Banjir bertahan hingga dua pekan lebih di sejumlah titik di Kabupaten Pekalongan. Salah satu yang terparah yakni di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto. Kini, warga mulai mengeluh soal bantuan.
Genangan air di lokasi ini masih setinggi 50-60 cm. Tinggi air sedikit lebih surut dibanding pertama banjir pada Sabtu (17/1).
Warga setempat mulai mengeluhkan lambannya penanganan terhadap korban banjir. Salah satu yang membuat pemerintah dinilai tak maksimal adalah karena jatah bantuan makan yang tak rutin datang untuk korban banjir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penanganan pemerintah kurang beres. Bantuan (makan) memang ada, tapi tidak selalu. Paling datang Pagi, sore sudah tidak ada," ujar Turjaun (48), warga Mulyorejo kepada detikJateng Senin (2/2/2026).
Turjaun saat ini bertahan di rumahnya. Dia mengaku tak betah di pengungsian karena kondisi terlalu padat.
"Di pengungsian sudah banyak orang. Mau buang air saja susah, sulit MCK. Jadi banyak yang tidak betah," katanya.
Ia berharap banjir segera surut. Turjaun juga meminta agar tanggul pemicu banjir diperbaiki secara permanen agar banjir tidak terus berulang.
"Penginnya tanggul itu cepat ditangani, ditinggikan bagus lagi kalau dipermanen," harapnya.
Penampakan banjir di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan di hari ke-15, Senin (2/2/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng |
Hal senada disampaikan Yoyok (33). Ia menyebut warga sudah berulang kali meminta tanggul diperkuat agar desanya tak kebanjiran.
"Sudah beberapa tahun minta tanggul besar dan pompa air yang layak. Tapi sampai sekarang belum terwujud. Malah tiap tahun banjirnya makin besar," kata Yoyok.
1.200 Orang Masih Mengungsi
Sekda Pekalongan, M Yulian Akbar, menyebut hingga kini masih ada sekitar 1.200 orang yang mengungsi. Jumlah itu jauh berkurang dibanding saat puncak banjir beberapa waktu lalu.
"Kalau yang terdampak sejak puncak banjir memang total ada 60 ribu jiwa, tapi yang mengungsi tidak segitu. Puncak pengungsian terbanyak 2.000. Data terakhir sekitar 1.200 yang tersebar di sejumlah pengungsian," katanya saat dihubungi.
Dalam masa penanganan darurat ini, pihaknya selalu berupaya untuk memenuhi logistik para pengungsi. Sejumlah dapur umum telah didirikan untuk memastikan hal tersebut.
"Kita lakukan penanganan darurat, termasuk memastikan kebutuhan logistik pengungsi tercukupi," kata M Yulian Akbar.
"Untuk mengurangi genangan dengan penyediaan pompa portabel, pengoperasian rumah pompa, serta dukungan pompa mobile dari Provinsi Jawa Tengah, termasuk bantuan BBM," ungkapnya.
Pihaknya juga terus mengoperasikan 11 pompa portabel untuk membantu 3 rumah pompa di wilayah tersebut. 2 unit pompa dari Pemprov Jateng juga masih terus dioperasikan.
"Intensitas hujan yang tinggi, membuat air sungai Sengkarang melimpas. Tanggul sisi kanan sepanjang 1,6 kilometer yang terdampak, tiga wilayah desa, mencakup Desa Mulyorejo, Tegaldowo, dan Karangjompo," ucapnya.
Butuh Rp 1 Miliar untuk Perkuat Tanggul
Menurutnya, genangan air di wilayah utara Pantura Tirto disebabkan limpasan Sungai Sengkarang. Sedangkan banjir di Desa Jeruksari, disebabkan karena limpasan sungai Bremi Meduri dan limpasan tanggul penahan rob di Pabean.
"Intensitas hujan yang tinggi, membuat air sungai Sengkarang melimpas. Tanggul sisi kanan sepanjang 1,6 kilometer yang terdampak, tiga wilayah desa, mencakup Desa Mulyorejo, Tegaldowo, dan Karangjompo," ucapny
Pihaknya berencana untuk memperkuat dan meninggikan tanggul, dengan sandbag. Anggaran Rp 1 miliar disiapkan.
"Kita lakukan pergeseran anggaran daerah guna mendukung penanganan bencana, khususnya infrastruktur ini. Untuk penanganan jangka menengah, kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp 1 miliar," Kata Yulian Akbar.
"Anggaran tersebut direncanakan untuk peninggian tanggul menggunakan tanah uruk serta pengamanan dengan konstruksi sasak," imbuhnya.

