dan jumawa. Biarlah berjalan sesuai tradisi masa. Menjadi bagian seni budaya, bukan agama. Maka meskipun berbeda mari kita hormati dan kita jaga, demi utuhnya persaudaraan di nusantara. Bahkan boleh jadi berpotensi wisata, yang akan memperkaya khazanah budaya bangsa. Tugas kita adalah merawat dan mengawalnya, dari potensi intervensi asing yang melanggar etika, dogma, norma dan agama. Meluruskan tanpa mematahkan. Mencuci tanpa mencaci.

Begitu pula para salafus saleh pendahulu umat ini, mereka adalah sebaik-baik generasi setelah Rasulullah saw. yang senantiasa merindukan Ramadan dalam doa-doanya, dan kerinduan itu semakin memuncak ketika masuk bulan Rajab, maka mereka berdoa Allahumma barik lana fi Rajaba wa Syakbana waballighna Ramadana. Mereka begitu siap menyambut Ramadan segenap jiwa raga, bahkan ketika Ramadan berlalu mereka menangis antara sedih dan gembira, sedih karena berpisah dengan tamu istimewa, gembira karena berkesempatan menikmati indahnya Ramadan. Salah satu generasi tabi'in, Ma'la bin Fadhal bercerita bahwa dahulu sahabat Rasulullah berdoa sejak enam bulan sebelum masuk Ramadan, agar Allah menyampaikan umur mereka ke bulan suci nan penuh berkah itu. Lalu enam bulan setelah Ramadhan berlalu, mereka berdoa pula agar Allah terima semua amal ibadah mereka dengan ucapan:

أللهمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

Ya Allah, sampaikan aku ke Ramadan dalam keadaan selamat. Ya Allah, selamatkan aku saat Ramadan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima. (HR. at-Thabrani).

Para sahabat menyambut Ramadan dengan lampu-lampu nan indah, masjid-masjid yang terang benderang, anak-anak yatim dan dhuafa yang tersantuni dan berkecukupan, maka nilai-nilai keteladanan ini yang seharusnya kita lestarikan.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Menyambut ramadan tentu bukan dengan seremoni belaka, namun setidaknya ada persiapan dan perbekalan khusus agar Ramadan tak berlalu tanpa makna. Setidaknya ada 4 (empat) bekal yang perlu kita siapkan, yakni:

1. Bekal Ilmu
2. Bekal Fisik
3. Bekal Finansial
4. Bekal Sabar

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Bekal Ilmu, Ramadan adalah bulan ibadah. Maka marilah kita jadikan setiap detiknya bernilai ibadah. Namun tiada ibadah yang lebihindah melainkan atas dasar ilmu. Ilmu menuntun kita dari dungu menjadi tahu. Ilmu akan menjadikan mengubah sesuatu yang susah menjadi mudah. Ilmu akan mengubah yang lambat menjadi cepat. Ilmu akan mengubah yang biasa menjadi berharga. Maka hiasai Ramadan ini dengan ilmu, agar puasa kita puasa orang yang berilmu, salat kita, tilawah kita, sedekah kita, sahur kita dan seluruh amalan kita adalah amalan orang yang berilmu. Ilmu membawa kita kepada ketenangan lahir dan batin. Beramal dengan ilmu membuat kita puas, sebaliknya beramal tanpa ilmu menjadikan kita was-was. Allah berfirman dalam Al Qur'an,

﴿ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ ٩ ﴾ ( الزمر/39: 9)

Katakanlah (Nabi Muhammad), "Apakah sama orang-orang yang berilmu, dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?" Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran. (Az-Zumar/39: 9)

Bekal Fisik, Ramadan sebagai bulan ibadah, tentu memerlukan kesiapan fisik yang kuat, kesehatan yang prima, agar kita mampu berpuasa tanpa lapar dahaga, mampu salat tanpa pernah terlambat, mampu membaca Al Quran tanpa merasa keberatan, mampu tarawih dan witir tanpa tanpa kantuk dan khawatir. Terlebih Ramadan tahun ini bertepatan dengan bulan Maret, musim hujan menuju pancaroba. Butuh persiapan fisik agar tetap sehat walau hujan menerpa,tetap tegar meski terik siang hari menguras tenergi dan tenaga. Maka siapkan asupan makanan bergizi secara proporsional, ditambah suplemen vitamin dan aneka herbal lainnya.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Bekal Finansial, tidak menuntut kita untuk kaya, namun jika kita berkecukupan tentu akan menambah ketenangan dalam beribadah. Dengan harta kita bisa berderma, menunaikan zakat, infak dan sedekah kepada sesama. Maka carilah uang sebanyak-banyaknya untuk kebutuhan Ramadan yang mulia. Setiap rupiah kan berlipat ganda jika kita belanjakan di jalan yang diridaiNya. Bagi yang mampu silakan wisata religi, umrah dan ziarah ke makam Nabi. Umrah Ramadan berpahala tinggi, setara dengan ibadah haji. Hal ini sebagaimana sabda Nabi kepada sahabat wanita yang karena sualtu alasan tidak bisa berhaji:

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bekal Sabar, Ramadan adalah bulan ujian. Ujian dari segala ujian. Betapa banyak orang yang melewati Ramadan, namun tidak mendapatkan kebaikan. Bersabarlah dalam segala aspek. Bersabar mencari ilmu, bersabar dalam beramal, dan bersabar dalam dakwah. Sabar menghadapi berbagai macam ancaman, tantangan, halangan dan gangguan. Puncak kesabaran itu ketika kita rida dengan Allah, dan Allah pun rida dengan kita. Maka jika ada yang memancing kemarahan, katakan kita sedang puasa, ada yang mengajak kepada kemaksiatan, katakan kita sedang berpuasa. Bahkan meskipun tiada seorangpun yang tahu, sadari bahwa ada Allah yang Maha Tahu. Jangan sampai puasa kita tanpa menyisakan sedikitpun pahala, karena kebodohan dan kelalaian kita, sebagaimana Rasul bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang haram, juga berperilaku seperti perilaku orang-orang bodoh, maka Allah tidak butuh dengan puasanya dimana dia meninggalkan makanan dan minuman. (HR. Bukhari)

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Kita semua berharap kan bisa bertemu dengan Ramadan yang tinggal menghitung jari. Namun kita tak pernah tahu kapan umur terhenti. Kita tak pernah tahu kapan datangnya ajal, maka semakin perkuat doa dan harapan agar terkabul pertemuan kita dengan Ramadan yang dirindukan. Ramadan yang sama setiap tahunnya, namun senantiasa dirinkan karena keistimewaannya. Ramadan yang tak pernah membawa kecewa, Ramadan yang selalu hadir dengan suka cita penuh keberkahan dan bahagia. Semoga Allah pertemukan kita di salat tarawih malam pertama hingga purna, dan berjumpa kembali Ramadan Ramadan berikutnya.

Marilah kita berdoa agar Allah Yang Maha Kuasa senantiasa menjaga diri kita, menyelamatkan dari kejamnya fitnah dunia, melindungi lisan dari ucapan yang tak berguna, mencegah tangan dari tulisan yang membawa petaka. Melindungi indra dari perkara maksiat dan dosa.

Teks Khutbah Jumat #7: Amalan Baik di Akhir Bulan Syaban

Hadirin rahimakumullah,
Pada hari yang penuh berkah ini, khatib menyeru kepada jamaah Jumat sekalian, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Karena dengan takwa tersebut, kita diberikan jalan keluar setiap perkara yang kita hadapi. Dan dengan takwa juga kita dilimpahi rezeki yang tidak kita sangka-sangka. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat At-Thalaq Ayat 2 dan 3:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

Artinya: Siapa pun yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS At-Thalaq: 2-3).

Hadirin rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji milik Allah swt, Tuhan yang telah memberi kita kesehatan jasmani maupun ruhani, sehingga kita masih berjumpa dengan akhir bulan Sya'ban yang mulia ini, yakni bulan yang mulia dan penuh berkah.

Shalawat beserta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin rahimakumullah,
Pada hari ini, atas izin Allah kita mendapati akhir bulan Sya'ban. Satu bulan yang jatuh antara Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya'ban merupakan di antara bulan yang disebut khusus dalam doa Rasulullah sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ، وَشَعْبَانَ، وَبِلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya: Ya Allah, semoga Engkau beri keberkahan kepada kami dalam bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadhan.

Pada bulan kemarin, kita sudah melewati bulan Rajab, bulan bercocok tanam, sekarang pada bulan Sya'ban ini adalah bulan merawat, menyirami tanaman, dan beberapa hari lagi bertemu bulan Ramadha, yakni bulan memanen. Bagaimana kita bisa memanen dengan melakukan banyak ibadah-ibadah jika tidak kita mulai sejak kemarin dan kita rawat pada bulan Sya'ban sekarang ini.

Imam Dzun Nun al-Mishri mengatakan:

رَجَبٌ شَهْرُ الزَّرْعِ. وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ. وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْحَصَادِ. وَكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ. فَمَنْ ضَيَّعَ الزِّرَاعَةَ نَدِمَ يَوْمَ الْحَصَادِ

Artinya: Rajab adalah bulan menanam, Sya'ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen. Setiap orang akan memanen atas apa yang ia tanam. Barangsiapa yang menyia-nyiakan tanaman akan merugi di waktu panen.

Maka dari itu, di penghujung bulan Sya'ban ini marilah kita tetap istikamah berbuat baik, artinya selalu menyiram dan merawat amalan-amalan yang sudah kita rawat sejak awal Sya'ban, bahkan kita tanam sejak Rajab.

Meski berada di penghujung bulan Sya'ban, akan tetapi bulan tersebut masih memiliki banyak keutamaan, sehingga masih ada kesempatan bagi kita untuk memperbanyak amal kebaikan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan terus memperbanyak amalan baik hingga Ramadhan tiba.

Hadirin rahimakumullah,
Untuk tetap meningkatkan ibadah dan menjaga kualitas amalan baik kita di akhir Sya'ban, kita bisa melakukan beberapa amalan yang ringan, tetapi besar pahalanya:

1. Memperbanyak dzikir dan istighfar, memohon ampun kepada Allah agar kita memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang suci. Allah swt berfirman:

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

Artinya: Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin (QS An-Nisa: 103).

2. Menjaga dan meningkatkan kualitas shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah seperti hajat, tahajud, dhuha dan sebagainya.

3. Memperbanyak membaca dan merenungkan Al-Qur'an Bulan Sya'ban bisa menjadi awal yang baik untuk meningkatkan interaksi kita dengan Al-Qur'an agar terbiasa membacanya saat Ramadhan.

Membaca Al-Qur'an sendiri termasuk ibadah paling utama di antara ibadah-ibadah yang lain, sebagaimana yang diriwayatkan oleh an-Nu'man ibn Basyir:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

Artinya: Rasulullah saw bersabda, sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Al-Qur'an (HR al-Baihaqi).

4. Bersedekah dan membantu sesama Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan akan mendatangkan keberkahan dan melatih kedermawanan kita sebelum Ramadhan. Allah swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَاعَةٌ ۗوَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum datang hari (Kiamat) yang tidak ada (lagi) jual beli padanya (hari itu), tidak ada juga persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim (QS Al Baqarah ayat 254).

5. Menyambung silaturahmi memperbaiki hubungan dengan keluarga, sahabat, dan tetangga agar hati kita bersih saat memasuki Ramadhan. Rasulullah saw bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليصل رحمه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

Artinya: Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw ia bersabda, 'siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menjaga hubungan baik silaturahim dengan kerabatnya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam (HR Bukhari dan Muslim).

Hadirin rahimakumullah, Marilah kita manfaatkan akhir bulan Sya'ban ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita lalai sehingga masuk Ramadhan tanpa bekal. Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan dalam keadaan sehat, beriman, dan siap untuk beribadah dengan maksimal. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Teks Khutbah Jumat #8: Menyiapkan Diri Menuju Ramadhan

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT
Setiap ada perjumpaan, tentu juga memberikan pesan tentang perpisahan. Hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak terelakkan. Sama seperti Sya'ban ini yang sudah sampai di ujung bulan. Karenanya, mari manfaatkan sisa waktu yang ada dengan meningkatkan takwallah yakni menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang. Mudah-mudah di akhir bulan ini ibadah kita semakin membaik, amin ya rabbal alamin.

Jamaah Jumat yang Berbahagia
Di sisa bulan Sya'ban ini, marilah kita persiapkan diri menghadapi bulan Ramadhan, bulan paling mulia dari segala bulan. Bentuk persiapan itu tentunya boleh berbeda-beda. Bagi pedagang pakaian segeralah mengumpulkan modal dagangannya untuk menyambut bulan Ramadhan dan hari yang fitri.

Bagi pengusaha hendaklah segera mempersiapkan diri mengatur jadwal kerja yang tidak merusak khidmat bulan Ramadhan tetapi juga tidak mengurangi kwalitas produksi. Bagi para pengajar, guru dan dosen juga para ustadz, bersiaplah dengan materi seputar tema Ramadhan, mulai dari sisi fiqih, hikmah dan rahasia Ramadhan.

Namun bagi siapapun saja, hendaknya menyiapkan diri memasuki Ramadhan dengan bermuhasabah mengintrospeksi diri. Menghitung dan mengalkulasi amal yang telah dilakukan selama hidup hingga kini. Jikalau kita merasa amal baik lebih mendominasi dalam kehidupan kita, maka janganlah besar hati, karena itu menunjukkan buruknya amal hati kita. Dan biasanya perasaan tersebut (merasa diri baik) akan menyeret manusia dalam kehinaan dan ketakabburan. Ingatlah sebuah maqalah atau pesan yang menyatakan bahwa: Orang baik adalah merasa dirinya buruk, dan orang buruk adalah mereka yang mengaku dirinya baik.

Namun jika hasil kalkulasi itu menjadikan diri semakin merasa kurang baik, maka segeralah menambahkan berbagai amal kebaikan, selagi umur masih di kandung badan, semoga Allah Yang Maha Kuasa memanjangkan umur kita hingga menikmati bulan Ramadhan yang suci.

Jamaah Jumat Rahimakumullah
Para orang tua kita menyebutkan bulan Sya'ban dengan nama bulan ruwah, yang sangat identik dengan kata arwah. Sebenarnya kata ruwah atau arwah hanyalah sebagai penanda bahwa bulan Sya'ban adalah bulan paling tepat untuk mengingatkan manusia akan wacana akhirat mulai dari sakaraul maut, kematian, alam kubur dan alam akhirat.

Sesungguhnya mengenang kematian dengan datang ke kuburan atau mengirim doa arwahan adalah banyak faedahnya bagi kita yang masih ada umur di dunia. Karena hal itu bisa menyemangati diri meningkatkan dan melipatgandakan amal di bulan Ramadhan nanti, dan akan menambah rasa takut dalam diri hingga senantiasa menghindari segala dosa.

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT
Mengenai keadaan alam kubur, ada sebuah hikayat yang patut untuk disimak. Hikayat yang diceritakan melalui Abu Bakar al-Ismaili bahwasanya Sayyidina Utsman bin Affan tidak meneteskan air mata ketika digambarkan kepedihan neraka dengan segala siksanya. Dirinya juga tidak menangis ketika dijabarkan mengenai kedahsyatan hari kiamat. Demikian juga tetap kuat mendengarkan gambaran tentang kehidupan di akhirat.

Akan tetapi ia menangis ketika diterangkan tentang kehidupan di alam kubur. Kenapa bisa demikian? Sayyidina Utsman menjawab: Jika saya berada di dalam neraka, saya masih bersama-sama manusia. Jika saya di hari kiamat nanti, saya juga masih bersama-sama dengan manusia lainnya. Tapi jika saya di dalam kuburan, maka saya sendirian tidak ada teman yang menemani. Sedangkan kunci kuburan itu ada pada malaikat Israfil yang hanya akan membukanya ketika kiamat tiba.

Demikianlah Sayyidina Utsman gentar dengan kehidupan di dalam kubur. Karena sesungguhnya kuburan itu adalah salah satu lubang dari lubang neraka atau tempat yang menyengsarakan bagi mereka yang hidupnya penuh dengan dosa. Dan menjadi bagian dari taman surga bagi mereka yang beramal salih. Demikianlah hadits Rasulullah SAW

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما القبر روضة من رياض الجنة أو حفرة من حفر النار .

Artinya: Maka kuburan adalah serambi akhirat atau miniatur akhirat yang penuh dengan pembalasan amal.

Dengan demikian, jika amal kita di dunia baik, maka kuburan akan menjadi surga yang bersahabat. Tetapi jika amal di dunia penuh maksiat, maka kuburan menjadi neraka dan musuh yang sangat jahat. Hal itu sebagaimana hadits Rasulullah SAW berikut:

خرج الترمذي من حديث عبد الله بن الوليد الوصافي عن عطيه عن أبى سعيد قال : دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم مصلاّه فرأى أناسا كأنهم يكثرون ، أو يضحكون فقال : " أما إنكم لو أكثرتم من ذكر هادم اللذات لأشغلكم عما أرى الموت فأكثروا ذكر هادم اللذات ، فإنه لم يأت يوم على القبر إلا يتكلم فيه فيقول : أنا بيت الغربة ، أنا بيت الوحدة ، أنا بيت التراب ، أنا بيت الدود فإذا دفن العبد المؤمن قال له القبر ، مرحباً وأهلاً : إنك كنت لأحب من يمشي على ظهري ، فإذا وليتك اليوم وصرت إلي فسترى صنيعي بك ، فيتسع له مد بصره ، ويفتح له باب إلى الجنة ، وإذا دفن العبد الكافر أو الفاجر قال القبر : لا أهلاً ولا مرحباً ، أما إن كنت لأبغض من يمشي على ظهره فإذا وليتك اليوم وصرت إلي فسترى صنيعي بك قال : فيلتئم عليه القبر حتى تلتقي وتختلف أضلاعه " ، قال فأشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بأصابعه وأدخلها بعضها في بعض قال : " ويقيض له سبعين تنيناً لو أن واحداً منهم نفخ على الأرض ما أنبتت شيئاً ، ما بقيت الدنيا فتنهشه وتخدشه حتى يفضي به إلى الحساب

Artinya: Bersumber dari Abi Said al-Khudry RA, bahwa Rasulullah SAW pernah masuk ke mushalanya. Di situ bertemu dengan orang-orang yang sedang tertawa. Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada mereka: Andaikan kalian mau mengingat kematian, tentu saja akan menyibukkanmu tentang kedahsyatan apa yang pernah aku lihat, maka perbanyaklah mengingat kematian karena setiap hari kuburan berkata: Aku adalah rumah pengasingan, aku adalah rumah kesendirian, aku adalah rumah tanah, aku adalah rumah cacing. Maka jikalau yang dikebumikan adalah orang mukmin kuburan akan menyambutnya: 'Marhaban ahlan wa sahlan, engkau adalah salah satu orang yang ku cinta dari sekian orang yang berjalan di atas punggungku. Sekarang engkau telah berada di dalam kekuasaanku, maka engkau akan tahu bagaimana caraku memperlakukanmu'. Kemudian kuburan akan memperluas rongganya untuk mayat seolah-olah panjang dan luas sepanjang penglihatannya, dan juga di buka pintu surga baginya. Dan apabila yang dikebumikan adalah orang kafir atau orang yang durhaka, maka kuburan itu menyambutnya: 'La marhaban wala ahlan wala sahlan, engkau adalah salah satu orang yang aku benci dari sekian orang yang berjalan di atas punggungku. Sekarang kau berada di bawah kekuasaanku. Sekarang kau akan tahu sendiri apa yang akan aku lakukan kepadamu'. Maka kuburan pun menghimpitnya sehingga tulang-tulang rusuknya akan patah berlawanan. Kemudian periwayat mengatakan: 'Lalu Rasulullah SAW berisyarat dengan memasukkan jari-jari tangan ke dalam jari-jari tangan yang lain'. (dan kemudian Rasulullah SAW melanjutkan perkataannya). Kemudian Allah SWT mengirimkan ke dalam kubur itu tujuh puluh naga yang andaikan salah satu naga itu mengembus bumi, niscaya bumi tidak akan menumbuhkan tumbuhan selamanya. Tujuh puluh naga tersebut lalu mengais-ngais dan mencakar-cakarnya sehingga kuburan menjadi kosong sampai besok hari hisab.

Demikianlah perlakuan kuburan bagi mayat yang diceritakan Rasulullah SAW kepada kita sebagai pelajaran agar selalu ingat akan mati. Karena dengan demikian akan menjadiakan kita bersemangat menjalankan ibadah dan amal salih. Jamaah Jumat Rahimakumullah Lalu bagaimanakah jika ternyata memang amal-amal buruk kita terlalu banyak? Maka bertobatlah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat innallaha yuhibbut tawwabiina wa yuhibbul mutathahhiriin.

Demikianlah khutbah Jumat kali ini, semoga sisa bulan Sya'ban ini dapat kita manfaatkan sebagai media muhasabah yang nantinya kita gunakan sebagai bahan pertimbangan menindak lanjuti kehidupan kita di bulan Ramadhan. Allahumma bariklana fi Rajaba wa Sya'bana wa ballighna Ramadhan.

Itulah 8 teks khutbah Jumat akhir Syaban yang sekaligus berisikan persiapan menyambut Ramadan. Semoga bermanfaat!



(sto/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads