Sejumlah SPPG di Pekalongan Setop Operasional gegara Uang Belum Cair

Sejumlah SPPG di Pekalongan Setop Operasional gegara Uang Belum Cair

Robby Bernardi - detikJateng
Rabu, 04 Feb 2026 13:21 WIB
SPPG Kulu Raya Pekalongan setop operasional karena duit anggaran dari BGN belum cair, Rabu (4/2/2026).
SPPG Kulu Raya Pekalongan setop operasional karena duit anggaran dari BGN belum cair, Rabu (4/2/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng
Pekalongan -

Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Pekalongan terpaksa setop beroperasi. Hal ini karena dapur makan bergizi gratis (MBG) itu belum menerima dana dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Salah satu yang terdampak yakni SPPG Kulu Raya di wilayah Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. SPPG yang dikelola Yayasan Cahaya Inspirasi Dunia ini menghentikan operasionalnya sementara.

"Mulai hari ini kami belum bisa kegiatan untuk masak atau kirim MBG ke sekolah-sekolah. Karena proses pencairan dari BGN ada perubahan sistem, sehingga kami harus mengikuti," ujar Ketua Yayasan Cahaya Inspirasi Dunia, Sutriyanto saat ditemui detikJateng di kantornya, Rabu (4/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sutriyanto mengatakan pada tahun lalu pihak yayasan masih bisa memberikan dana talangan ketika dana belum cair. Namun, tahun ini hal itu tidak lagi diperbolehkan.

"Kalau tahun 2025 lalu ada keterlambatan pencairan, biasanya yayasan yang nalangi. Saya sebagai kepala yayasan kadang nalangi, tapi sekarang sudah tidak bisa. Apa adanya uang kas di SPPG atau dapur, ya itu yang dijalankan. Kalau habis, ya harus setop," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Sutriyanto menjelaskan perubahan skema anggaran pada 2026 turut memengaruhi proses pencairan. Jika sebelumnya pencairan dilakukan per dua minggu dengan pengajuan proposal tiap bulan, kini proposal diajukan sekaligus untuk satu tahun.

"Sekarang satu tahun langsung. Awal tahun kita ajukan untuk satu tahun 2026. Prosesnya butuh waktu," katanya.

Ia menyebut pihak sekolah memahami kondisi tersebut. Untuk stok bahan makanan, dapur MBG memang menerapkan sistem belanja harian sehingga tidak ada bahan tersisa saat operasional berhenti.

Namun, diakui Rabu pagi (4/2) ada satu bahan yang telanjur dikirim akibat miskomunikasi.

"Tadi ada tahu yang sudah telanjur terkirim, ya kita terima. Tahunya kita bagi-bagi gratis ke warga sekitar," jelasnya.

Secara finansial, menurutnya, kondisi ini bukan kerugian besar. Namun, cukup mengurangi pemasukan yayasan.

"Bukan rugi, tapi labanya berkurang. Uang sewa tidak masuk ke yayasan. Upah harian karyawan juga otomatis berhenti. Mereka tidak mendapat insentif saat dapur berhenti," ungkapnya.

Setiap hari, satu dapur SPPG yang dikelolanya melayani sekitar 3.290 porsi MBG untuk 13 sekolah. Total ada tiga SPPG di bawah yayasan tersebut, dan seluruhnya kini berhenti beroperasi. Belum diketahui jelas sampai kapan hal ini terjadi.

"Tapi, hal ini terjadi di beberapa SPPG kok, tidak di sini saja," katanya.

Siswa Diminta Bawa Bekal

Dampak penghentian sementara program MBG juga dirasakan sekolah penerima manfaat. Salah satunya, di SDN 01 Kulu, Karanganyar.

Kepala SDN 01 Kulu, Lucia Prabawati, mengatakan pihaknya sebelumnya telah menerima pemberitahuan melalui grup pesan singkat dari PIC SPPG.

"Infonya dari kemarin, kemudian kami share ke orang tua lewat chat. Isinya MBG sementara berhenti menunggu info selanjutnya," ujar Lucia kepada detikJateng saat ditemui di kantornya.

Belum ada informasi sampai kapan penghentian berlangsung. Pihak sekolah pun mengimbau siswa membawa bekal dari rumah dan tetap sarapan.

"Anak-anak membawa bekal. Intinya sarapan dari rumah. Kadang anak-anak bilang nanti dapat MBG, jadi tidak sarapan. Tadi pagi saya tanya, sudah sarapan belum? Mereka bilang sudah," tuturnya.




(ams/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads