Fakta-fakta Oven Pengering Ompreng SPPG Krajan Banyumas Meledak

Round-Up

Fakta-fakta Oven Pengering Ompreng SPPG Krajan Banyumas Meledak

Tim detikJateng - detikJateng
Jumat, 06 Feb 2026 07:30 WIB
Tim Inafis Polresta Banyumas melakukan penyelidikan kejadian meledaknya mesin pengering ompreng SPPG Krajan, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Kamis (5/2/2026).
Tim Inafis Polresta Banyumas melakukan penyelidikan kejadian meledaknya mesin pengering ompreng SPPG Krajan, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Kamis (5/2/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Solo -

Ledakan terjadi di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Krajan, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Sumbernya berasal dari oven pengering ompreng.

Peristiwa itu terjadi hari Kamis (5/2) kemarin sekitar pukul 10.40 WIB. Sejumlah pekerja di SPPG itu mengalami luka-luka dan ditangani medis.

Warga Sekitar Panik

Kepala Desa Krajan, Muflichudin, mengatakan suara ledakan terdengar sampai ke kantor desa yang jaraknya sekitar 50 meter dari lokasi dapur SPPG. Dia juga dihubungi warga dari Krajan Wetan yang berjarak 1 km dari sumber suara itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jarak kantor desa saya sekitar 50 meteran. Sangat keras suaranya," kata Muflichudin saat ditemui wartawan, Kamis (5/2/2026).

"Terjauh dari Krajan Wetan, (suara ledakannya) satu kilometer juga sampai, karena ada yang telepon saya," ucapnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Muflichudin, saat kejadian, aktivitas warga di sekitar lokasi cukup ramai. Bahkan, di seberang dapur SPPG tengah berlangsung kegiatan posyandu dan pelayanan kesehatan.

"Kami sempat lari karena banyak kegiatan di situ. Betul, ada posyandu, ada ILP di sekitar sini. Posyandu itu di rumah seberangnya SPPG," jelasnya.

Di lokasi posyandu tersebut, lanjut Muflichudin, terdapat tenaga kesehatan yang sedang melayani warga. Ketika ledakan terjadi, orang-orang di sana lari berhamburan.

"Di rumah posyandu itu kan ada pelayanan kesehatan. Kebetulan warga lagi cek kesehatan. Akhirnya kan pada lari semua untuk menyelamatkan diri," ungkapnya.

Akibat Overheat

Kapolsek Pekuncen AKP Slamet Husein mengatakan, pihaknya langsung mendatangi lokasi usai menerima laporan adanya suara ledakan keras dari area dapur SPPG.

"Jadi kami dari kepolisian setelah mendapatkan informasi adanya SPPG yang mengeluarkan suara keras, dan setelah dilihat memang ada kejadian," kata Slamet Husein saat ditemui wartawan di lokasi, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Kamis (5/2/2026).

Kemudian berdasarkan hasil pengecekan awal di lokasi, ledakan diduga dipicu oleh karena alat itu mengalami panas berlebih atau overheat.

"Sekilas sementara, ada alat pemanggang untuk pengeringan dari ompreng itu terlalu panas, akhirnya meledak," jelasnya.

22 Korban Luka

Menurut Slamet, jumlah korban luka ringan yang terdata sekitar 22 orang. Mayoritas di antaranya sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.

"Kalau sementara yang luka sekitar 22 orang, tapi sudah bisa pulang kembali," ungkapnya.

Sementara itu, ada dua korban yang masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh petugas medis. Dari data desa setempat, yang mengalami luka lebih serius hingga harus dirujuk ke rumah sakit diketahui bernama Siti Marlina (33) dan Asiati (35).

"Jadi jumlahnya dua orang yang kakinya masih diperiksa lebih lanjut. Ada yang lecet, kemudian ada yang satunya lagi merasa mukanya agak panas," kata Slamet.

Penjelasan Pihak SPPG

Kepala SPPG Krajan, Elvin Subekti menegaskan sumber ledakan bukan berasal dari tabung gas. Menurutnya, yang meledak adalah mesin pengering ompreng.

"Yang meledak itu oven pengering ompreng, bukan gas. Gasnya utuh semua," tegasnya.

Ia menjelaskan, penggunaan mesin pengering memang harus melalui mekanisme uji coba dengan pengaturan suhu tertentu. Bahkan, sebelumnya juga sudah ada anjuran kehati-hatian terkait penggunaan mesin ompreng.

"Mekanisme itu memang harus trial dulu, ada temperaturnya. Dari hari Senin juga sudah ada anjuran kalau sudah ada mesin ompreng meledak," katanya.

Dapur SPPG tersebut belum beroperasi dan mendistribusikan MBG. Sehingga saat peristiwa terjadi, kegiatan yang dilakukan adalah persiapan sebelum operasional.

"Dapur SPPG Krajan ini belum operasional, jadi kegiatan hari ini itu kegiatan trial dan bersih-bersih dapur untuk persiapan operasional. Belum melayani pendistribusian makanan," ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam kegiatan tersebut seluruh relawan dari berbagai divisi diterjunkan. Mulai dari divisi pemorsian, divisi masak, divisi cuci ompreng, divisi kebersihan dan keamanan, hingga asisten lapangan.

"Relawan berangkat semua dari divisi pemorsian, divisi masak, divisi cuci ompreng, divisi kebersihan dan keamanan, sama asisten lapangan juga berangkat semua untuk bersih-bersih persiapan," ujarnya.

Menurut Elvin, khusus tim ompreng, kegiatan difokuskan untuk melepas plastik pelindung serta mencuci ompreng yang sebelumnya belum digunakan.

"Untuk ompreng sendiri ini kan belum dicuci dan plastiknya juga belum dilepas. Jadi kegiatan hari ini lepas plastik dan mencuci ompreng," jelasnya.

Dia menegaskan kegiatan di saat kejadian merupakan uji coba ketiga. Pada uji coba pertama, tim sudah menggunakan mesin pengering ompreng dan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) sesuai anjuran. Uji coba kedua juga telah menggunakan ompreng.

Akibat insiden tersebut, sejumlah fasilitas mengalami kerusakan. Di antaranya mesin pengering ompreng, bagian atap bangunan, serta dinding di bagian belakang mesin.

"Kerusakan alatnya itu pengering ompreng, bangunan bagian ternit, bagian belakang mesin tembok retak, kalsibot jebol. Alat-alat di sekitar mesin aman," jelas Elvin.

Ia memperkirakan total kerugian materiil akibat peristiwa itu mencapai sekitar Rp 60 juta.




(alg/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads